Explain pure red cell aplasia.

Medical Advisory BoardAll articles are reviewed for accuracy by our Medical Advisory Board
Educational purpose only • Exercise caution as content is pending human review
Article Review Status
Submitted
Under Review
Approved

Last updated: September 19, 2026 • View editorial policy

Have a follow-up question?

Our Medical A.I. is used by practicing medical doctors at top research institutions around the world. Ask any follow up question and get world-class guideline-backed answers instantly.

Pure Red Cell Aplasia (PRCA)

PRCA adalah sindrom kegagalan sumsum tulang yang jarang terjadi, ditandai dengan anemia normositik normokromik berat, retikulositopenia berat, dan tidak adanya atau berkurangnya prekursor eritroid di sumsum tulang, sementara sel darah putih dan trombosit tetap normal. 1, 2, 3

Definisi dan Karakteristik Klinis

PRCA merupakan gangguan yang dapat bersifat kongenital (Diamond-Blackfan anemia) atau didapat (acquired). Pada bentuk acquired, kondisi ini dapat primer (idiopatik/autoimun) atau sekunder terhadap berbagai penyakit atau agen lain 3.

Kriteria Diagnostik Utama:

  • Anemia normositik normokromik dengan hemoglobin yang menurun drastis
  • Retikulositopenia berat (jumlah retikulosit absolut <10 x 10⁹/L) 1
  • Sumsum tulang menunjukkan tidak ada atau sangat berkurangnya eritroblas, dengan mielopoiesis dan megakariopoiesis yang normal 2, 3
  • Jumlah sel darah putih dan trombosit normal - ini penting untuk membedakan dari aplasia sumsum tulang lainnya 1

Patofisiologi

Sebagian besar kasus PRCA didapat melibatkan disregulasi sel T, seringkali dengan klonalitas dan/atau mutasi STAT3 pada sel CD8+ T 4. Mekanisme patogenetik melibatkan:

  • Respons sitotoksik autoreaktif terhadap prekursor eritroid
  • Produksi antibodi penetralisir terhadap eritropoietin (terutama pada PRCA terkait ESA)
  • Spektrum respons yang dimediasi sel T dari poliklonal hingga monoklonal 5

Klasifikasi dan Etiologi

PRCA Kongenital:

  • Diamond-Blackfan anemia: Ribosomopati herediter yang biasanya muncul pada tahun pertama kehidupan (median 3 bulan), dengan 90% kasus simptomatik sebelum usia 1 tahun 6

PRCA Acquired Primer:

  • Idiopatik (autoimun)
  • Terkait dengan kelainan limfoproliferatif (large granular lymphocytic leukemia/LGLL)
  • Myelodysplastic syndrome dengan gambaran PRCA 3

PRCA Acquired Sekunder - Penyebab Utama:

  1. Infeksi Parvovirus B19 - terutama pada pasien immunocompromised 7, 3
  2. Thymoma - asosiasi klasik yang memerlukan evaluasi 7, 5
  3. Kelainan limfoproliferatif: CLL, LGLL 3
  4. Penyakit autoimun: Systemic lupus erythematosus, penyakit kolagen vaskular lainnya 3, 8
  5. Obat-obatan: Terutama ESA (erythropoiesis-stimulating agents) yang diberikan subkutan 1, 9
  6. Post-COVID-19: Komplikasi pasca-infeksi yang jarang namun semakin dikenali 10

PRCA Terkait ESA - Pertimbangan Khusus

Evaluasi untuk PRCA harus dimulai pada setiap pasien yang menerima ESA lebih dari 4 minggu dan mengalami: 1

  • Penurunan hemoglobin yang tiba-tiba dan cepat (≥0.5 g/dL/minggu)
  • Kebutuhan transfusi >1 unit sel darah merah per minggu
  • Jumlah sel darah putih dan trombosit normal
  • Jumlah retikulosit absolut <10 x 10⁹/L

Jika PRCA terkait ESA dikonfirmasi, semua terapi ESA harus dihentikan segera dan permanen. 1, 9 Antibodi dapat bereaksi silang dengan semua produk ESA, sehingga pasien tidak boleh beralih ke produk ESA lain 9. Insiden PRCA terkait ESA sekitar 0.5 kasus per 10.000 tahun paparan pasien, terutama dengan pemberian subkutan 1.

Pendekatan Diagnostik

Evaluasi Awal Wajib:

  1. Hitung darah lengkap dengan diferensial dan jumlah retikulosit absolut
  2. Aspirasi dan biopsi sumsum tulang - menunjukkan tidak ada/sangat berkurangnya eritroblas dengan mielopoiesis dan megakariopoiesis normal
  3. Skrining Parvovirus B19 - PCR atau serologi IgM/IgG
  4. CT scan dada - untuk menyingkirkan thymoma 5
  5. Panel autoimun - ANA, anti-dsDNA untuk SLE
  6. Imunoglobulin serum dan elektroforesis protein
  7. Flow cytometry - untuk mendeteksi LGLL atau kelainan limfoproliferatif lainnya
  8. Mutasi STAT3 pada sel CD8+ T - prediktor respons terapi yang penting 4, 11

Pitfall Diagnostik yang Harus Dihindari:

  • Jangan mengabaikan kemungkinan PRCA pada pasien dewasa tua dengan anemia onset baru - dapat disalahartikan sebagai MDS 6
  • Pastikan menyingkirkan defisiensi nutrisi, hemolisis, dan penyebab anemia lainnya sebelum diagnosis 7
  • Pada pasien dengan hipogammaglobulinemia, pertimbangkan PRCA bahkan tanpa penyebab sekunder yang jelas 5

Strategi Terapi

Terapi Spesifik Berdasarkan Etiologi:

Parvovirus B19-associated PRCA:

  • Imunoglobulin intravena (IVIG) adalah terapi pilihan 7, 5
  • Efektif pada pasien immunocompromised dan hipogammaglobulinemia 5

Thymoma-associated PRCA:

  • Thymectomy wajib dilakukan namun hanya menghasilkan remisi berkepanjangan pada sebagian kecil kasus 7
  • Sebagian besar pasien memerlukan imunosupresi tambahan pasca-thymectomy

PRCA Primer/Idiopatik - Algoritma Terapi:

Lini Pertama (Pilihan Terbaik): 5, 11

  • Cyclosporine A (CsA) dengan atau tanpa kortikosteroid taper

    • Tingkat respons keseluruhan: 69.9% (95% CI: 61.5-77.9%) 11
    • Target konsentrasi: 150-250 ng/mL 7
    • Kombinasi CS + CsA menunjukkan efikasi superior (76.1%) dibanding monoterapi 11
    • Tingkat respons lini pertama (65.9%) lebih baik daripada lini kedua (45.2%) 11
  • Kortikosteroid monoterapi memberikan respons yang lebih rendah dan jarang menghasilkan remisi berkelanjutan 7

Lini Kedua - Pilihan Berdasarkan Kondisi Terkait:

  1. Cyclophosphamide oral: Terutama efektif pada LGLL-associated PRCA 7, 5

    • Tingkat respons: 59.2% (95% CI: 42.3-75.2%) 11
  2. Alemtuzumab: Sangat aktif pada kasus terkait LGLL, terutama pada penyakit refrakter 5

  3. Rituximab: Efektif pada kasus refrakter, termasuk post-COVID-19 PRCA 10

    • Dapat menghasilkan remisi lengkap pada kasus yang gagal dengan IVIG, kortikosteroid, dan siklosporin
  4. Sirolimus (mTOR inhibitor): Pilihan yang menjanjikan untuk kasus refrakter 4, 7

    • Uji klinis prospektif acak sedang berlangsung
  5. Bortezomib: Pilihan salvage potensial, terutama pada kasus terkait discrasia sel B 5

  6. Anti-thymocyte globulin (ATG): Pilihan salvage lainnya 5

Pertimbangan Penting Mutasi STAT3:

Pasien dengan mutasi STAT3 positif menunjukkan tingkat respons yang jauh lebih tinggi terhadap imunosupresi (86.1%) dibandingkan dengan mutasi STAT3 negatif (37.5%). 11 Ini menekankan pentingnya pengujian genetik untuk memprediksi respons terapi.

Terapi Suportif:

  • Transfusi sel darah merah untuk mempertahankan hemoglobin yang adekuat
  • Chelation besi jika pasien menerima >20 unit transfusi untuk mencegah kelebihan besi 7
  • Independensi transfusi adalah tujuan utama terapi 7

Terapi Pemeliharaan:

Beberapa studi retrospektif menunjukkan pentingnya terapi pemeliharaan untuk menghindari ketergantungan transfusi darah, yang dikaitkan dengan prognosis yang lebih buruk 4.

Prognosis dan Monitoring

  • Pasien biasanya memerlukan median 2 terapi berbeda untuk mencapai remisi 5
  • Periode observasi median sekitar 40 bulan dalam studi 5
  • Respons terhadap terapi bervariasi berdasarkan etiologi:
    • PRCA primer: 66.7% 11
    • LGLL-associated: 51.5% 11
    • Thymoma-associated: 69.0% 11

Nuansa Klinis Penting

PRCA dapat tumpang tindih dengan kondisi lain dan memerlukan diferensiasi yang cermat. Pada pasien dengan hiposeluleritas sumsum tulang, PRCA dapat menyerupai anemia aplastik, namun PRCA mempertahankan jumlah sel darah putih dan trombosit yang normal 12. Pada pasien dengan MDS, beberapa kasus dapat menunjukkan gambaran morfologis PRCA 3.

Kewaspadaan khusus diperlukan pada pasien yang menerima ESA - terutama melalui rute subkutan - karena risiko PRCA yang dimediasi antibodi. Rute intravena memiliki imunogenisitas yang lebih rendah 1.

Professional Medical Disclaimer

This information is intended for healthcare professionals. Any medical decision-making should rely on clinical judgment and independently verified information. The content provided herein does not replace professional discretion and should be considered supplementary to established clinical guidelines. Healthcare providers should verify all information against primary literature and current practice standards before application in patient care. Dr.Oracle assumes no liability for clinical decisions based on this content.