What is the relationship between attention-deficit/hyperactivity disorder (ADHD), nocturnal enuresis, snoring, and mouth breathing?

Medical Advisory BoardAll articles are reviewed for accuracy by our Medical Advisory Board
Educational purpose only • Exercise caution as content is pending human review
Article Review Status
Submitted
Under Review
Approved

Last updated: October 8, 2026 • View editorial policy

Have a follow-up question?

Our Medical A.I. is used by practicing medical doctors at top research institutions around the world. Ask any follow up question and get world-class guideline-backed answers instantly.

Hubungan Kuat antara ADHD, Ngompol, Ngorok, dan Mouth Breathing

Terdapat hubungan yang signifikan antara ADHD, enuresis nokturnal (ngompol), ngorok, dan mouth breathing—semuanya merupakan manifestasi dari sleep-disordered breathing (SDB) yang tidak terdiagnosis atau tidak diobati pada anak-anak. 1, 2

Mekanisme Hubungan

Sleep-disordered breathing (SDB) adalah kondisi yang mencakup spektrum gangguan dari ngorok sederhana hingga obstructive sleep apnea (OSA). SDB ditandai dengan pola pernapasan abnormal saat tidur, termasuk ngorok, mouth breathing, dan jeda napas 3. Kondisi ini menyebabkan gangguan tidur yang berdampak pada fungsi neurokognitif dan perilaku di siang hari.

Manifestasi Klinis yang Saling Terkait:

Gejala Malam Hari:

  • Ngorok (≥3 malam/minggu)
  • Mouth breathing saat tidur
  • Pernapasan yang terlihat berat
  • Enuresis nokturnal (ngompol), terutama enuresis sekunder 2
  • Posisi tidur dengan leher hiperekstensi

Gejala Siang Hari:

  • Gejala mirip ADHD: hiperaktivitas, inatensi, impulsivitas 1
  • Prestasi sekolah menurun
  • Masalah perilaku dan mood
  • Kantuk berlebihan di siang hari (meskipun pada anak lebih jarang dibanding dewasa) 2

Bukti Ilmiah Terkini

Studi meta-analisis tahun 2014 menunjukkan hubungan medium antara gejala ADHD dan SDB (Hedges' g = 0.57, p = 0.000001) 4. Yang lebih penting, adenotonsilektomi mengurangi gejala ADHD secara signifikan pada 2-13 bulan pasca-operasi (Hedges' g = 0.43, p < 0.001) 4.

Penelitian terbaru tahun 2025-2026 memperkuat temuan ini:

  • ADHD berkorelasi dengan 78% dari 27 gejala SDB, dengan "mouth breathing malam hari" dan "terbangun di malam hari" sebagai gejala yang paling terkait 5
  • Anak dengan PNE menunjukkan tingkat gejala ADHD yang lebih tinggi (50.0% vs 20.0% kontrol), abnormalitas terkait tidur termasuk hipertrofi tonsil (28.9%), hipertrofi adenoid (25.0%), ngorok dan mouth breathing (16.4%) 6
  • Hubungan genetik yang signifikan antara ADHD dan OSA (P = 2.45E-28), dengan analisis Mendelian randomization menunjukkan individu dengan ADHD memiliki risiko lebih tinggi mengalami OSA (OR 1.09,95%CI: 1.01-1.17) 7

Algoritma Evaluasi Klinis

Langkah 1: Identifikasi Gejala Kunci

Pada anak dengan salah satu kondisi berikut, evaluasi untuk kondisi lainnya:

  • ADHD → skrining untuk ngorok, mouth breathing, ngompol
  • Ngompol (terutama enuresis sekunder) → tanyakan tentang ngorok, mouth breathing, gejala ADHD
  • Ngorok/mouth breathing → evaluasi untuk ADHD dan ngompol

Langkah 2: Pemeriksaan Fisik Spesifik

  • Ukuran tonsil dan adenoid (grading 0-4+) 8
  • Adenoidal facies (wajah khas dengan mulut terbuka)
  • Micrognathia/retrognathia
  • Palatum tinggi
  • Status berat badan (underweight atau overweight) 2

Langkah 3: Pertimbangan Polysomnography (PSG)

PSG harus dilakukan jika anak memiliki:

  • Obesitas
  • Down syndrome
  • Kelainan kraniofasial
  • Gangguan neuromuskular
  • Penyakit sickle cell
  • Mukopolisakaridosis 3

PSG juga dipertimbangkan ketika:

  • Terdapat ketidaksesuaian antara ukuran tonsil dan keparahan gejala SDB 9
  • Gejala ADHD, prestasi sekolah buruk, atau masalah perilaku yang tidak jelas penyebabnya 10
  • Enuresis nokturnal pada anak ≥10 tahun 10

Langkah 4: Manajemen Berdasarkan Temuan

Jika ditemukan hipertrofi adenotonsilar dengan gejala SDB:

  • Adenotonsilektomi adalah terapi lini pertama 2
  • Terbukti memperbaiki: gejala ADHD, enuresis, prestasi sekolah, kualitas hidup, dan fungsi neurokognitif 9, 8

Jika tidak ada hipertrofi adenotonsilar:

  • Pertimbangkan terapi lain untuk SDB
  • Evaluasi penyebab ADHD atau enuresis lainnya

Peringatan Penting

  1. Jangan mengabaikan gejala tidur pada anak dengan ADHD - hingga 80% OSA tidak terdiagnosis pada populasi umum 1

  2. Laporan orang tua tentang ngorok bisa tidak akurat jika mereka tidak mengamati anak saat tidur di paruh kedua malam, ketika REM sleep (dan OSA) paling berat 9

  3. Pasien dengan ADHD harus menjalani skrining SDB sebelum memulai medikasi ADHD jika terdapat komorbid SDB 4

  4. Enuresis sekunder (setelah minimal 6 bulan kontinensia) lebih mengindikasikan SDB dibanding enuresis primer 2

  5. Anak dengan gejala ADHD ringan dan SDB signifikan mungkin mengalami perbaikan gejala ADHD setelah pengobatan SDB tanpa memerlukan medikasi ADHD 4

Implikasi Praktis

Pendekatan multidisiplin sangat penting: evaluasi oleh dokter anak, THT, dan spesialis tidur dapat mengoptimalkan hasil. Pengobatan SDB yang tepat waktu dapat mencegah konsekuensi jangka panjang pada perkembangan neurokognitif, kardiovaskular, dan metabolik 1.

References

Guideline

clinical practice guideline: polysomnography for sleep-disordered breathing prior to tonsillectomy in children.

Otolaryngology--head and neck surgery : official journal of American Academy of Otolaryngology-Head and Neck Surgery, 2011

Guideline

clinical practice guideline: tonsillectomy in children.

Otolaryngology--head and neck surgery : official journal of American Academy of Otolaryngology-Head and Neck Surgery, 2011

Guideline

clinical practice guideline: tonsillectomy in children (update).

Otolaryngology--head and neck surgery : official journal of American Academy of Otolaryngology-Head and Neck Surgery, 2019

Professional Medical Disclaimer

This information is intended for healthcare professionals. Any medical decision-making should rely on clinical judgment and independently verified information. The content provided herein does not replace professional discretion and should be considered supplementary to established clinical guidelines. Healthcare providers should verify all information against primary literature and current practice standards before application in patient care. Dr.Oracle assumes no liability for clinical decisions based on this content.