Penyebab Gangguan Gait pada Anak dengan Kekuatan Otot Normal
Pada anak dengan kekuatan otot normal yang mengalami gangguan gait, penyebab utamanya adalah disfungsi serebelum (ataksia), gangguan sensorik (proprioseptif atau vestibular), gangguan fungsional neurologis, atau kelainan struktural pada sistem saraf pusat yang tidak melibatkan kelemahan otot primer. 1
Kategori Penyebab Berdasarkan Onset
Onset Akut (dalam jam hingga hari)
Gangguan gait akut pada anak paling sering disebabkan oleh:
- Ataksia postinfeksi serebelum - penyebab tersering (sekitar 50% kasus ataksia akut di unit gawat darurat) 1
- Serebellitis infeksius akut atau acute disseminated encephalomyelitis (ADEM) - bersama-sama dengan ataksia postinfeksi menyumbang 33,6% dari total kasus 1
- Tumor otak (terutama fossa posterior) - menyumbang 11,2% kasus ataksia akut 1
- Intoksikasi atau paparan toksin - dapat menyebabkan disfungsi serebelum tanpa kelemahan otot 1
- Stroke iskemik serebelum 1
- Trauma (jika ada riwayat) 1
Onset Intermiten/Episodik
- Migrain dengan gejala vestibular 1
- Benign paroxysmal positional vertigo 1
- Gangguan metabolik intermiten 1
Onset Kronik Nonprogresif
Onset Kronik Progresif
- Penyebab genetik/herediter - prevalensi lebih tinggi di negara dengan konsanguinitas tinggi 1
- Lesi fossa posterior yang berkembang menyebabkan disfungsi serebelum bertahap 1
Mekanisme Patofisiologi Berdasarkan Lokasi
Ataksia Serebelum
- Ataksia trunkal - khas untuk patologi vermis serebelum 1
- Manifestasi: ketidakseimbangan, gait tidak stabil, dismetria, disinergia 1
Ataksia Sensorik
- Disfungsi kolumna dorsalis - terdeteksi dengan tes Romberg positif 1
- Neuropati perifer yang melibatkan serabut besar bermielin (membawa sensasi vibrasi dan posisi) 2
Disfungsi Vestibular
- Gait lurching yang dipicu oleh rotasi kepala 1
Gangguan Fungsional Neurologis
- "Pseudoataksia" - gangguan fungsional dengan temuan inkonsisten dan inkongruen pada pemeriksaan 1, 3
- Diagnosis berdasarkan temuan klinis positif, bukan hanya eksklusi 3
Pendekatan Diagnostik Algoritmik
Langkah 1: Tentukan Durasi Gejala
- Akut (<72 jam): Pikirkan infeksi, postinfeksi, toksin, iskemik
- Subakut (>1 minggu): Pertimbangkan tumor, ADEM
- Kronik (>2 bulan): Evaluasi untuk genetik, malformasi, atau lesi struktural progresif 1
Langkah 2: Identifikasi Tipe Ataksia
- Tes Romberg: Positif → ataksia sensorik (proprioseptif)
- Ataksia trunkal: Patologi vermis serebelum
- Gait lurching dengan rotasi kepala: Disfungsi vestibular 1
Langkah 3: Cari Tanda Penyerta
- Abnormalitas pupil: Intoksikasi vs kompresi nervus kranialis III 1
- Tortikolis atau resistensi gerakan kepala/leher: Patologi craniocervical junction, kompresi medula spinalis, atau tumor fossa posterior 1
- Nistagmus, dismetria, disdiakokkinesia: Disfungsi serebelum 1
Langkah 4: Pencitraan Awal
- MRI otak adalah modalitas pilihan untuk evaluasi struktural 1
- CT scan berguna untuk kecurigaan etiologi infeksius akut 1
Peringatan Penting
Jangan mengabaikan kemungkinan tumor fossa posterior - meskipun ataksia postinfeksi lebih umum, tumor otak menyumbang >11% kasus ataksia akut dan memerlukan intervensi segera 1.
Gangguan fungsional neurologis adalah diagnosis positif, bukan diagnosis eksklusi - cari inkonsistensi spesifik pada pemeriksaan, jangan hanya menyingkirkan penyebab organik 1, 3.
Hipotonia dapat meniru ataksia - meskipun bukan ataksia sejati, dapat menyebabkan abnormalitas gait dan postur yang serupa 1.