What is the relationship between Ruxolitinib (Jakafi) and tuberculosis?

Medical Advisory BoardAll articles are reviewed for accuracy by our Medical Advisory Board
Educational purpose only • Exercise caution as content is pending human review
Article Review Status
Submitted
Under Review
Approved

Last updated: June 18, 2025View editorial policy

Personalize

Help us tailor your experience

Which best describes you? Your choice helps us use language that's most understandable for you.

From the FDA Drug Label

OPZELURA contains ruxolitinib Ruxolitinib belongs to a class of medicines called Janus kinase (JAK) inhibitors. JAK inhibitors are medicines that affect your immune system. JAK inhibitors can lower the ability of your immune system to fight infections Some people have had serious infections while taking JAK inhibitors by mouth, including tuberculosis (TB), and infections caused by bacteria, fungi, or viruses that can spread throughout the body.

Your healthcare provider should watch you closely for signs and symptoms of TB during treatment with OPZELURA.

Ruxolitinib dapat meningkatkan risiko infeksi serius, termasuk tuberkulosis (TB), karena dapat melemahkan sistem kekebalan tubuh. Oleh karena itu, penyedia layanan kesehatan harus memantau pasien secara ketat untuk tanda-tanda dan gejala TB selama pengobatan dengan ruxolitinib 1.

From the Research

Ruxolitinib (Jakafi) meningkatkan risiko infeksi tuberculosis (TB) dan reaktivasi, sehingga memerlukan skrining TB sebelum memulai pengobatan. Pasien harus diuji untuk infeksi tuberculosis laten (LTBI) menggunakan tes kulit tuberkulin atau asai pelepasan interferon-gamma sebelum memulai ruxolitinib. Jika pasien menguji positif untuk TB laten, pengobatan yang tepat untuk LTBI harus diselesaikan sebelum memulai ruxolitinib atau, dalam kasus darurat, secara bersamaan dengan ruxolitinib di bawah pemantauan yang ketat. Ruxolitinib adalah inhibitor JAK1/JAK2 yang menekan fungsi kekebalan dengan menghambat sinyal cytokine, terutama jalur interferon-gamma yang sangat penting untuk mengendalikan infeksi mycobakterial. Efek imunosupresif ini menjelaskan mengapa pasien yang menggunakan ruxolitinib memiliki kerentanan yang meningkat terhadap TB. Selama pengobatan, pasien harus dipantau untuk tanda dan gejala TB aktif, termasuk batuk persisten, demam, penurunan berat badan, dan keringat malam. Jika TB berkembang selama terapi ruxolitinib, obat tersebut mungkin perlu dihentikan sementara untuk memulai pengobatan TB, dengan keputusan untuk melanjutkan berdasarkan penilaian klinis dan kondisi pasien secara keseluruhan 2, 3.

Beberapa studi telah melaporkan kasus reaktivasi TB pada pasien yang menggunakan ruxolitinib, menekankan pentingnya skrining TB sebelum memulai pengobatan 4, 5. Oleh karena itu, skrining TB yang tepat dan pengobatan LTBI jika diperlukan adalah langkah penting dalam mencegah reaktivasi TB pada pasien yang menggunakan ruxolitinib. Penting juga untuk memantau pasien secara ketat selama pengobatan untuk mendeteksi gejala TB aktif dan mengambil tindakan yang tepat jika diperlukan. Dengan demikian, dapat mengurangi risiko morbiditas dan mortalitas terkait TB pada pasien yang menggunakan ruxolitinib.

Professional Medical Disclaimer

This information is intended for healthcare professionals. Any medical decision-making should rely on clinical judgment and independently verified information. The content provided herein does not replace professional discretion and should be considered supplementary to established clinical guidelines. Healthcare providers should verify all information against primary literature and current practice standards before application in patient care. Dr.Oracle assumes no liability for clinical decisions based on this content.

Have a follow-up question?

Our Medical A.I. is used by practicing medical doctors at top research institutions around the world. Ask any follow up question and get world-class guideline-backed answers instantly.