From the Research
Hubungan antara gagal ginjal kronis dan myelofibrosis sangat kompleks dan dapat mempengaruhi kualitas hidup pasien. Pasien dengan myelofibrosis, suatu gangguan sumsum tulang yang ditandai dengan skar sumsum tulang dan produksi sel darah yang abnormal, sering mengalami komplikasi ginjal karena beberapa mekanisme. Produksi asam urat yang berlebihan pada myelofibrosis dapat menyebabkan kerusakan ginjal melalui deposisi kristal dan peradangan. Selain itu, sel darah yang abnormal pada myelofibrosis dapat langsung menginfiltrasi ginjal, mengganggu fungsi normal. Sebaliknya, gagal ginjal kronis dapat memperburuk myelofibrosis dengan menyebabkan anemia melalui produksi eritropoietin yang berkurang, menciptakan siklus di mana sumsum tulang semakin stres.
Beberapa penelitian telah membahas tentang hubungan antara gagal ginjal kronis dan myelofibrosis, seperti penelitian yang dipublikasikan pada tahun 2020 oleh 1, yang membahas tentang penggunaan transfusi sel darah merah pada pasien gagal ginjal kronis. Penelitian ini menyebutkan bahwa myelofibrosis dapat menjadi salah satu penyebab resistensi terhadap terapi eritropoietin-stimulating agents (ESA).
Pengelolaan pasien dengan gagal ginjal kronis dan myelofibrosis memerlukan perhatian yang teliti, termasuk pengelolaan hiperurikemia dengan obat-obatan seperti allopurinol, hidrasi yang cukup untuk mencegah pembentukan kristal asam urat, dan penyesuaian dosis inhibitor JAK yang digunakan untuk mengobati myelofibrosis sesuai dengan fungsi ginjal. Pemantauan fungsi ginjal secara teratur melalui tes kreatinin dan laju filtrasi glomerulus (eGFR) sangat penting untuk pasien dengan myelofibrosis, karena deteksi dini kerusakan ginjal memungkinkan intervensi yang tepat waktu untuk mencegah progresi ke penyakit ginjal stadium akhir.
Penelitian lain yang relevan, seperti yang dipublikasikan pada tahun 2024 oleh 2, membahas tentang patofisiologi, diagnosis, dan pengelolaan anemia pada gagal ginjal kronis, yang juga dapat membantu dalam memahami hubungan antara gagal ginjal kronis dan myelofibrosis.
Dalam pengelolaan pasien dengan kedua kondisi ini, penting untuk mempertimbangkan kualitas hidup dan morbiditas sebagai prioritas utama, serta memastikan bahwa pengobatan yang diberikan tidak hanya efektif tetapi juga aman dan sesuai dengan kondisi pasien.