Mekanisme Kerja Tiamin pada Pasien Neurologi
Tiamin (vitamin B1) berperan penting dalam pengobatan kondisi neurologis melalui fungsinya sebagai kofaktor enzim yang terlibat dalam metabolisme energi di otak, dan harus diberikan dengan dosis 500 mg tiga kali sehari secara intravena untuk kasus ensefalopati yang tidak jelas etiologinya.
Fungsi Tiamin dalam Sistem Saraf
Tiamin dalam bentuk aktifnya, tiamin difosfat (ThDP), memiliki beberapa fungsi penting pada sistem saraf:
- Berperan sebagai kofaktor enzim dalam metabolisme energi di otak
- Penting untuk struktur dan fungsi saraf
- Terlibat dalam metabolisme otak
- Berfungsi sebagai antioksidan di sistem saraf pusat
- Berperan dalam produksi ATP mitokondria yang sangat penting bagi otak 1
Defisiensi Tiamin dan Manifestasi Neurologis
Defisiensi tiamin dapat menyebabkan berbagai gangguan neurologis, termasuk:
Ensefalopati Wernicke:
Sindrom Wernicke-Korsakoff:
- Gangguan memori jangka pendek
- Psikosis
- Gangguan kognitif 4
Manifestasi neurologis lainnya:
Dosis dan Cara Pemberian Tiamin untuk Kondisi Neurologis
Dosis tiamin bervariasi tergantung pada kondisi klinis:
| Kondisi Klinis | Dosis Rekomendasi |
|---|---|
| Ensefalopati yang tidak jelas etiologinya | 500 mg, 3 kali sehari, IV [5] |
| Kecurigaan tinggi atau defisiensi terbukti | 200 mg, 3 kali sehari, IV [5] |
| Sindrom Wernicke-Korsakoff | 100 mg IV dosis awal, diikuti 50-100 mg IM setiap hari [6] |
| Pasien berisiko defisiensi | 100 mg, 3 kali sehari, IV [5] |
| Dosis pemeliharaan pada defisiensi terbukti | 50-100 mg/hari, oral [5] |
Jalur Pemberian:
- Kondisi akut: Jalur intravena (IV) lebih diutamakan untuk efisiensi maksimal
- Kondisi kronis tanpa penyakit akut: Jalur oral sudah mencukupi 5, 2
Indikasi Pemberian Tiamin pada Pasien Neurologis
Tiamin diindikasikan untuk:
- Pengobatan ensefalopati Wernicke
- Sindrom Wernicke-Korsakoff
- Neuropati perifer akibat defisiensi tiamin
- Pencegahan komplikasi neurologis pada pasien berisiko tinggi 7, 6
Kapan Harus Mencurigai Defisiensi Tiamin
Defisiensi tiamin harus dicurigai pada pasien dengan:
- Kardiomiopati dan penggunaan diuretik jangka panjang
- Nutrisi medis jangka panjang
- Pasca bedah bariatrik
- Sindrom refeeding
- Ensefalopati yang tidak jelas penyebabnya
- Konsumsi alkohol kronis
- Malnutrisi 5, 2
Pemeriksaan Status Tiamin
- Status tiamin harus ditentukan dengan mengukur tiamin difosfat (ThDP) dalam sel darah merah atau darah lengkap
- Jika pemeriksaan ThDP tidak tersedia, pengukuran transketolase sel darah merah dan aktivasinya oleh tiamin dapat dipertimbangkan 5, 2
Respons Klinis dan Efek Samping
- Perbaikan klinis dapat terjadi dalam hitungan jam atau hari
- Keterlibatan neurologis mungkin memerlukan dosis lebih tinggi dan waktu pemulihan lebih lama
- Dosis IV tinggi jarang menyebabkan anafilaksis
- Dosis lebih dari 400 mg dapat menyebabkan mual, anoreksia, dan ataksia ringan 2, 3
Hal Penting yang Perlu Diperhatikan
- Tiamin harus diberikan sebelum cairan yang mengandung glukosa pada pasien berisiko untuk mencegah presipitasi ensefalopati Wernicke 2
- Pengobatan harus dilanjutkan selama 2-3 bulan setelah resolusi gejala pada pasien dengan defisiensi terkait alkohol 2
- Suplemen multivitamin yang mengandung tiamin mungkin tidak cukup untuk mencegah defisiensi, dan suplemen tiamin tambahan harus dipertimbangkan 2
Dengan penanganan yang tepat dan cepat, morbiditas dan mortalitas terkait defisiensi tiamin pada pasien neurologis dapat dikurangi secara signifikan.