Penilaian Risiko Infeksi dan Non-Infeksi pada Eklampsia dan Sindrom HELLP
Penilaian risiko infeksi dan non-infeksi pada pasien dengan eklampsia dan sindrom HELLP sudah tepat, namun perlu memperhatikan beberapa aspek penting untuk memastikan penanganan komprehensif yang optimal.
Risiko Non-Infeksi
Risiko Kardiovaskular
- Hipertensi berat (tekanan darah >160/90 mmHg) merupakan risiko utama yang memerlukan penanganan segera untuk mencegah komplikasi serebrovaskular 1
- Perlu pemantauan tekanan darah secara ketat dan pemberian antihipertensi seperti labetalol, nifedipin, atau metildopa untuk hipertensi non-berat, serta terapi intravena untuk hipertensi berat 1
Risiko Hematologi
- Trombositopenia berat (<50.000/mm³) memerlukan transfusi trombosit, terutama jika direncanakan persalinan secara seksio sesarea 1, 2
- Transfusi darah utuh direkomendasikan jika kadar hemoglobin <10 g/dL 1
- Pemantauan parameter koagulasi sangat penting karena risiko perdarahan dan DIC 2
Risiko Hepatik
- Peningkatan enzim hati merupakan tanda sindrom HELLP dan berkorelasi dengan tingkat trombositopenia 1
- Risiko hematoma subkapsular hati dan ruptur hati akut yang mengancam jiwa 3
- Nyeri epigastrium dan nyeri kuadran kanan atas sering menjadi gejala preeklampsia berat dan dapat menandakan kejang yang akan datang 4
Risiko Renal
- Oliguria (<400 ml/24 jam) merupakan tanda preeklampsia berat 1
- Pemasangan kateter urin untuk pemantauan output urin per jam sangat penting 2
- Risiko gagal ginjal akut memerlukan pemantauan kadar kreatinin dan urea 2
Risiko Neurologis
- Pencegahan kejang dengan pemberian magnesium sulfat 5, 6
- Pemantauan refleks patella sebelum setiap dosis magnesium sulfat untuk mencegah toksisitas 5
- Risiko ensefalopati dan stroke memerlukan pemantauan neurologis ketat 6
Risiko Infeksi
Risiko Infeksi Pasca Operasi
- Pasien dengan sindrom HELLP memiliki tingkat seksio sesarea yang tinggi (61,5-76%) 1
- Risiko infeksi luka operasi meningkat pada pasien dengan kondisi imunokompromi 2
- Pemantauan tanda-tanda infeksi seperti demam, nyeri, dan kemerahan pada luka operasi 2
Risiko Sepsis
- Sepsis dapat terjadi sebagai komplikasi sindrom HELLP 6
- Pemantauan tanda-tanda sepsis seperti demam, takikardia, takipnea, dan leukositosis 2
- Kultur darah dan pemberian antibiotik empiris jika dicurigai sepsis 2
Penanganan Komprehensif
Stabilisasi Awal
- Kontrol tekanan darah dengan magnesium sulfat atau hidralazin intravena 2, 5
- Pemeriksaan laboratorium komprehensif termasuk hitung trombosit, fungsi hati, dan fungsi ginjal 2
- Pemasangan kateter vena sentral pada pasien kritis untuk manajemen cairan 1, 2
Penatalaksanaan Definitif
- Persalinan merupakan terapi definitif, terutama jika terdapat bukti preeklampsia yang memburuk, fungsi hati atau ginjal yang memburuk, trombositopenia berat, usia kehamilan ≥32-34 minggu, gawat janin, atau maturitas janin 1, 2
- Pemantauan pasca persalinan di unit perawatan intensif atau unit ketergantungan tinggi selama minimal 24 jam 1
Pertimbangan Anestesi
- Jika anestesi umum diperlukan, gunakan obat dengan metabolisme hepatik atau renal minimal 2
- Induksi cepat dengan suksametanium untuk manajemen jalan napas 2
Kesimpulan
Penilaian risiko infeksi dan non-infeksi pada pasien dengan eklampsia dan sindrom HELLP harus mencakup pemantauan kardiovaskular, hematologi, hepatik, renal, dan neurologis yang ketat. Penanganan komprehensif dengan tim multidisiplin dan persalinan tepat waktu sangat penting untuk mengurangi morbiditas dan mortalitas maternal.