What are the recommended combination regimens for tuberculosis prevention in Indonesia?

Medical Advisory BoardAll articles are reviewed for accuracy by our Medical Advisory Board
Educational purpose only • Exercise caution as content is pending human review
Article Review Status
Submitted
Under Review
Approved

Last updated: November 1, 2025View editorial policy

Personalize

Help us tailor your experience

Which best describes you? Your choice helps us use language that's most understandable for you.

Regimen Kombinasi Pencegahan Tuberkulosis di Indonesia

Regimen rifampisin selama 4 bulan (4R) adalah pilihan terbaik untuk pengobatan infeksi tuberkulosis laten di Indonesia karena memiliki tingkat kepatuhan yang lebih tinggi, efek samping yang lebih sedikit, dan biaya yang lebih rendah dibandingkan dengan regimen isoniazid 9 bulan (9H). 1

Regimen Pencegahan Tuberkulosis yang Direkomendasikan

Berdasarkan bukti terkini, berikut adalah regimen pencegahan tuberkulosis yang tersedia di Indonesia:

Regimen Utama

  • Rifampisin selama 4 bulan (4R): 10 mg/kg (maksimum 600 mg) sekali sehari selama 4 bulan 2, 1

    • Keunggulan: tingkat penyelesaian pengobatan lebih tinggi (78,7% vs 65,5%), efek samping lebih sedikit, dan biaya lebih rendah dibandingkan dengan 9H 1
    • Dosis: 10-20 mg/kg (tidak melebihi 600 mg/hari) untuk dewasa dan anak-anak 2
  • Isoniazid selama 9 bulan (9H): 5 mg/kg (maksimum 300 mg) sekali sehari selama 9 bulan 3, 1

    • Efektivitas tinggi (>90%) jika diselesaikan dengan benar, namun tingkat kepatuhan lebih rendah 4
    • Dosis: 5 mg/kg (maksimum 300 mg) untuk dewasa; 10-15 mg/kg (maksimum 300 mg) untuk anak-anak 3

Regimen Alternatif

  • Isoniazid plus rifampisin selama 3-4 bulan (3-4HR): Kombinasi harian kedua obat 5

    • Efektivitas setara dengan isoniazid 6 bulan dalam beberapa uji klinis 4
    • Dosis: sama dengan dosis individual masing-masing obat
  • Rifapentin plus isoniazid selama 3 bulan (3HP): Diberikan seminggu sekali selama 3 bulan 5

    • Efektivitas setara dengan 9H dengan hepatotoksisitas yang lebih rendah 5
    • Catatan: Ketersediaan rifapentin di Indonesia mungkin terbatas

Pertimbangan Khusus

Untuk Pasien HIV-Positif

  • Isoniazid selama 9 bulan: Dosis harian atau dua kali seminggu (dengan pengawasan langsung) 5
  • Rifabutin plus pirazinamid selama 2 bulan: Untuk pasien yang tidak menerima inhibitor protease atau NNRTI 5
  • Rifampisin plus pirazinamid selama 2 bulan: Untuk pasien yang tidak menerima inhibitor protease atau NNRTI 5, 6

Untuk Kontak Pasien TB Resisten Isoniazid

  • Rifampisin selama 4 bulan: Direkomendasikan untuk kontak pasien dengan TB resisten isoniazid namun sensitif rifampisin 5
  • Rifampisin plus pirazinamid selama 2 bulan: Alternatif untuk kontak pasien TB resisten isoniazid 5

Untuk Kontak Pasien MDR-TB

  • Pengobatan harus disesuaikan dengan pola resistensi kasus indeks 5
  • Bukti untuk pengobatan pencegahan MDR-TB masih terbatas dan memerlukan penilaian risiko klinis yang komprehensif 5

Pemantauan dan Pengelolaan

  • Semua pasien harus menjalani evaluasi klinis bulanan untuk memantau kepatuhan dan efek samping 5
  • Pemeriksaan laboratorium awal tidak rutin diindikasikan untuk semua pasien, tetapi direkomendasikan untuk pasien dengan HIV, wanita hamil, pasien dengan riwayat penyakit hati kronis, dan pengguna alkohol 5
  • Pengobatan harus dihentikan dan evaluasi medis segera dilakukan jika terjadi efek samping 5

Keunggulan Regimen 4R di Indonesia

Studi yang dilakukan di Indonesia menunjukkan bahwa regimen 4R memiliki beberapa keunggulan dibandingkan dengan 9H:

  • Tingkat penyelesaian pengobatan yang lebih tinggi (78,7% vs 65,5%) 1
  • Tidak ada efek samping serius pada anak-anak dan lebih sedikit pada orang dewasa (0,4% vs 2,8%) 1
  • Insiden TB aktif yang lebih rendah (0,09/100 orang-tahun vs 0,36/100 orang-tahun) 1
  • Biaya total per pasien yang lebih rendah (USD151,9 vs USD179,4 untuk dewasa dan USD152,9 vs USD206,5 untuk anak-anak) 1

Kesimpulan

Berdasarkan bukti terkini, regimen rifampisin selama 4 bulan (4R) menawarkan keseimbangan terbaik antara efektivitas, keamanan, biaya, dan kepatuhan untuk pengobatan infeksi tuberkulosis laten di Indonesia. Namun, pemilihan regimen harus mempertimbangkan faktor-faktor seperti status HIV, riwayat kontak dengan pasien TB resisten obat, dan kondisi medis yang mendasarinya.

Professional Medical Disclaimer

This information is intended for healthcare professionals. Any medical decision-making should rely on clinical judgment and independently verified information. The content provided herein does not replace professional discretion and should be considered supplementary to established clinical guidelines. Healthcare providers should verify all information against primary literature and current practice standards before application in patient care. Dr.Oracle assumes no liability for clinical decisions based on this content.

Have a follow-up question?

Our Medical A.I. is used by practicing medical doctors at top research institutions around the world. Ask any follow up question and get world-class guideline-backed answers instantly.