Pertimbangan Pemberian Obat Nyeri
Mulai dengan penilaian intensitas nyeri menggunakan skala analog visual (VAS) atau skala numerik, kemudian ikuti pendekatan bertahap WHO pain ladder: nyeri ringan dimulai dengan non-opioid (paracetamol atau NSAID), nyeri sedang dengan opioid lemah atau opioid kuat dosis rendah, dan nyeri berat dengan opioid kuat seperti morfin. 1
Penilaian Awal Nyeri
- Evaluasi intensitas nyeri pada setiap kunjungan pasien menggunakan VAS, skala numerik (NRS), atau skala verbal (VRS) untuk menentukan tingkat keparahan 1
- Klasifikasi nyeri berdasarkan intensitas: ringan (skor 1-3), sedang (skor 4-7), atau berat (skor >7) untuk menentukan strategi terapi 1
- Tentukan status opioid pasien: opioid-naïve (belum pernah menggunakan opioid) atau opioid-tolerant (sudah menggunakan opioid secara teratur) karena ini mempengaruhi pilihan dosis awal 1
- Identifikasi jenis nyeri: nociceptive versus neuropathic, akut versus kronik, karena ini menentukan pilihan analgesik yang tepat 2, 3
Nyeri Ringan (Skor 1-3): WHO Level I
- Paracetamol/acetaminophen sebagai pilihan pertama dengan dosis 500-1000 mg, onset 15-30 menit, maksimal 4000-6000 mg/hari 1
- Perhatian khusus: gunakan dosis lebih rendah pada pasien dengan penyakit hati lanjut, malnutrisi, atau gangguan penggunaan alkohol berat 4
- NSAID sebagai alternatif: ibuprofen 400-600 mg setiap 6 jam (maksimal 3200 mg/hari) adalah NSAID paling aman 1, 5
- Gastroproteksi wajib dengan proton pump inhibitor jika NSAID digunakan jangka panjang 1
Kontraindikasi dan Peringatan NSAID
- Hindari pada pasien risiko tinggi: usia >60 tahun, riwayat ulkus peptikum, gangguan ginjal, penyakit kardiovaskular, trombositopenia, atau gangguan perdarahan 1
- Monitoring rutin diperlukan: tekanan darah, BUN, kreatinin, fungsi hati, CBC, dan fecal occult blood pada baseline, kemudian setiap 3 bulan 1
- Hentikan NSAID jika BUN atau kreatinin meningkat 2x lipat, atau jika hipertensi berkembang atau memburuk 1
- Selective COX-2 inhibitor dapat dipertimbangkan untuk pasien dengan intoleransi gastrik terhadap NSAID lain, namun tidak mengurangi efek samping renal 1
Nyeri Sedang (Skor 4-7): WHO Level II
Untuk Pasien Opioid-Naïve
- Lanjutkan non-opioid (paracetamol atau NSAID) dan tambahkan opioid lemah atau opioid kuat dosis rendah 1
- Tramadol sebagai pilihan pertama dengan dosis awal 50 mg 1-2 kali sehari, dapat ditingkatkan bertahap hingga maksimal 400 mg/hari 6
- Alternatif: codeine dikombinasi dengan paracetamol (maksimal 4000 mg paracetamol dan 240 mg codeine), atau morfin/oxycodone dosis rendah 1
- Titrasi opioid short-acting sesuai kebutuhan dengan tujuan meningkatkan dosis harian 30-50% hingga nyeri terkontrol 1
Untuk Pasien Opioid-Tolerant
- Lanjutkan terapi non-opioid dan adjuvant yang sesuai 1
- Evaluasi ulang kebutuhan opioid: pertimbangkan pengurangan dosis bertahap jika nyeri ringan 1
- Titrasi short-acting opioid sesuai kebutuhan jika nyeri sedang persisten 1
Nyeri Berat (Skor >7): WHO Level III
- Morfin adalah pilihan utama dengan rute oral sebagai yang diutamakan 1
- Konversi dosis parenteral: jika diberikan IV/SC, dosis ekuivalen adalah 1/3 dari dosis oral 1
- Alternatif morfin: hydromorphone atau oxycodone dalam formulasi normal release atau modified release 1
- Fentanyl transdermal hanya untuk pasien dengan kebutuhan opioid stabil ≥60 mg morfin/hari, atau pasien yang tidak dapat menelan 1
- Methadone memerlukan pengalaman khusus karena variasi inter-individual yang besar dalam waktu paruh dan durasi kerja 1
Penjadwalan dan Titrasi Opioid
- Dosis around-the-clock untuk nyeri kronik dengan penjadwalan teratur, bukan "sesuai kebutuhan" 1, 7
- Sediakan "breakthrough dose" setara 10-20% dari total dosis harian untuk eksaserbasi nyeri transien, dapat diberikan setiap jam saat nyeri berat 1
- Jika memerlukan >4 breakthrough doses: sesuaikan dosis baseline dengan formulasi slow release 1
- Titrasi cepat ke efek yang diinginkan sambil memantau depresi respirasi terutama dalam 24-72 jam pertama 8
Manajemen Efek Samping Opioid
- Konstipasi: berikan laksatif stimulan secara profilaksis bersamaan dengan inisiasi terapi opioid 1
- Mual dan muntah: gunakan antiemetik secara berkelanjutan 1
- Sedasi berlebihan: pertimbangkan psychostimulant 1
- Konfusi atau halusinasi: berikan major tranquilizer 1
- Jika efek samping refrakter: kurangi dosis opioid dengan menambahkan co-analgesic, atau pertimbangkan rotasi opioid ke agonis lain atau rute pemberian berbeda 1
- Naloxone harus tersedia untuk overdosis opioid berat yang tidak disengaja 1
Analgesik Adjuvant
- Pertimbangkan untuk semua kelompok pasien terutama untuk sindrom nyeri spesifik 1
- Nyeri neuropatik: gabapentin (mulai 600 mg hari pertama, tingkatkan setiap 3 hari hingga 1800 mg) atau pregabalin (mulai 75 mg malam hari, tingkatkan mingguan hingga 600 mg/hari) 6
- Alternatif untuk nyeri neuropatik: duloxetine 20-120 mg/hari atau venlafaxine dengan sifat antidepresan dan analgesik sentral 6
- Dapat digunakan sebagai analgesik utama untuk nyeri neuropatik atau untuk meningkatkan efek opioid/non-opioid 1
Pertimbangan Khusus Populasi Tertentu
Pasien Lansia (≥75 tahun)
- NSAID topikal lebih diutamakan daripada oral untuk cedera muskuloskeletal non-low back 9
- Mulai dengan dosis lebih rendah untuk semua analgesik 9
- Hindari opioid jika memungkinkan karena risiko tinggi akumulasi morfin, over-sedasi, dan depresi respirasi 1
Pasien dengan Komorbiditas
- Penyakit ginjal kronik stadium 4-5: pertimbangkan strategi manajemen nyeri alternatif, hindari NSAID 9
- Penyakit kardiovaskular: gunakan NSAID dengan sangat hati-hati, dosis efektif terendah untuk durasi terpendek 9
- Riwayat ulkus GI: tambahkan proton pump inhibitor jika menggunakan NSAID 9
Prinsip Umum Pemberian
- Gunakan dosis efektif terendah untuk durasi terpendek yang konsisten dengan tujuan pengobatan pasien 8, 4
- Rute oral adalah pilihan pertama bila memungkinkan 1, 7
- Penjadwalan teratur lebih baik daripada "sesuai kebutuhan" untuk nyeri kronik 9, 7
- Monitoring rutin untuk kontrol nyeri dan efek samping potensial sangat penting 9
- Edukasi pasien dan keluarga tentang setiap obat yang diresepkan, cara penggunaan, efek samping potensial, dan kapan harus menghubungi tenaga kesehatan 1