What foods can help increase serotonin levels?

Medical Advisory BoardAll articles are reviewed for accuracy by our Medical Advisory Board
Educational purpose only • Exercise caution as content is pending human review
Article Review Status
Submitted
Under Review
Approved

Last updated: November 7, 2025View editorial policy

Personalize

Help us tailor your experience

Which best describes you? Your choice helps us use language that's most understandable for you.

Makanan Peningkat Serotonin

Untuk meningkatkan kadar serotonin otak, konsumsi makanan kaya triptofan seperti ayam, kedelai, sereal, tuna, kacang-kacangan, dan pisang, dikombinasikan dengan karbohidrat dan vitamin B6. 1, 2

Mekanisme Peningkatan Serotonin Melalui Makanan

Serotonin tidak dapat langsung melewati sawar darah-otak dari makanan, tetapi prekursornya, triptofan, dapat dengan mudah masuk ke sistem saraf pusat. 1 Triptofan kemudian dikonversi menjadi serotonin oleh enzim triptofan hidroksilase dan 5-HTP dekarboksilase, dengan bantuan piridoksal fosfat (vitamin B6). 1

Sumber Makanan Terbaik

Protein Kaya Triptofan

  • Lactalbumin (whey protein): Menghasilkan peningkatan triptofan otak paling tinggi dibandingkan protein lain 3, 4
  • Protein kedelai: Meningkatkan triptofan otak secara moderat 3, 4
  • Kasein: Menghasilkan penurunan ringan triptofan otak 3, 4
  • Ayam, tuna, kacang-kacangan, dan pisang: Sumber triptofan yang baik 1, 2

Peringatan penting: Tidak semua protein sama efektifnya. Zein dan gluten gandum justru menurunkan kadar triptofan otak hingga 8 kali lipat, sementara lactalbumin meningkatkannya secara signifikan. 3, 4

Karbohidrat Sebagai Pendukung

Makanan kaya karbohidrat memicu respons insulin yang meningkatkan bioavailabilitas triptofan di sistem saraf pusat. 1 Sarapan kaya karbohidrat (69.9 g karbohidrat, 5.2 g protein) meningkatkan rasio triptofan:LNAA hingga 54% dibandingkan sarapan kaya protein. 5

Contoh karbohidrat yang direkomendasikan: 6

  • Roti gandum utuh dan sereal
  • Oatmeal dan beras merah
  • Pasta gandum utuh
  • Buah-buahan seperti pisang, kurma, anggur, jeruk

Vitamin B6

Vitamin B6 (piridoksal fosfat) diperlukan sebagai kofaktor dalam konversi triptofan menjadi serotonin. 1 Sumber vitamin B6 termasuk:

  • Unggas dan ikan 6
  • Kacang-kacangan dan biji-bijian 6
  • Sayuran hijau seperti bayam dan kale 6

Strategi Kombinasi Optimal

Hubungan kurva U terbalik: Kadar triptofan plasma yang terlalu rendah atau terlalu tinggi dapat mengganggu kognisi, sedangkan kadar moderat hingga tinggi meningkatkan kognisi dan mood. 2

Rekomendasi Praktis

  1. Kombinasikan protein berkualitas tinggi dengan karbohidrat: Konsumsi protein seperti produk susu rendah lemak (sumber lactalbumin) atau kedelai bersama karbohidrat kompleks 5, 3

  2. Waktu makan: Sarapan kaya karbohidrat dengan protein moderat lebih efektif meningkatkan rasio triptofan dibanding sarapan tinggi protein 5

  3. Hindari protein tertentu: Zein (dari jagung) dan gluten gandum dapat menurunkan triptofan otak secara drastis 3, 4

Peringatan Keamanan

Hindari suplemen triptofan atau 5-HTP jika menggunakan obat serotonergik (SSRI, MAOI, atau obat nyeri tertentu) karena risiko sindrom serotonin yang mengancam jiwa. 7, 8 Suplemen St. John's wort juga berisiko tinggi menyebabkan sindrom serotonin dan harus dihentikan 2 minggu sebelum operasi atau saat menggunakan obat serotonergik. 7, 8

Kesalahan Umum yang Harus Dihindari

  • Mengonsumsi terlalu banyak protein tanpa karbohidrat: Protein tinggi justru menurunkan rasio triptofan:LNAA hingga 28-64%, menghambat sintesis serotonin 5
  • Mengandalkan satu jenis protein saja: Variasi protein sangat mempengaruhi kadar triptofan otak (variasi hingga 8 kali lipat) 3, 4
  • Mengabaikan vitamin B6: Tanpa kofaktor ini, konversi triptofan ke serotonin terganggu 1

References

Professional Medical Disclaimer

This information is intended for healthcare professionals. Any medical decision-making should rely on clinical judgment and independently verified information. The content provided herein does not replace professional discretion and should be considered supplementary to established clinical guidelines. Healthcare providers should verify all information against primary literature and current practice standards before application in patient care. Dr.Oracle assumes no liability for clinical decisions based on this content.

Have a follow-up question?

Our Medical A.I. is used by practicing medical doctors at top research institutions around the world. Ask any follow up question and get world-class guideline-backed answers instantly.