What is the pathophysiology of Bell's palsy?

Medical Advisory BoardAll articles are reviewed for accuracy by our Medical Advisory Board
Educational purpose only • Exercise caution as content is pending human review
Article Review Status
Submitted
Under Review
Approved

Last updated: November 16, 2025View editorial policy

Personalize

Help us tailor your experience

Which best describes you? Your choice helps us use language that's most understandable for you.

Patofisiologi Bell's Palsy

Mekanisme Dasar Kerusakan Saraf

Bell's palsy terjadi akibat inflamasi dan edema saraf fasialis yang menyebabkan kompresi saraf di dalam kanalis tulang temporal yang sempit, mengakibatkan kerusakan saraf sementara atau permanen. 1, 2

Proses Inflamasi dan Kompresi

  • Inflamasi menyebabkan edema neural yang berkembang dalam 72 jam, mengakibatkan kompresi mekanis yang mengganggu fungsi saraf 2
  • Ketika saraf fasialis berjalan dalam kanalis sempit di tulang temporal, pembengkakan menyebabkan kompresi saraf yang menghambat konduksi impuls 1, 2
  • Kompresi dan iskemia yang berkepanjangan dapat menyebabkan degenerasi aksonal ireversibel, yang menjelaskan mengapa sekitar 30% pasien mengalami kelemahan wajah permanen 2

Etiologi yang Diduga

Meskipun American Academy of Otolaryngology-Head and Neck Surgery menyatakan bahwa penyebab pasti Bell's palsy saat ini tidak diketahui, etiologi viral dicurigai sebagai pemicu 1, 3. Beberapa teori patogenesis meliputi:

  • Reaktivasi virus herpes laten (herpes simplex, herpes zoster) dari ganglia saraf kranial dapat memicu Bell's palsy 4
  • Mekanisme autoimun dimediasi sel terhadap protein myelin basic telah diusulkan sebagai patogenesis 4
  • Bell's palsy mungkin merupakan neuritis kranial demielinasi autoimun, dan dalam banyak kasus, merupakan varian mononeuritik dari sindrom Guillain-Barré 4
  • Infeksi viral atau reaktivasi virus laten dapat memicu reaksi autoimun terhadap komponen myelin saraf perifer, menyebabkan demielinasi saraf kranial, terutama saraf fasialis 4

Manifestasi Klinis Berdasarkan Patofisiologi

Disfungsi Motorik

Kompresi menghambat konduksi impuls ke otot wajah, kelenjar lakrimal, kelenjar saliva, otot stapedius, serabut pengecap lidah anterior, dan serabut sensorik umum dari membran timpani dan kanalis auditorius posterior 2:

  • Paresis atau paralisis wajah unilateral terjadi akibat gangguan impuls motorik ke otot ekspresi wajah 2
  • Lagoftalmos (ketidakmampuan menutup kelopak mata) terjadi akibat paralisis otot orbicularis oculi, yang dapat menyebabkan cedera kornea 2
  • Inkompeten oral terjadi akibat kelemahan otot perioral, menyebabkan kesulitan makan dan minum 2

Disfungsi Otonom dan Sensorik

  • Mata kering atau mulut kering terjadi akibat gangguan serabut otonom yang menginervasi kelenjar lakrimal dan saliva 1, 2
  • Gangguan atau kehilangan pengecapan pada dua pertiga anterior lidah terjadi akibat keterlibatan chorda tympani 1, 2
  • Hiperakusis (sensitivitas berlebihan terhadap suara) terjadi akibat paralisis otot stapedius 1, 2
  • Nyeri ipsilateral di sekitar telinga atau wajah merupakan gejala awal yang umum, kemungkinan akibat inflamasi saraf 1, 2

Faktor Risiko yang Meningkatkan Kerentanan

Beberapa kondisi meningkatkan risiko Bell's palsy melalui mekanisme iskemik, neuropatik, atau imunosupresif:

  • Diabetes mellitus meningkatkan risiko, kemungkinan melalui mekanisme iskemik dan neuropatik 2, 5
  • Infeksi saluran pernapasan atas meningkatkan risiko, mendukung hipotesis etiologi viral 2, 5
  • Kehamilan meningkatkan kerentanan, terutama pada trimester ketiga 2, 6
  • Sistem imun yang terganggu meningkatkan risiko, konsisten dengan mekanisme inflamasi 2
  • Usia 15-45 tahun merupakan puncak insidensi 2, 4

Perjalanan Penyakit dan Prognosis

Timeline Kerusakan dan Pemulihan

  • Onset akut terjadi dalam 72 jam, mencerminkan inflamasi akut 1, 2
  • Sebagian besar pasien (70-80%) akan pulih secara spontan dalam 6 bulan, dengan prognosis umumnya baik 1, 7
  • Pasien dengan paralisis inkomplet memiliki tingkat pemulihan lebih tinggi hingga 94% 7
  • Tanda-tanda pemulihan biasanya mulai muncul dalam 2-3 minggu setelah onset gejala 7

Komplikasi Jangka Panjang

  • Sekitar 30% pasien dapat mengalami kelemahan wajah permanen dengan kontraktur otot, menunjukkan kerusakan saraf ireversibel 2
  • Kerusakan permanen terjadi ketika kompresi dan iskemia menyebabkan degenerasi aksonal ireversibel 2

Pertimbangan Penting dalam Praktik Klinis

Diagnosis Eksklusi

  • Bell's palsy adalah diagnosis eksklusi - hanya didiagnosis ketika tidak ada etiologi medis lain yang dapat diidentifikasi sebagai penyebab paresis atau paralisis saraf fasialis akut unilateral 3
  • Kondisi lain yang harus dieksklusi meliputi stroke, tumor otak, tumor parotis atau fossa infratemporal, kanker yang melibatkan saraf fasialis, penyakit infeksi seperti Lyme disease, herpes zoster, sarkoidosis, trauma atau fraktur, dan komplikasi pasca operasi 2, 3

Peringatan Klinis

  • Bell's palsy bilateral sangat jarang dan harus meningkatkan kecurigaan terhadap diagnosis alternatif seperti sindrom Guillain-Barré, sarkoidosis, atau Lyme disease 2, 3
  • Stroke dapat dibedakan dari Bell's palsy dengan adanya kelemahan wajah sentral yang tidak melibatkan dahi 3
  • Bell's palsy adalah kondisi self-limited, mencerminkan kemampuan saraf perifer untuk beregenerasi 2

References

Guideline

Guideline Directed Topic Overview

Dr.Oracle Medical Advisory Board & Editors, 2025

Guideline

Bell's Palsy Pathophysiology and Clinical Considerations

Praxis Medical Insights: Practical Summaries of Clinical Guidelines, 2025

Guideline

Diagnostic Criteria and Exclusions for Bell's Palsy

Praxis Medical Insights: Practical Summaries of Clinical Guidelines, 2025

Research

Bell's palsy and autoimmunity.

Autoimmunity reviews, 2012

Research

Bell's Palsy: A Review.

Cureus, 2022

Research

Bell's palsy: diagnosis and management.

American family physician, 2007

Professional Medical Disclaimer

This information is intended for healthcare professionals. Any medical decision-making should rely on clinical judgment and independently verified information. The content provided herein does not replace professional discretion and should be considered supplementary to established clinical guidelines. Healthcare providers should verify all information against primary literature and current practice standards before application in patient care. Dr.Oracle assumes no liability for clinical decisions based on this content.

Have a follow-up question?

Our Medical A.I. is used by practicing medical doctors at top research institutions around the world. Ask any follow up question and get world-class guideline-backed answers instantly.