Perbedaan Pneumonia Bakterial dan Viral
Pneumonia bakterial dan viral memiliki pola klinis, radiologis, dan prognostik yang berbeda, dengan pneumonia bakterial sekunder lebih sering terjadi (hingga 4 kali lebih umum) namun memiliki mortalitas lebih rendah (7-24%) dibandingkan pneumonia viral primer (>40%), dan keduanya tidak dapat dibedakan secara pasti hanya berdasarkan gejala klinis saja. 1, 2
Pola Temporal dan Onset
Pneumonia Viral (Primer)
- Onset cepat dengan perburukan dramatis dalam 48 jam setelah demam dimulai, ditandai dengan sesak napas progresif dan batuk yang awalnya kering kemudian menjadi produktif dengan sputum bercampur darah 2, 3, 4
- Kematian biasanya terjadi dalam 7 hari setelah masuk rumah sakit dengan mortalitas >40% meskipun mendapat perawatan intensif maksimal 1, 2
Pneumonia Bakterial (Sekunder)
- Pola bifasik yang khas: gejala influenza awal membaik, kemudian demam muncul kembali 4-5 hari kemudian dengan perburukan gejala respirasi 1, 3
- Berkembang selama periode konvalesen awal (4-5 hari dari onset gejala awal), meskipun pada beberapa kasus gejala pneumonia bercampur dengan gejala influenza awal 1
- Mortalitas lebih rendah (7-24%) dibandingkan pneumonia viral primer 1, 2
Karakteristik Klinis
Pneumonia Viral
- Batuk nonproduktif yang kemudian menjadi produktif dengan sputum bercampur darah 3, 4
- Dispnea yang memburuk dengan cepat 4
- Pada anak: lebih sering disertai otitis media akut (41% vs 18%), dispnea (48% vs 25%), dan ronki pada auskultasi (47% vs 26%) 5
- Usia pasien cenderung lebih muda (rata-rata 2.8 tahun vs 4.1 tahun untuk bakterial) 5
Pneumonia Bakterial
- Batuk produktif dengan sputum purulen atau berwarna karat 3
- Temuan fokal pada pemeriksaan dada: krepitasi terlokalisir, suara napas bronkial, dan pekak pada perkusi 3
- Pada anak: lebih sering nyeri dada, sakit kepala, dan penurunan suara napas 5
- Onset lebih bertahap dengan respons terhadap antibiotik 3
Pola Radiologis
Pneumonia Viral
- Infiltrat difus bilateral terutama di zona tengah paru 1
- Meskipun konsolidasi fokal juga dapat ditemukan 1
Pneumonia Bakterial
Pneumonia Campuran Viral-Bakterial
- Konsolidasi lobar yang bertumpang tindih dengan infiltrat difus bilateral 1, 2
- Mortalitas tinggi (>40%), sama dengan pneumonia viral primer 1, 2
Patogen yang Terlibat
Pneumonia Bakterial Sekunder
- Streptococcus pneumoniae (patogen predominan, 48% pada pandemi 1968) 1, 6
- Staphylococcus aureus (2.5 kali lebih sering pada pandemi, mortalitas 47% vs 16% untuk non-stafilokokus, risiko abses paru 14% vs 2%) 1, 3
- Haemophilus influenzae 1, 3
- Streptokokus β-hemolitik grup A, C, dan G 1
Keterbatasan Diagnostik Klinis
Penting untuk dipahami bahwa gejala klinis dan tanda-tanda pneumonia viral dan bakterial sangat tumpang tindih, sehingga tidak mungkin membedakan keduanya hanya berdasarkan presentasi klinis. 5
- Pemeriksaan radiografi dada tidak dapat membedakan secara reliabel antara pneumonia viral dan bakterial, atau membedakan berbagai patogen bakterial 1
- Reaktan fase akut (jumlah sel darah putih, CRP, ESR) memiliki distribusi nilai yang luas dalam setiap kelompok dan tidak dapat mengidentifikasi cut-off point yang reliabel untuk membedakan infeksi bakterial dari viral 1
- Beberapa agen viral (terutama adenovirus atau virus influenza) mampu menyebabkan infeksi invasif dan menginduksi respons host yang sangat mirip dengan infeksi bakterial invasif 1
Peringatan Klinis Penting
- Pneumonia stafilokokus memiliki prognosis yang sangat buruk dengan mortalitas 47% dan risiko pembentukan abses paru yang lebih tinggi (14% vs 2%), sehingga memerlukan kewaspadaan khusus 1, 3
- Jangan berasumsi semua pneumonia pasca-influenza adalah bakterial, karena pneumonia viral primer dapat terjadi dan memiliki implikasi manajemen yang berbeda 3
- Infeksi campuran viral-bakterial terjadi pada proporsi signifikan (8-40%) kasus pneumonia yang didapat di komunitas pada anak 6
- Pada anak dengan perkembangan neurologis terlambat atau aspirasi benda asing, pertimbangkan organisme anaerob dan Streptococcus milleri 6