Keandalan Diagnosis Klinis dan Peran Pemeriksaan Penunjang
Diagnosis berdasarkan pemeriksaan klinis saja memiliki keterbatasan signifikan dan pemeriksaan penunjang memainkan peran yang sangat penting dalam menegakkan diagnosis yang akurat—tidak ada tes tunggal dengan sensitivitas dan spesifisitas 100%, sehingga kombinasi pemeriksaan klinis dengan pemeriksaan penunjang yang tepat adalah standar praktik kedokteran modern. 1
Keterbatasan Diagnosis Klinis Murni
Pemeriksaan klinis saja tidak dapat diandalkan untuk menegakkan atau menyingkirkan diagnosis secara definitif. 1 Konsep "diagnosis klinis" sendiri sangat heterogen dan tidak memiliki definisi yang seragam dalam praktik medis:
- Definisi "diagnosis klinis" bervariasi luas—dari diagnosis berdasarkan anamnesis dan pemeriksaan fisik saja, hingga diagnosis yang melibatkan tes konfirmasi sederhana atau bahkan tes pencitraan yang mahal 1
- Dalam meta-analisis tentang giant cell arteritis, ditemukan lebih dari 30 definisi berbeda untuk "diagnosis klinis" di antara 30 studi—beberapa menggunakan kriteria klasifikasi, beberapa menggunakan biopsi, beberapa menggunakan pencitraan, dan sebagian besar menggunakan kombinasi 1
- Setiap tes diagnostik memiliki tingkat kesalahan yang menyebabkan misklasifikasi pasien, sehingga klinisi harus melakukan triangulasi dengan berbagai titik data sebelum menetapkan label diagnostik 1
Peran Krusial Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan penunjang objektif diperlukan untuk mencapai diagnosis yang aman dan akurat. Beberapa contoh konkret dari pedoman terkini:
Dalam Diagnosis Multiple Sclerosis
- Bukti objektif dari diseminasi lesi dalam waktu dan ruang yang khas untuk MS adalah esensial untuk membuat diagnosis yang aman 1
- Bukti klinis bergantung terutama pada tanda klinis yang ditentukan secara objektif—riwayat gejala saja tidak cukup untuk diagnosis MS 1
- MRI dipandang sebagai tes yang paling sensitif dan spesifik dalam membuat diagnosis MS, dengan analisis CSF dan VEP memberikan informasi tambahan yang berbeda 1
Dalam Diagnosis Primary Ciliary Dyskinesia
- Tidak ada konsensus bahwa tes tunggal atau kombinasi tes dapat menyingkirkan diagnosis PCD secara definitif 1
- Untuk diagnosis positif definitif, diperlukan: defek ultrastruktur silia yang khas pada TEM atau mutasi bialelik yang tidak ambigu pada gen penyebab PCD 1
- Bahkan dengan kecurigaan klinis yang sangat tinggi (misalnya sindrom Kartagener), tes diagnostik saat ini tidak cukup akurat untuk menyingkirkan diagnosis 1
Dalam Diagnosis Massa Leher pada Dewasa
- Sensitivitas FNA lebih rendah pada metastasis serviks kistik (73%) dibandingkan massa solid (90%), namun FNA tetap harus digunakan sebagai modalitas lini pertama untuk penilaian histologis 1
- Jika keganasan dicurigai dan FNA berulang tidak adekuat atau jinak, biopsi eksisi terbuka yang cepat direkomendasikan untuk menegakkan diagnosis definitif 1
- Tes tambahan harus diperoleh berdasarkan riwayat dan pemeriksaan fisik pasien ketika pasien dengan massa leher berisiko tinggi untuk keganasan dan tidak memiliki diagnosis setelah FNA dan pencitraan 1
Dalam Diagnosis Tromboemboli Vena
- Penilaian klinis saja tidak dapat diandalkan untuk menegakkan atau menyingkirkan diagnosis VTE dan tes objektif diperlukan 1
- Strategi diagnostik kontemporer untuk VTE didasarkan pada penilaian probabilitas klinis VTE sebelum tes diagnostik (PTP), diikuti dengan satu atau lebih tes diagnostik untuk mencapai ambang probabilitas pasca-tes 1
- Ambang probabilitas pasca-tes yang dapat diterima untuk jalur diagnostik yang aman adalah tingkat false negative <2% 1
Algoritma Praktis: Integrasi Klinis dan Penunjang
Pendekatan bertahap yang mengintegrasikan pemeriksaan klinis dengan pemeriksaan penunjang yang tepat adalah standar emas:
Langkah 1: Penilaian Klinis Awal
Langkah 2: Pemeriksaan Penunjang Bertarget
- Pilih tes diagnostik berdasarkan prevalensi penyakit dalam subgrup pasien tersebut 1
- Pada populasi dengan PTP rendah, tes diagnostik dapat mengurangi probabilitas pasca-tes di bawah ambang tertentu untuk menyingkirkan diagnosis 1
- Pada populasi dengan PTP tinggi, tes yang sama mungkin tidak cukup untuk menyingkirkan atau menegakkan diagnosis, memerlukan tes diagnostik berikutnya 1
Langkah 3: Triangulasi Data
Peringatan Penting
- Overdiagnosis adalah risiko nyata: Teknik diagnostik modern dapat mendeteksi temuan pada tingkat subsegmental (misalnya PE subsegmental, DVT vena betis) yang relevansi klinisnya kontroversial 1
- Tes diagnostik harus dilakukan di laboratorium dengan keahlian di bidangnya dan hasil harus diinterpretasikan oleh spesialis dengan keahlian dalam penyakit tersebut 1
- Tidak ada "gold standard" dengan akurasi 100%: Bahkan tes terbaik memiliki tingkat kesalahan, sehingga keputusan klinis harus mempertimbangkan konteks klinis lengkap 1
- Utilitas klinis tes diagnostik bergantung pada seberapa baik tes tersebut dapat meningkatkan outcome pasien dengan memandu keputusan pengobatan yang tepat 2, 3