Pertanyaan mengenai Epilepsi Pasca Stroke
Apa pengobatan lini pertama untuk epilepsi pasca stroke?
Lamotrigine dosis rendah atau gabapentin merupakan pilihan lini pertama yang paling optimal untuk epilepsi pasca stroke, dengan lamotrigine dan gabapentin memiliki bukti level A untuk penggunaan pada pasien lanjut usia dan profil keamanan superior dibanding obat generasi pertama. 1
Pendekatan Pengobatan Berdasarkan Timing Kejang
Kejang Tunggal dalam 24 Jam Pertama
- Jangan berikan antikonvulsan jangka panjang untuk kejang tunggal yang self-limiting dalam 24 jam pertama setelah stroke iskemik 2, 3
- Kejang akut yang tidak self-limiting harus diobati dengan lorazepam IV 2, 3
- Monitor pasien untuk kejang berulang selama pemantauan rutin tanda vital 2
Kejang Berulang atau Kejang Lanjut (>7 hari)
- Mulai terapi AED setelah kejang kedua, atau bahkan setelah kejang pertama yang terjadi >7 hari pasca stroke karena risiko rekurensi >50% 4, 5
- Obati kejang berulang sesuai rekomendasi untuk kondisi neurologis lainnya 2
Pilihan Obat Anti-Epilepsi Spesifik
Obat Generasi Baru (Pilihan Utama)
Lamotrigine:
- Memiliki bukti level A untuk efektivitas pada pasien lanjut usia 1
- Tingkat bebas kejang jangka panjang yang tinggi 5
- Tidak berinteraksi dengan antikoagulan 1
- Mulai dengan dosis rendah 5, 1
Gabapentin:
- Satu-satunya obat yang dievaluasi secara spesifik pada pasien stroke 1
- Menunjukkan tingkat bebas kejang jangka panjang yang tinggi 1
- Profil keamanan superior dengan interaksi obat minimal 5, 1
- Bukti level A untuk penggunaan pada lanjut usia 1
Levetiracetam:
- Pilihan yang masuk akal dengan dampak minimal pada pemulihan neural 3, 5
- Interaksi obat lebih sedikit 5
Obat Generasi Pertama (Hindari Jika Memungkinkan)
Phenytoin, carbamazepine, phenobarbital:
- Tidak direkomendasikan sebagai pilihan pertama karena dampak berbahaya potensial pada pemulihan fungsional 1
- Berinteraksi dengan antikoagulan dan salisilat 4, 1
- Dampak negatif pada kesehatan tulang, kognisi, dan kadar natrium darah 5
- Dapat meredam mekanisme plastisitas neural yang berkontribusi pada pemulihan 2
Pengecualian: Carbamazepine extended-release dosis rendah dapat menjadi pilihan yang wajar dan lebih murah pada pasien dengan kesehatan tulang yang baik yang tidak memerlukan antikoagulan 1
Peringatan Penting
Profilaksis TIDAK Direkomendasikan
- Jangan berikan antikonvulsan profilaksis pada pasien stroke yang belum mengalami kejang 2, 3
- Terapi AED profilaksis dikaitkan dengan outcome yang lebih buruk dan efek negatif pada pemulihan neurologis 2, 3
- Banyak obat kejang tradisional dapat meredam plastisitas neural 2
Pertimbangan Khusus
- Pilih AED dengan mempertimbangkan profil efek samping yang dapat mempengaruhi pemulihan 2
- Dalam studi kasus, hingga 40% pasien perlu mengganti AED pertama mereka, terutama karena efek samping pada rentang dosis rendah 6
- Cari penyebab kejang yang reversibel selain penggunaan potensial AED 2
Monitoring dan Investigasi
- Monitor pasien dengan kejang pasca stroke untuk aktivitas kejang berulang 2
- Pertimbangkan EEG dan investigasi lain untuk menyingkirkan faktor pencetus kejang lainnya 2
- Pertimbangkan monitoring EEG pada populasi risiko tinggi dengan penurunan kesadaran yang tidak dapat dijelaskan 3
Epidemiologi untuk Konteks Klinis
- Frekuensi kejang dalam hari-hari pertama setelah stroke berkisar 2-23%, dengan risiko sebenarnya kemungkinan menuju ujung bawah rentang ini 2
- Kejang lebih umum pada stroke hemoragik atau ketika stroke melibatkan korteks serebral 2, 3
- Kejang dini (dalam 7 hari) memiliki risiko rekurensi <50%, sedangkan kejang lanjut (>7 hari) memiliki risiko rekurensi >50% 3, 4