What about silodosin for Benign Prostatic Hyperplasia (BPH) treatment?

Medical Advisory BoardAll articles are reviewed for accuracy by our Medical Advisory Board
Educational purpose only • Exercise caution as content is pending human review
Article Review Status
Submitted
Under Review
Approved

Last updated: November 25, 2025View editorial policy

Personalize

Help us tailor your experience

Which best describes you? Your choice helps us use language that's most understandable for you.

Silodosin untuk Pengobatan Benign Prostatic Hyperplasia (BPH)

Silodosin adalah pilihan pengobatan yang tepat dan efektif untuk pasien dengan gejala sedang hingga berat dari BPH, dengan dosis standar 8 mg sekali sehari bersama makanan. 1, 2

Efikasi Klinis

Silodosin merupakan antagonis reseptor alpha-1 adrenergik yang sangat selektif untuk reseptor alpha-1A, yang disetujui FDA untuk pengobatan tanda dan gejala BPH 2. Pedoman American Urological Association (AUA) 2021 merekomendasikan silodosin sebagai salah satu dari lima alpha blocker yang dapat digunakan untuk pasien dengan gejala LUTS/BPH sedang hingga berat yang mengganggu 1.

Perbaikan Gejala

  • Silodosin menghasilkan perbaikan skor IPSS rata-rata 4-7 poin dibandingkan plasebo (2-4 poin), yang dianggap sebagai perubahan bermakna yang dapat dirasakan pasien 1
  • Dalam uji klinis fase III, silodosin menunjukkan perbaikan skor IPSS total sebesar -6.4 poin dibandingkan -3.5 poin pada plasebo (p < 0.0001) 3
  • Silodosin meningkatkan laju aliran urin maksimal (Qmax) sekitar 2.8 mL/detik, yang sebanding dengan alpha blocker lainnya 3
  • Perbaikan gejala dapat terjadi secepat 1 hari setelah inisiasi terapi 3

Perbandingan dengan Alpha Blocker Lain

Silodosin memiliki efikasi yang setara dengan tamsulosin dalam memperbaiki gejala BPH 1, 4. Uji klinis di Eropa menunjukkan silodosin setidaknya sama efektifnya dengan tamsulosin 0.4 mg sekali sehari dalam memperbaiki skor IPSS total 5. Analisis post hoc menunjukkan silodosin lebih efektif daripada plasebo dan tamsulosin dalam memperbaiki nokturia, frekuensi, dan pengosongan kandung kemih yang tidak lengkap secara bersamaan 5.

Dosis dan Pemberian

Dosis Standar

  • Dosis yang direkomendasikan adalah 8 mg sekali sehari bersama makanan 2
  • Kapsul dapat dibuka dan ditaburkan pada satu sendok makan saus apel untuk pasien yang kesulitan menelan, harus ditelan dalam 5 menit tanpa dikunyah 2

Penyesuaian Dosis pada Populasi Khusus

Gangguan ginjal:

  • Gangguan ginjal berat (CCr < 30 mL/min): KONTRAINDIKASI 2
  • Gangguan ginjal sedang (CCr 30-50 mL/min): kurangi dosis menjadi 4 mg sekali sehari 2
  • Gangguan ginjal ringan (CCr 50-80 mL/min): tidak perlu penyesuaian dosis 2

Gangguan hati:

  • Gangguan hati berat (Child-Pugh score ≥10): KONTRAINDIKASI 2
  • Gangguan hati ringan hingga sedang: tidak perlu penyesuaian dosis 2

Profil Keamanan dan Efek Samping

Efek Samping Utama

Ejakulasi abnormal atau retrograde adalah efek samping paling umum (>22%), namun hanya 2.8% pasien menghentikan pengobatan karena hal ini 6, 7. Dalam studi jangka panjang 40 minggu, 20.9% pasien mengalami ejakulasi retrograde 7.

Keunggulan Kardiovaskular

Silodosin memiliki insiden efek samping kardiovaskular yang sangat rendah:

  • Hipotensi ortostatik terjadi pada <3% pasien 6, 7
  • Pusing terjadi pada 2.9% pasien 7
  • Perubahan tekanan darah minimal: silodosin menyebabkan perubahan tekanan darah sistolik hanya -0.1 mmHg (p=0.96), dibandingkan tamsulosin yang menurunkan -4.2 mmHg (p=0.004) 4

Selektivitas tinggi silodosin untuk reseptor alpha-1A (583 kali lebih tinggi daripada alpha-1B) meminimalkan efek samping terkait tekanan darah yang dimediasi oleh blokade alpha-1B 6.

Efek Samping Lain

  • Diare (4.1%) 7
  • Nasofaringitis (3.6%) 7
  • Kongesti hidung (efek kelas alpha blocker) 1

Pertimbangan Penting

Peringatan Khusus

Pasien dengan rencana operasi katarak harus diberitahu tentang risiko Intraoperative Floppy Iris Syndrome (IFIS) dan disarankan untuk menunda inisiasi terapi alpha blocker sampai setelah prosedur 1. Ini adalah efek kelas untuk semua alpha blocker.

Hipotensi postural dengan atau tanpa gejala (misalnya pusing) dapat terjadi saat memulai terapi silodosin 2. Pasien harus diperingatkan tentang mengemudi, mengoperasikan mesin, atau melakukan tugas berbahaya saat memulai terapi 2.

Kontraindikasi

Silodosin dikontraindikasikan pada 2:

  • Gangguan ginjal berat (CCr < 30 mL/min)
  • Gangguan hati berat (Child-Pugh score ≥10)
  • Pemberian bersamaan dengan inhibitor CYP3A4 kuat (misalnya ketoconazole, clarithromycin, itraconazole, ritonavir)
  • Riwayat hipersensitivitas terhadap silodosin

Efikasi Jangka Panjang

Studi ekstensi open-label menunjukkan silodosin memberikan perbaikan gejala BPH yang berkelanjutan hingga 1 tahun 5. Dalam studi 40 minggu, perubahan skor IPSS dari baseline adalah -4.5 poin untuk pasien yang baru memulai silodosin (p<0.0001) 7.

Pemilihan Alpha Blocker

Pedoman AUA 2021 menyatakan bahwa pemilihan alpha blocker harus didasarkan pada usia pasien, komorbiditas, dan profil efek samping yang berbeda (misalnya disfungsi ejakulasi, perubahan tekanan darah) 1.

Silodosin paling sesuai untuk:

  • Pasien yang memerlukan efek samping kardiovaskular minimal 6, 4
  • Pasien dengan hipertensi atau faktor risiko kardiak yang memerlukan manajemen terpisah untuk hipertensi mereka 1
  • Pasien yang dapat mentolerir atau tidak terganggu oleh kemungkinan ejakulasi retrograde 7

Catatan penting: Silodosin tidak diindikasikan untuk pengobatan hipertensi 2, sehingga pasien dengan hipertensi bersamaan mungkin memerlukan manajemen terpisah untuk kondisi tersebut 1.

Professional Medical Disclaimer

This information is intended for healthcare professionals. Any medical decision-making should rely on clinical judgment and independently verified information. The content provided herein does not replace professional discretion and should be considered supplementary to established clinical guidelines. Healthcare providers should verify all information against primary literature and current practice standards before application in patient care. Dr.Oracle assumes no liability for clinical decisions based on this content.

Have a follow-up question?

Our Medical A.I. is used by practicing medical doctors at top research institutions around the world. Ask any follow up question and get world-class guideline-backed answers instantly.