Rekomendasi Monoterapi Lini Pertama untuk Hipertensi Esensial dalam Setting Budget Terbatas BPJS Indonesia
Untuk klinik dengan keterbatasan budget di bawah sistem kapitasi BPJS Indonesia, diuretik thiazide (seperti hidroklorotiazid) atau ACE inhibitor (seperti enalapril) merupakan pilihan monoterapi lini pertama yang paling cost-effective untuk hipertensi esensial, dengan keduanya terbukti menurunkan morbiditas dan mortalitas kardiovaskular. 1, 2
Pilihan Obat Berdasarkan Efektivitas Biaya
Diuretik Thiazide sebagai Pilihan Utama
- Diuretik thiazide (hidroklorotiazid) atau thiazide-like (indapamid, klortalidone) adalah pilihan paling cost-effective untuk setting dengan budget terbatas karena harganya sangat terjangkau dan terbukti menurunkan kejadian kardiovaskular 1, 2
- Dosis awal yang direkomendasikan adalah dosis rendah untuk meminimalkan efek samping metabolik 1
- Efektivitas dalam menurunkan tekanan darah sebesar 20-30% untuk setiap penurunan 10 mmHg sistolik 2
ACE Inhibitor sebagai Alternatif Setara
- ACE inhibitor (seperti enalapril) merupakan pilihan alternatif yang juga sangat cost-effective dengan profil efektivitas yang setara dengan diuretik 1, 2
- Dosis awal enalapril adalah 5 mg sekali sehari untuk pasien tanpa diuretik, dapat ditingkatkan hingga 10-40 mg per hari 3
- ACE inhibitor memiliki keunggulan tambahan dalam proteksi organ target, terutama pada pasien dengan diabetes atau penyakit ginjal kronik 1
Calcium Channel Blocker (CCB) sebagai Pilihan Ketiga
- CCB dihydropyridine (seperti amlodipin) juga merupakan obat lini pertama yang efektif, namun umumnya lebih mahal dibanding diuretik atau ACE inhibitor 1, 4
- Di Indonesia, CCB lebih sering digunakan pada pasien usia lanjut (>60 tahun) 5
- Amlodipin dosis 5 mg sekali sehari adalah dosis awal yang tepat 6
Algoritma Pemilihan Monoterapi Berdasarkan Karakteristik Pasien
Untuk Pasien Usia <65 Tahun Tanpa Komorbid
- Mulai dengan diuretik thiazide dosis rendah (hidroklorotiazid 12.5-25 mg) sebagai pilihan paling ekonomis 1
- Jika ada kontraindikasi (gout, intoleransi glukosa, sindrom metabolik), gunakan ACE inhibitor (enalapril 5 mg) 1, 3
- Jika kedua kelas di atas tidak dapat digunakan, pilih CCB (amlodipin 5 mg) 1, 6
Untuk Pasien Usia ≥65 Tahun
- CCB atau diuretik thiazide keduanya merupakan pilihan yang baik 1, 5
- Target tekanan darah lebih fleksibel (<140/90 mmHg) dengan mempertimbangkan tolerabilitas 1
Pertimbangan Khusus Komorbiditas
- Diabetes atau penyakit ginjal kronik: Prioritaskan ACE inhibitor karena efek renoprotektif 1, 2
- Penyakit arteri perifer: Hindari beta-blocker, gunakan diuretik atau ACE inhibitor 1
- Asma atau PPOK: Hindari beta-blocker, gunakan salah satu dari tiga kelas utama 1
- Kehamilan: Kontraindikasi absolut untuk ACE inhibitor dan ARB 1
Kontraindikasi yang Harus Dihindari
Diuretik Thiazide
- Kontraindikasi compelling: Gout 1
- Kontraindikasi possible: Sindrom metabolik, intoleransi glukosa, kehamilan 1
ACE Inhibitor
- Kontraindikasi compelling: Kehamilan, angioedema, hiperkalemia, stenosis arteri renalis bilateral 1
- Pantau fungsi ginjal dan kalium serum dalam 2-4 minggu pertama 3
Target Tekanan Darah dan Monitoring
- Target optimal untuk usia <65 tahun: 120-129/70-79 mmHg jika dapat ditoleransi 1
- Target untuk usia ≥65 tahun: <140/90 mmHg, dengan individualisasi berdasarkan frailty 1
- Evaluasi respons terapi dalam 2-4 minggu setelah inisiasi atau perubahan dosis 1
- Jika target tidak tercapai dengan monoterapi dosis penuh setelah 3-6 bulan, pertimbangkan kombinasi dua obat 1
Catatan Penting untuk Praktik Klinis
Meskipun guideline terbaru merekomendasikan terapi kombinasi sebagai lini pertama untuk sebagian besar pasien hipertensi 1, dalam konteks budget terbatas BPJS dengan sistem kapitasi, monoterapi tetap merupakan pendekatan yang rasional dan cost-effective untuk memulai terapi, terutama pada pasien dengan hipertensi grade 1 (140-159/90-99 mmHg) dan risiko kardiovaskular rendah-sedang 1
- Sekitar 20-30% pasien hipertensi grade 1 dapat mencapai target dengan monoterapi 1
- Adherence terhadap monoterapi umumnya lebih baik pada tahap awal, terutama jika menggunakan obat generik yang terjangkau 1, 5
- Di Indonesia, masalah utama adalah rendahnya kontrol tekanan darah (hanya 44% terkontrol <140/90 mmHg), sehingga memulai terapi dengan obat yang terjangkau dan dapat diakses lebih penting daripada langsung menggunakan kombinasi yang lebih mahal 5, 2