Monitoring Setelah Pemberian Obat Antihipertensi
Pasien yang memulai atau menyesuaikan terapi obat antihipertensi harus dievaluasi setiap bulan hingga tekanan darah terkontrol, kemudian setiap 3-6 bulan setelahnya. 1
Jadwal Monitoring Klinis
Fase Titrasi (Hingga Tekanan Darah Terkontrol)
- Kunjungan follow-up setiap 4-6 minggu diperlukan untuk titrasi dosis dan penambahan obat hingga target tekanan darah tercapai dengan aman 1
- Beberapa pedoman merekomendasikan evaluasi bulanan untuk penilaian kepatuhan dan respons terhadap terapi 1
- Pada anak dan remaja dengan hipertensi, follow-up setiap 4-6 minggu diperlukan untuk penyesuaian dosis hingga tekanan darah normal tercapai 1
Fase Pemeliharaan (Setelah Tekanan Darah Terkontrol)
- Setelah target tekanan darah tercapai, monitoring laboratorium dan kunjungan klinik setiap 3-6 bulan, tergantung pada obat yang digunakan dan stabilitas pasien 1
- Pada anak yang hanya menjalani modifikasi gaya hidup, follow-up dapat dilakukan setiap 3-6 bulan 1
Monitoring Laboratorium
Pemeriksaan Awal (Baseline)
- Panel metabolik komprehensif termasuk elektrolit, BUN, kreatinin serum, glukosa puasa, fungsi hati, dan TSH sebelum memulai terapi 2
- Urinalisis untuk skrining proteinuria dan penyakit ginjal 2
- Profil lipid untuk stratifikasi risiko kardiovaskular 2
Monitoring Pasca-Inisiasi
Untuk inhibitor RAS (ACE inhibitor/ARB) atau diuretik: periksa panel metabolik dasar dalam 2-4 minggu setelah memulai atau titrasi terapi 1, 2
- Pedoman ACC/AHA 2017 secara eksplisit menyatakan untuk memeriksa elektrolit dan fungsi ginjal 2-4 minggu setelah memulai inhibitor RAS atau diuretik 1
- Untuk diuretik tiazid khususnya, periksa elektrolit dalam 4 minggu karena risiko hipokalemia dan hiponatremia, terutama pada pasien lanjut usia 1, 2
- Monitoring kalium sangat penting saat menggunakan ACE inhibitor/ARB karena risiko hiperkalemia, terutama pada pasien dengan insufisiensi ginjal atau diabetes 2, 3
Frekuensi Monitoring Berkelanjutan
- Pada pasien dengan gangguan ginjal pre-eksisting, lanjut usia, atau diabetes mellitus, diperlukan pemeriksaan laboratorium lebih sering karena peningkatan risiko ketidakseimbangan elektrolit dan cedera ginjal 2
- Setelah stabil, monitoring elektrolit dan fungsi ginjal setiap 6-12 bulan atau lebih sering jika menggunakan inhibitor RAS atau antagonis reseptor mineralokortikoid 4
Monitoring Tekanan Darah di Rumah
- Home blood pressure monitoring (HBPM) harus digunakan secara sistematis untuk menghindari hipotensi (tekanan darah sistolik <110 mmHg) selama titrasi obat 1, 2
- HBPM membantu mendeteksi white coat hypertension, masked hypertension, dan membantu mencapai target tekanan darah 1
- Pasien harus dilatih untuk menahan atau mengurangi dosis obat antihipertensi saat asupan oral menurun atau dengan muntah/diare untuk mencegah deplesi volume dan acute kidney injury 1
Komponen Evaluasi Follow-Up
Setiap kunjungan follow-up harus mencakup 1:
- Penilaian kontrol tekanan darah
- Evaluasi hipotensi ortostatik pada pasien terpilih (misalnya, lanjut usia atau dengan gejala postural)
- Efek samping dari terapi obat
- Kepatuhan terhadap obat dan terapi gaya hidup
- Kebutuhan penyesuaian dosis obat
- Pemantauan perubahan gejala pasien, termasuk kelelahan dan pusing 1
Pertimbangan Khusus Berdasarkan Komorbiditas
Pasien dengan Penyakit Ginjal Kronis (CKD)
- Monitoring fungsi ginjal sangat penting selama beberapa minggu pertama terapi, terutama dengan ACE inhibitor 3
- Pada pasien dengan stenosis arteri ginjal bilateral atau unilateral, peningkatan BUN dan kreatinin serum dapat terjadi dan biasanya reversibel setelah penghentian terapi 3
- Pada pasien dengan infark miokard akut, hati-hati memulai terapi jika kreatinin serum >2 mg/dL, dan pertimbangkan penghentian jika kreatinin >3 mg/dL atau berlipat ganda dari nilai awal 3
Pasien dengan Hipertensi Stage 2
- Pasien dengan tekanan darah ≥160/100 mmHg harus segera diobati, dipantau dengan hati-hati, dan dosis obat disesuaikan ke atas sesuai kebutuhan 1
- Pertimbangkan inisiasi dengan 2 agen antihipertensi dari kelas berbeda untuk hipertensi stage 2 1
Peringatan Penting
- Jangan melewatkan pemeriksaan laboratorium baseline karena esensial untuk pemilihan obat, dosis, dan identifikasi penyebab sekunder hipertensi 2
- Jangan berasumsi tiazid tidak efektif pada CKD lanjut - chlorthalidone dapat menurunkan tekanan darah bahkan dengan eGFR <30 mL/min/1.73m², tetapi memerlukan monitoring elektrolit 1, 2
- Pasien harus diperingatkan untuk menghubungi dokter jika mengalami gejala ketidakseimbangan elektrolit seperti rasa haus berlebihan, nyeri otot, atau mual 2