Profilaksis Antibiotik pada Operasi Transplantasi Ginjal
Berikan dosis tunggal cefazolin 1-2 gram intravena 30-60 menit sebelum insisi bedah sebagai profilaksis antibiotik perioperatif standar untuk transplantasi ginjal. 1, 2, 3
Regimen Profilaksis yang Direkomendasikan
Pilihan Utama: Dosis Tunggal Cefazolin
- Cefazolin 1-2 gram IV diberikan 30-60 menit sebelum insisi bedah merupakan regimen yang paling efektif dan aman 2, 3
- Dosis tunggal (single-dose) sama efektifnya dengan regimen multi-dosis yang lebih lama, dengan angka infeksi luka operasi yang rendah (3,9%) 2, 3
- Regimen dosis tunggal mengurangi risiko resistensi antibiotik dibandingkan dengan pemberian multi-dosis 2
Durasi Profilaksis
- Profilaksis antibiotik perioperatif harus dibatasi pada dosis tunggal pra-operasi saja 4, 2
- Perpanjangan profilaksis hingga 24 jam pasca-operasi dapat dipertimbangkan untuk prosedur yang sangat berisiko tinggi, tetapi tidak ada bukti kuat yang mendukung manfaat tambahan 5, 4
- Pemberian antibiotik lebih dari 24 jam meningkatkan risiko resistensi tanpa memberikan manfaat tambahan 4
Pertimbangan Khusus untuk Pasien Transplantasi Ginjal
Skrining untuk Bakteri Resisten Multi-Obat (MDR)
- Lakukan skrining rektal untuk Enterobacterales resisten sefalosporin spektrum luas sebelum transplantasi organ padat 1
- Pertimbangkan skrining untuk Carbapenem-Resistant Enterobacterales (CRE) dan Carbapenem-Resistant Acinetobacter baumannii (CRAB) berdasarkan epidemiologi lokal 1
- Jika pasien terkolonisasi MDR-GNB, sesuaikan profilaksis antibiotik berdasarkan pola sensitivitas 1
Alternatif untuk Pasien dengan Alergi Penisilin
- Untuk pasien alergi beta-laktam: vancomycin 1 gram IV selama 1-2 jam ditambah gentamicin 1,5 mg/kg IV 1
- Clindamycin 600 mg IV dapat dipertimbangkan sebagai alternatif 1
Profilaksis Infeksi Pasca-Transplantasi (Bukan Perioperatif)
Profilaksis Infeksi Saluran Kemih
- Semua resipien transplantasi ginjal harus menerima trimethoprim-sulfamethoxazole harian selama minimal 6 bulan pasca-transplantasi untuk profilaksis ISK 1
- Regimen ini juga memberikan perlindungan terhadap Pneumocystis jirovecii pneumonia 1
Profilaksis Pneumocystis jirovecii
- Berikan trimethoprim-sulfamethoxazole harian selama 3-6 bulan pasca-transplantasi 1
- Perpanjang profilaksis minimal 6 minggu selama dan setelah pengobatan rejeksi akut 1
Peringatan Penting dan Kesalahan yang Harus Dihindari
Resistensi Antibiotik
- Hindari fluoroquinolone (ciprofloxacin) sebagai profilaksis rutin karena tingginya tingkat resistensi pada E. coli (patogen ISK paling umum pada resipien transplantasi ginjal) 6, 7
- Resistensi terhadap co-trimoxazole dan ciprofloxacin sangat tinggi pada E. coli di populasi transplantasi ginjal 7
- Carbapenem harus dicadangkan untuk infeksi terbukti, bukan profilaksis rutin 7
Faktor Risiko Infeksi Luka Operasi
- Reoperasi adalah faktor risiko independen untuk infeksi luka operasi (adjusted OR: 6,963) 3
- Pasien yang menjalani reoperasi memerlukan pemantauan lebih ketat untuk tanda-tanda infeksi 3
Interaksi Obat
- Jika pasien memerlukan pengobatan tuberkulosis dengan rifampisin, monitor ketat kadar tacrolimus karena rifampisin menginduksi CYP3A4 dan menurunkan kadar tacrolimus secara signifikan 1, 8
- Pertimbangkan rifabutin sebagai pengganti rifampisin untuk meminimalkan interaksi 1, 8
Penyesuaian Dosis untuk Gangguan Ginjal
- Meskipun cefazolin aman, pasien dengan clearance creatinine <55 mL/min memerlukan penyesuaian dosis 5
- Untuk clearance creatinine 35-54 mL/min: berikan dosis penuh dengan interval minimal 8 jam 5
- Untuk clearance creatinine 11-34 mL/min: berikan setengah dosis setiap 12 jam 5
Pola Resistensi yang Perlu Diperhatikan
Patogen Umum dan Pola Resistensi
- E. coli adalah patogen paling umum (36,8% dari ISK), diikuti oleh Enterococcus sp. dan Staphylococcus aureus 6, 7
- E. coli menunjukkan sensitivitas tinggi terhadap carbapenem dan nitrofurantoin, tetapi resistensi tinggi terhadap co-trimoxazole dan ciprofloxacin 7
- Klebsiella pneumoniae penghasil ESBL adalah patogen MDR paling umum (26% dari infeksi luka operasi) 3
- Methicillin-Resistant Staphylococcus aureus (MRSA) dan Vancomycin-Resistant Enterococcus (VRE) merupakan ancaman utama di unit transplantasi ginjal 7