Terapi Inkontinensia Urin
Algoritma Terapi Berdasarkan Tipe Inkontinensia
Untuk inkontinensia urin stres, latihan otot dasar panggul (pelvic floor muscle training/PFMT) yang diawasi profesional kesehatan adalah terapi lini pertama yang wajib diberikan, sementara untuk inkontinensia urin urgensi, bladder training merupakan intervensi awal yang harus dicoba sebelum mempertimbangkan farmakoterapi. 1, 2
Inkontinensia Urin Stres
Terapi Lini Pertama (Wajib Dicoba Terlebih Dahulu)
- PFMT yang diawasi profesional kesehatan menunjukkan efektivitas lebih dari 5 kali lipat dibandingkan tanpa terapi aktif, dengan tingkat keberhasilan jangka panjang 85-92% 1, 2
- PFMT melibatkan kontraksi otot dasar panggul berulang yang diajarkan dan diawasi oleh tenaga kesehatan profesional, bukan latihan mandiri tanpa supervisi 1
- Modifikasi gaya hidup harus dilakukan bersamaan: penurunan berat badan untuk pasien obesitas (dengan bukti kualitas sedang menunjukkan manfaat khusus untuk inkontinensia stres), asupan cairan yang adekuat namun tidak berlebihan 1, 2
Terapi Farmakologis
- Tidak ada terapi farmakologis sistemik yang terbukti efektif untuk inkontinensia urin stres dan tidak direkomendasikan 1, 2
- Ini adalah kesalahan umum yang harus dihindari - jangan memberikan obat antikolinergik atau agonis beta-3 untuk inkontinensia stres murni karena tidak efektif 2
Terapi Bedah (Hanya Jika Terapi Konservatif Gagal)
- Synthetic midurethral mesh slings adalah prosedur bedah primer paling umum, dengan tingkat perbaikan gejala 48-90% 1, 2
- Autologous fascia pubovaginal sling menunjukkan keberhasilan 85-92% dengan follow-up 3-15 tahun 2
- Komplikasi bedah dapat mencakup cedera saluran kemih bawah, perdarahan, infeksi, cedera usus, dan komplikasi luka 1
Inkontinensia Urin Urgensi
Terapi Lini Pertama (Intervensi Perilaku)
- Bladder training adalah terapi awal utama, melibatkan jadwal berkemih dengan interval yang semakin panjang antara kunjungan ke kamar mandi 1, 2
- Menambahkan PFMT pada bladder training tidak meningkatkan kontinensia dibandingkan bladder training saja untuk inkontinensia urgensi murni 1
- Jangan pernah memulai obat sebelum mencoba intervensi perilaku - ini melanggar pendekatan stepped-care berbasis bukti 2
Terapi Farmakologis Lini Kedua
Pilihan Obat Antikolinergik:
- Oxybutynin, tolterodine, darifenacin, solifenacin, fesoterodine, dan trospium semuanya meningkatkan tingkat kontinensia dengan besaran manfaat sedang 1
- Semua agen menunjukkan efektivitas serupa, sehingga pemilihan obat harus berdasarkan tolerabilitas, profil efek samping, kemudahan penggunaan, dan biaya - bukan efikasi 1
- Efek samping antikolinergik (mulut kering, konstipasi, gangguan kognitif) adalah alasan utama penghentian pengobatan 1
Pilihan Agonis Beta-3:
- Mirabegron diindikasikan untuk pengobatan overactive bladder pada pasien dewasa dengan gejala inkontinensia urin urgensi, urgensi, dan frekuensi berkemih 3
- Dosis awal mirabegron yang direkomendasikan adalah 25 mg oral sekali sehari, dapat ditingkatkan menjadi dosis maksimum 50 mg oral sekali sehari setelah 4-8 minggu jika diperlukan 3
- Mirabegron 50 mg efektif dalam 4 minggu, mengurangi episode inkontinensia (perbedaan dari plasebo -0.34 hingga -0.42 episode per 24 jam, p<0.05) dan frekuensi miksi (perbedaan dari plasebo -0.42 hingga -0.61 miksi per 24 jam, p<0.05) 3
- Mirabegron dapat menjadi alternatif yang lebih baik karena profil efek samping yang berbeda dari antikolinergik, terutama untuk pasien yang tidak dapat mentoleransi efek antikolinergik 4
Penyesuaian Dosis untuk Kondisi Khusus
- Untuk pasien dengan eGFR 30-89 mL/min/1.73 m²: dosis awal 25 mg, maksimum 50 mg 3
- Untuk pasien dengan eGFR 15-29 mL/min/1.73 m²: dosis awal dan maksimum 25 mg 3
- Untuk pasien dengan gangguan hati Child-Pugh Class A (ringan): dosis awal 25 mg, maksimum 50 mg 3
- Untuk pasien dengan gangguan hati Child-Pugh Class B (sedang): dosis awal dan maksimum 25 mg 3
- Tidak direkomendasikan untuk eGFR <15 mL/min/1.73 m² atau memerlukan dialisis, atau gangguan hati Child-Pugh Class C (berat) 3
Terapi Spesialis (Jika Farmakoterapi Gagal)
Inkontinensia Urin Campuran
- Tangani komponen stres dengan PFMT yang diawasi 1, 2
- Tangani komponen urgensi dengan bladder training 1, 2
- Pertimbangkan farmakoterapi untuk komponen urgensi hanya setelah intervensi perilaku 1
Intervensi Universal untuk Semua Tipe
- Penurunan berat badan dan olahraga untuk wanita obesitas dengan bukti kualitas sedang menunjukkan manfaat khusus untuk inkontinensia stres 2
- Kurangi asupan kafein 4
- Hindari konsumsi cairan berlebihan namun pastikan hidrasi adekuat 1, 2
- Atasi faktor risiko yang dapat dimodifikasi seperti konstipasi 2
Kesalahan Umum yang Harus Dihindari
- Jangan melewatkan intervensi perilaku - bladder training dan PFMT memiliki bukti kuat dan harus selalu dicoba terlebih dahulu 1, 2
- Jangan gunakan terapi farmakologis sistemik untuk inkontinensia stres - ini tidak efektif dan merupakan pengobatan yang salah untuk kondisi yang salah 1, 2
- Konseling pasien tentang efek samping antikolinergik di awal - tetapkan ekspektasi realistis tentang mulut kering, konstipasi, dan potensi efek kognitif untuk meningkatkan kepatuhan 1
- Timbang keparahan gejala terhadap efek samping obat - tidak semua pasien memerlukan farmakoterapi jika gejala ringan dan tindakan perilaku memberikan kelegaan yang adekuat 1
- Pastikan teknik PFMT yang tepat dengan supervisi profesional untuk menghindari kegagalan pengobatan 2
- Waspadai bahwa obat antikolinergik yang digunakan untuk mengobati inkontinensia urgensi dapat secara paradoks menyebabkan retensi urin, terutama pada wanita lanjut usia 6