What are the treatment options for urinary incontinence?

Medical Advisory BoardAll articles are reviewed for accuracy by our Medical Advisory Board
Educational purpose only • Exercise caution as content is pending human review
Article Review Status
Submitted
Under Review
Approved

Last updated: November 27, 2025View editorial policy

Personalize

Help us tailor your experience

Which best describes you? Your choice helps us use language that's most understandable for you.

Terapi Inkontinensia Urin

Algoritma Terapi Berdasarkan Tipe Inkontinensia

Untuk inkontinensia urin stres, latihan otot dasar panggul (pelvic floor muscle training/PFMT) yang diawasi profesional kesehatan adalah terapi lini pertama yang wajib diberikan, sementara untuk inkontinensia urin urgensi, bladder training merupakan intervensi awal yang harus dicoba sebelum mempertimbangkan farmakoterapi. 1, 2

Inkontinensia Urin Stres

Terapi Lini Pertama (Wajib Dicoba Terlebih Dahulu)

  • PFMT yang diawasi profesional kesehatan menunjukkan efektivitas lebih dari 5 kali lipat dibandingkan tanpa terapi aktif, dengan tingkat keberhasilan jangka panjang 85-92% 1, 2
  • PFMT melibatkan kontraksi otot dasar panggul berulang yang diajarkan dan diawasi oleh tenaga kesehatan profesional, bukan latihan mandiri tanpa supervisi 1
  • Modifikasi gaya hidup harus dilakukan bersamaan: penurunan berat badan untuk pasien obesitas (dengan bukti kualitas sedang menunjukkan manfaat khusus untuk inkontinensia stres), asupan cairan yang adekuat namun tidak berlebihan 1, 2

Terapi Farmakologis

  • Tidak ada terapi farmakologis sistemik yang terbukti efektif untuk inkontinensia urin stres dan tidak direkomendasikan 1, 2
  • Ini adalah kesalahan umum yang harus dihindari - jangan memberikan obat antikolinergik atau agonis beta-3 untuk inkontinensia stres murni karena tidak efektif 2

Terapi Bedah (Hanya Jika Terapi Konservatif Gagal)

  • Synthetic midurethral mesh slings adalah prosedur bedah primer paling umum, dengan tingkat perbaikan gejala 48-90% 1, 2
  • Autologous fascia pubovaginal sling menunjukkan keberhasilan 85-92% dengan follow-up 3-15 tahun 2
  • Komplikasi bedah dapat mencakup cedera saluran kemih bawah, perdarahan, infeksi, cedera usus, dan komplikasi luka 1

Inkontinensia Urin Urgensi

Terapi Lini Pertama (Intervensi Perilaku)

  • Bladder training adalah terapi awal utama, melibatkan jadwal berkemih dengan interval yang semakin panjang antara kunjungan ke kamar mandi 1, 2
  • Menambahkan PFMT pada bladder training tidak meningkatkan kontinensia dibandingkan bladder training saja untuk inkontinensia urgensi murni 1
  • Jangan pernah memulai obat sebelum mencoba intervensi perilaku - ini melanggar pendekatan stepped-care berbasis bukti 2

Terapi Farmakologis Lini Kedua

Pilihan Obat Antikolinergik:

  • Oxybutynin, tolterodine, darifenacin, solifenacin, fesoterodine, dan trospium semuanya meningkatkan tingkat kontinensia dengan besaran manfaat sedang 1
  • Semua agen menunjukkan efektivitas serupa, sehingga pemilihan obat harus berdasarkan tolerabilitas, profil efek samping, kemudahan penggunaan, dan biaya - bukan efikasi 1
  • Efek samping antikolinergik (mulut kering, konstipasi, gangguan kognitif) adalah alasan utama penghentian pengobatan 1

Pilihan Agonis Beta-3:

  • Mirabegron diindikasikan untuk pengobatan overactive bladder pada pasien dewasa dengan gejala inkontinensia urin urgensi, urgensi, dan frekuensi berkemih 3
  • Dosis awal mirabegron yang direkomendasikan adalah 25 mg oral sekali sehari, dapat ditingkatkan menjadi dosis maksimum 50 mg oral sekali sehari setelah 4-8 minggu jika diperlukan 3
  • Mirabegron 50 mg efektif dalam 4 minggu, mengurangi episode inkontinensia (perbedaan dari plasebo -0.34 hingga -0.42 episode per 24 jam, p<0.05) dan frekuensi miksi (perbedaan dari plasebo -0.42 hingga -0.61 miksi per 24 jam, p<0.05) 3
  • Mirabegron dapat menjadi alternatif yang lebih baik karena profil efek samping yang berbeda dari antikolinergik, terutama untuk pasien yang tidak dapat mentoleransi efek antikolinergik 4

Penyesuaian Dosis untuk Kondisi Khusus

  • Untuk pasien dengan eGFR 30-89 mL/min/1.73 m²: dosis awal 25 mg, maksimum 50 mg 3
  • Untuk pasien dengan eGFR 15-29 mL/min/1.73 m²: dosis awal dan maksimum 25 mg 3
  • Untuk pasien dengan gangguan hati Child-Pugh Class A (ringan): dosis awal 25 mg, maksimum 50 mg 3
  • Untuk pasien dengan gangguan hati Child-Pugh Class B (sedang): dosis awal dan maksimum 25 mg 3
  • Tidak direkomendasikan untuk eGFR <15 mL/min/1.73 m² atau memerlukan dialisis, atau gangguan hati Child-Pugh Class C (berat) 3

Terapi Spesialis (Jika Farmakoterapi Gagal)

  • Injeksi onabotulinumtoxinA 4, 5
  • Stimulasi saraf tibialis perkutan 4, 5
  • Neuromodulasi sakral 4, 5

Inkontinensia Urin Campuran

  • Tangani komponen stres dengan PFMT yang diawasi 1, 2
  • Tangani komponen urgensi dengan bladder training 1, 2
  • Pertimbangkan farmakoterapi untuk komponen urgensi hanya setelah intervensi perilaku 1

Intervensi Universal untuk Semua Tipe

  • Penurunan berat badan dan olahraga untuk wanita obesitas dengan bukti kualitas sedang menunjukkan manfaat khusus untuk inkontinensia stres 2
  • Kurangi asupan kafein 4
  • Hindari konsumsi cairan berlebihan namun pastikan hidrasi adekuat 1, 2
  • Atasi faktor risiko yang dapat dimodifikasi seperti konstipasi 2

Kesalahan Umum yang Harus Dihindari

  • Jangan melewatkan intervensi perilaku - bladder training dan PFMT memiliki bukti kuat dan harus selalu dicoba terlebih dahulu 1, 2
  • Jangan gunakan terapi farmakologis sistemik untuk inkontinensia stres - ini tidak efektif dan merupakan pengobatan yang salah untuk kondisi yang salah 1, 2
  • Konseling pasien tentang efek samping antikolinergik di awal - tetapkan ekspektasi realistis tentang mulut kering, konstipasi, dan potensi efek kognitif untuk meningkatkan kepatuhan 1
  • Timbang keparahan gejala terhadap efek samping obat - tidak semua pasien memerlukan farmakoterapi jika gejala ringan dan tindakan perilaku memberikan kelegaan yang adekuat 1
  • Pastikan teknik PFMT yang tepat dengan supervisi profesional untuk menghindari kegagalan pengobatan 2
  • Waspadai bahwa obat antikolinergik yang digunakan untuk mengobati inkontinensia urgensi dapat secara paradoks menyebabkan retensi urin, terutama pada wanita lanjut usia 6

Definisi Keberhasilan Klinis

  • Pengobatan yang berhasil secara klinis didefinisikan sebagai pengurangan frekuensi episode inkontinensia urin setidaknya 50% 1
  • Tidak ada bahaya yang teridentifikasi dalam studi intervensi perilaku seperti PFMT atau program penurunan berat badan 1

References

Guideline

Treatment of Urinary Incontinence in Women

Praxis Medical Insights: Practical Summaries of Clinical Guidelines, 2025

Guideline

Treatment for Urinary Incontinence

Praxis Medical Insights: Practical Summaries of Clinical Guidelines, 2025

Guideline

Urinary Retention in Women: Diagnostic Evaluation and Management

Praxis Medical Insights: Practical Summaries of Clinical Guidelines, 2025

Professional Medical Disclaimer

This information is intended for healthcare professionals. Any medical decision-making should rely on clinical judgment and independently verified information. The content provided herein does not replace professional discretion and should be considered supplementary to established clinical guidelines. Healthcare providers should verify all information against primary literature and current practice standards before application in patient care. Dr.Oracle assumes no liability for clinical decisions based on this content.

Have a follow-up question?

Our Medical A.I. is used by practicing medical doctors at top research institutions around the world. Ask any follow up question and get world-class guideline-backed answers instantly.