What are the key components to include when writing a book review on paraneoplastic syndromes?

Medical Advisory BoardAll articles are reviewed for accuracy by our Medical Advisory Board
Educational purpose only • Exercise caution as content is pending human review
Article Review Status
Submitted
Under Review
Approved

Last updated: November 29, 2025View editorial policy

Personalize

Help us tailor your experience

Which best describes you? Your choice helps us use language that's most understandable for you.

Panduan Membuat Book Review Sindrom Paraneoplastik

Struktur Komponen Utama yang Harus Disertakan

1. Definisi dan Klasifikasi Fundamental

Mulailah dengan mendefinisikan sindrom paraneoplastik sebagai manifestasi neurologis dan sistemik yang dimediasi imun akibat keganasan yang jauh, bukan dari efek metastasis langsung tumor. 1, 2

  • Jelaskan bahwa sindrom ini terjadi melalui dua mekanisme utama: sekresi hormonal/peptida oleh tumor dan mekanisme autoimun dengan antibodi yang bereaksi silang antara jaringan neoplastik dan normal 1, 3
  • Kategorikan sindrom paraneoplastik ke dalam lima kelompok besar: endokrin, neurologis, muskulokutaneus, hematologis, dan lainnya 2, 3
  • Tekankan bahwa kehadiran sindrom paraneoplastik tidak mengimplikasikan metastasis atau ketidakterobatan 4

2. Patofisiologi dan Mekanisme Imunologis

Bedakan dengan jelas antara dua kelompok imunologis utama yang memiliki implikasi prognostik berbeda:

  • Antibodi terhadap antigen intraseluler ("high-risk antibodies"): Termasuk anti-Hu, anti-Yo, anti-Ri, Ma2, Cv2/CRMP5, amphiphysin, dan Sox1/2, yang sangat spesifik untuk keganasan mendasar tetapi bukan patogenik langsung karena penyakit dimediasi oleh sitotoksisitas sel T 4, 5

  • Antibodi terhadap antigen permukaan neuronal ("intermediate/low-risk antibodies"): Termasuk antibodi terhadap kompleks VGKC (LGI1, CASPR2), NMDAR, AMPAR, GABA-BR, GlyR, VGCC, mGluR1/5, yang bersifat patogenik langsung dan umumnya responsif terhadap imunoterapi 4, 6

  • Jelaskan bahwa antibodi anti-Hu memiliki sensitivitas 82% dan spesifisitas 99% untuk diagnosis, dengan >90% kasus terkait small cell lung cancer 1

  • Diskusikan bahwa antibodi VGCC pada Lambert-Eaton myasthenic syndrome (LEMS) ditemukan pada >90% pasien dan secara langsung mengganggu pelepasan asetilkolin di neuromuscular junction 6

3. Manifestasi Klinis Spesifik

Uraikan sindrom neurologis klasik dengan detail klinis yang spesifik:

  • Ensefalitis limbik: Konfusi, gangguan memori, kejang, dan perubahan perilaku 4, 1
  • Degenerasi serebelar: Ataksia, disartria, dan inkoordinasi 4, 1
  • Ensefalomielitis batang otak: Kelemahan fokal, gangguan bicara, ketidakstabilan gait, dengan komplikasi serius termasuk epilepsi, status epileptikus, dan gagal napas sentral 1
  • Lambert-Eaton myasthenic syndrome: Kelemahan otot proksimal, disfungsi otonom, dengan respons inkremental pada stimulasi repetitif EMG 6
  • Opsoclonus-myoclonus-ataxia syndrome: Gerakan mata opsoclonus, mioklonus, dan ataksia 1

Untuk sindrom endokrin:

  • SIADH: Hiponatremia signifikan klinis pada 5-10% SCLC, dengan malaise, kelemahan, konfusi, osmolalitas serum rendah, dan osmolalitas urin yang tidak sesuai terkonsentrasi 4, 1
  • Cushing syndrome ektopik: Terjadi pada 1.6-4.5% SCLC, dengan peningkatan berat badan, moon facies, hipertensi, hiperglikemia, kortisol dan ACTH serum tinggi 4, 1

4. Tumor Terkait dan Asosiasi Spesifik

Identifikasi keganasan yang paling sering terkait dengan pola antibodi spesifik:

  • Small cell lung cancer: Terkait dengan anti-Hu (>90% kasus), anti-VGCC (LEMS), SIADH, dan Cushing syndrome ektopik 4, 1, 7
  • Kanker payudara dan ovarium: Terkait dengan anti-Yo, degenerasi serebelar paraneoplastik 4, 1
  • Teratoma: Terkait dengan ensefalitis anti-NMDAR, terutama pada anak-anak dan wanita muda 4
  • Thymoma: Terkait dengan antibodi permukaan neuronal 4, 7
  • Neuroblastoma: Pada anak-anak 7

5. Pendekatan Diagnostik Algoritmik

Tekankan bahwa konfirmasi diagnosis harus dilakukan paralel dengan inisiasi terapi untuk menghindari penundaan:

  • Lakukan pengujian antibodi serum dan CSF untuk antibodi onkoneural dan antibodi permukaan neuronal 4, 1
  • Lakukan pencitraan komprehensif (CT toraks/abdomen/pelvis, PET-CT) untuk mencari keganasan okulta 1, 3
  • Lakukan biopsi jaringan ketika diindikasikan untuk konfirmasi histologis 1
  • Singkirkan diagnosis diferensial: metastasis, penyakit reumatik yang tidak terkait, dan efek samping imun terkait checkpoint inhibitor 1
  • Untuk LEMS, konfirmasi dengan EMG menunjukkan respons inkremental terhadap stimulasi repetitif dan deteksi antibodi anti-VGCC 6

Caveat penting: Jangan menunggu hasil antibodi sebelum memulai terapi, karena penundaan memperburuk prognosis 1

6. Strategi Terapi Berbasis Bukti

Prioritaskan terapi tumor sebagai pendekatan utama dan paling penting, karena respons terhadap terapi kanker secara positif mempengaruhi perjalanan sindrom paraneoplastik: 1, 6

Untuk sindrom neurologis/imunologis:

  • Lini pertama: Mulai imunoterapi dini tanpa menunggu hasil antibodi, termasuk IV immunoglobulin (IVIg), metilprednisolon dosis tinggi IV, dan plasmaferesis 1, 6
  • IVIg paling efektif bila diberikan dalam 1 bulan sejak onset gejala 1, 6
  • Lini kedua: Jika tidak ada perbaikan setelah 2-4 minggu terapi lini pertama, pertimbangkan rituximab, siklofosfamid, azatioprin, atau mikofenolat 1

Untuk sindrom endokrin:

  • Fokus pada terapi kanker dan intervensi spesifik sindrom berdasarkan keparahan 1
  • Koreksi kelainan elektrolit dan hormonal 3

Untuk LEMS:

  • Berikan 3,4-diaminopyridine (3,4-DAP) sebagai terapi awal 6
  • Tambahkan IVIg untuk penyakit yang lebih berat atau respons tidak adekuat terhadap 3,4-DAP 6
  • Pertimbangkan plasma exchange untuk manfaat klinis yang jelas 6

7. Prognosis dan Keterbatasan Terapi

Jelaskan perbedaan prognostik yang mencolok antara kedua kelompok antibodi:

  • Sindrom dengan antibodi intraseluler: Prognosis buruk, jarang responsif terhadap imunoterapi, perbaikan terutama terkait dengan terapi tumor 4, 1
  • Sindrom dengan antibodi permukaan neuronal: Prognosis umumnya baik, responsif terhadap imunoterapi, kemungkinan remisi spontan 4, 6

Tekankan bahwa:

  • Imunosupresi dapat menstabilkan sindrom paraneoplastik secara transien tetapi jarang memberikan perbaikan jangka panjang 1
  • Sekuele neurologis permanen tidak boleh diinterpretasikan sebagai kegagalan terapi, karena kapasitas regeneratif sistem saraf pusat yang rendah 1
  • Respons terhadap imunoterapi lebih baik untuk antibodi yang menargetkan antigen permukaan dibandingkan antigen intraseluler 1

8. Pertimbangan Khusus dan Perkembangan Terkini

Sertakan diskusi tentang sindrom paraneoplastik yang diinduksi oleh immune checkpoint inhibitors (ICI):

  • ICI dapat memicu sindrom paraneoplastik sebagai konsekuensi dari peningkatan sistem imun terhadap sel kanker 7, 5
  • Penting untuk membedakan sindrom paraneoplastik klasik dari efek samping imun terkait ICI 1, 5

Tekankan pentingnya:

  • Deteksi dini memungkinkan identifikasi keganasan okulta pada stadium yang dapat diobati 1, 3
  • Terapi kanker yang berhasil sering memperbaiki gejala paraneoplastik 1, 3
  • Imunoterapi konkomitan tidak mempengaruhi hasil keganasan secara merugikan 1

9. Pitfall Klinis yang Harus Dihindari

  • Jangan menunda terapi menunggu konfirmasi antibodi: Mulai imunoterapi segera pada kecurigaan klinis tinggi 1
  • Jangan mengabaikan workup keganasan pada sindrom dengan antibodi permukaan neuronal: Meskipun kurang sering terkait kanker, tetap perlu skrining komprehensif 4, 5
  • Jangan menginterpretasikan kehadiran sindrom paraneoplastik sebagai penyakit metastatik atau tidak dapat disembuhkan: Ini adalah kesalahpahaman umum 4
  • Jangan menunda terapi tumor untuk menunggu stabilisasi neurologis: Keduanya harus dilakukan paralel 1

References

Guideline

Paraneoplastic Brainstem Syndromes

Praxis Medical Insights: Practical Summaries of Clinical Guidelines, 2025

Guideline

Guideline Directed Topic Overview

Dr.Oracle Medical Advisory Board & Editors, 2025

Guideline

Lambert-Eaton Myasthenic Syndrome Diagnosis and Treatment

Praxis Medical Insights: Practical Summaries of Clinical Guidelines, 2025

Professional Medical Disclaimer

This information is intended for healthcare professionals. Any medical decision-making should rely on clinical judgment and independently verified information. The content provided herein does not replace professional discretion and should be considered supplementary to established clinical guidelines. Healthcare providers should verify all information against primary literature and current practice standards before application in patient care. Dr.Oracle assumes no liability for clinical decisions based on this content.

Have a follow-up question?

Our Medical A.I. is used by practicing medical doctors at top research institutions around the world. Ask any follow up question and get world-class guideline-backed answers instantly.