How to diagnose and manage heparin-induced thrombocytopenia (HIT) in a patient?

Medical Advisory BoardAll articles are reviewed for accuracy by our Medical Advisory Board
Educational purpose only • Exercise caution as content is pending human review
Article Review Status
Submitted
Under Review
Approved

Last updated: December 1, 2025View editorial policy

Personalize

Help us tailor your experience

Which best describes you? Your choice helps us use language that's most understandable for you.

Diagnosis Heparin-Induced Thrombocytopenia (HIT)

Untuk mendiagnosis HIT, hitung skor 4T terlebih dahulu untuk menentukan probabilitas pra-tes, kemudian lakukan pemeriksaan antibodi anti-PF4 jika probabilitas sedang atau tinggi, sambil segera menghentikan semua heparin dan memulai antikoagulan alternatif dosis terapeutik tanpa menunggu hasil laboratorium. 1, 2

Penilaian Klinis dengan Skor 4T

Langkah pertama adalah menghitung skor 4T yang mengevaluasi empat komponen klinis: 1, 3

  • Trombositopenia: Penurunan jumlah trombosit >50% dari baseline (2 poin), penurunan 30-50% (1 poin), atau <30% (0 poin) 2
  • Timing: Onset trombositopenia hari ke-5 hingga 10 setelah paparan heparin, atau <1 hari jika ada paparan heparin dalam 30 hari terakhir (2 poin) 1, 4
  • Trombosis: Trombosis baru, nekrosis kulit di tempat injeksi heparin, atau reaksi sistemik akut setelah bolus heparin (2 poin) 2
  • Penyebab lain trombositopenia: Tidak ada penyebab lain yang jelas (2 poin), mungkin ada penyebab lain (1 poin), atau ada penyebab lain yang pasti (0 poin) 3

Interpretasi Skor 4T dan Tindakan

Probabilitas Rendah (Skor 4T ≤3)

  • HIT dapat dieksklusi dan heparin dapat dilanjutkan dengan pemantauan ketat jumlah trombosit 1, 3
  • Cari penyebab alternatif trombositopenia 1
  • Tidak perlu pemeriksaan antibodi anti-PF4 2

Probabilitas Sedang (Skor 4T = 4-5)

  • Hentikan semua bentuk heparin segera, termasuk heparin flush dan kateter yang dilapisi heparin 1, 2
  • Mulai antikoagulan alternatif non-heparin dengan dosis terapeutik penuh (bukan dosis profilaksis), bahkan jika tidak ada trombosis 1, 2
  • Lakukan pemeriksaan antibodi anti-PF4 (ELISA atau chemiluminescent test) 1, 3
  • Jika antibodi anti-PF4 negatif, diagnosis HIT dieksklusi dan heparin dapat dilanjutkan dengan pemantauan ketat 1
  • Jika antibodi anti-PF4 positif, lakukan tes konfirmasi fungsional (serotonin release assay atau HIPA test) untuk mengkonfirmasi diagnosis 3, 5

Probabilitas Tinggi (Skor 4T ≥6)

  • Hentikan semua heparin segera dan mulai antikoagulan alternatif dosis terapeutik tanpa menunggu hasil laboratorium 1, 2
  • Lakukan pemeriksaan antibodi anti-PF4 untuk konfirmasi, tetapi jangan tunda terapi 1, 3
  • Pada pasien pasca-bedah jantung, pola "bifasik" pada evolusi jumlah trombosit sangat menunjukkan HIT, dan skor 4T kurang reliabel pada populasi ini 3

Pemeriksaan Laboratorium

Tes Imunologi (ELISA atau Chemiluminescent)

  • Sensitivitas tinggi (>95%) dan nilai prediktif negatif tinggi, tetapi spesifisitas lebih rendah 3, 6
  • Tes positif memerlukan konfirmasi dengan tes fungsional jika probabilitas klinis sedang 3
  • Pembentukan antibodi dapat terjadi tanpa trombositopenia atau trombosis, sehingga hasil positif saja tidak cukup untuk diagnosis 5

Tes Fungsional (Serotonin Release Assay atau HIPA)

  • Lebih spesifik untuk HIT yang sebenarnya 3, 6
  • Direkomendasikan untuk konfirmasi jika antibodi anti-PF4 positif dengan probabilitas klinis sedang 3
  • Ketersediaan terbatas, sehingga tidak boleh menunda terapi 6

Pemantauan Trombosit

  • Dapatkan jumlah trombosit baseline sebelum memulai heparin 7
  • Pantau jumlah trombosit setiap 2-3 hari dari hari ke-4 hingga hari ke-14 terapi heparin, atau hingga heparin dihentikan 1, 7
  • Jika jumlah trombosit turun di bawah 100.000/mm³ atau jika terjadi trombosis berulang, segera hentikan heparin dan evaluasi untuk HIT 7
  • Trombositopenia biasanya sedang, dengan median nadir sekitar 50.000-60.000/μL 4

Pilihan Antikoagulan Alternatif

Setelah menghentikan heparin, pilih antikoagulan alternatif berdasarkan fungsi organ: 1, 2

Argatroban (Pilihan Utama untuk Gangguan Ginjal Berat)

  • Dosis awal: 2 mcg/kg/menit sebagai infus IV kontinu 2, 8
  • Kurangi menjadi 0,5-1 mcg/kg/menit pada pasien dengan gagal hati sedang (Child-Pugh B) atau pasien ICU 1, 8
  • Kontraindikasi pada gagal hati berat (Child-Pugh C) 1
  • Pantau aPTT harian untuk mempertahankan 1,5-3 kali nilai kontrol, atau gunakan diluted thrombin time (target 0,5-1,5 mg/mL) 1, 8
  • Metabolisme hepatik, sehingga aman pada gangguan ginjal berat (CrCl <30 mL/min) 1, 3

Bivalirudin

  • Waktu paruh lebih pendek (20-30 menit), berguna untuk prosedur yang memerlukan antikoagulasi kerja singkat 2, 3
  • Kontraindikasi pada gangguan ginjal berat (CrCl <30 mL/min) 3
  • Dosis: infus IV 0,15-0,25 mg/kg/jam 3

Danaparoid

  • Tidak direkomendasikan sebagai terapi lini pertama pada gagal ginjal berat 1
  • Dosis profilaksis tidak direkomendasikan untuk HIT akut; diperlukan dosis IV kuratif dengan pemantauan aktivitas anti-Xa (dengan kurva kalibrasi spesifik) 1, 3
  • Jika jumlah trombosit tidak pulih atau trombosis muncul/menyebar, ganti dengan antikoagulan lain 1

Fondaparinux

  • Pilihan untuk pasien stabil tanpa gangguan ginjal atau hati berat 2, 9
  • Tidak memerlukan pemantauan spesifik 2
  • Dosis profilaksis tampaknya efektif jika tidak ada indikasi untuk antikoagulasi penuh 9

Direct Oral Anticoagulants (DOACs)

  • Alternatif yang dapat diterima untuk antikoagulasi jangka panjang 3
  • Rivaroxaban lebih disukai di antara DOACs berdasarkan bukti yang tersedia 10

Situasi Khusus

HIT Berat (PE masif, trombosis ekstensif/arteri, gangren vena, koagulopati konsumsi)

  • Prioritaskan argatroban atau bivalirudin dengan pemantauan biologis ketat 1, 2
  • Hindari dosis profilaksis; selalu gunakan dosis terapeutik 1, 3

Gangguan Ginjal Berat (CrCl <30 mL/min)

  • Argatroban adalah satu-satunya agen yang direkomendasikan karena metabolisme hepatik 1, 3

Gangguan Hati Berat (Child-Pugh C)

  • Gunakan bivalirudin, danaparoid, atau fondaparinux 1
  • Hindari argatroban 1

Kesalahan Umum yang Harus Dihindari

  • Jangan menunggu hasil laboratorium sebelum menghentikan heparin dan memulai antikoagulan alternatif jika probabilitas klinis sedang atau tinggi 2, 3
  • Jangan gunakan dosis profilaksis antikoagulan alternatif; dosis terapeutik diperlukan bahkan tanpa trombosis 2, 3
  • Jangan berikan transfusi trombosit kecuali ada perdarahan yang mengancam jiwa, karena dapat memperburuk trombosis 2, 10
  • Jangan mulai warfarin (VKA) pada fase akut sampai jumlah trombosit pulih (>150.000/μL), karena dapat menyebabkan gangren vena 1, 2
  • Jangan gunakan agen antiplatelet oral untuk mengobati HIT akut 1, 2
  • Jangan pasang filter vena cava inferior pada fase akut HIT 2, 10

Transisi ke Antikoagulasi Oral

  • Tunggu pemulihan jumlah trombosit (>150.000/μL atau kembali ke baseline) sebelum transisi ke warfarin 2, 3
  • Overlap antikoagulan parenteral dengan warfarin minimal 5 hari 2, 3
  • DOACs dapat digunakan sebagai alternatif warfarin untuk antikoagulasi jangka panjang 3

Manajemen Jangka Panjang

  • Berikan dokumentasi diagnosis HIT dalam rekam medis dan kartu untuk pasien 1
  • Lakukan konsultasi hemostasis dalam 3 bulan setelah diagnosis HIT 1
  • Hindari re-eksposur heparin, terutama dalam 3 bulan setelah diagnosis HIT 1, 2
  • Untuk kebutuhan antikoagulasi masa depan, gunakan antikoagulan oral (VKA atau DOAC) atau fondaparinux 1, 3
  • Lakukan tes ELISA untuk antibodi anti-PF4 sebelum re-eksposur heparin jika diperlukan, karena titer tinggi meningkatkan risiko rekurensi 1

References

Guideline

Guideline Directed Topic Overview

Dr.Oracle Medical Advisory Board & Editors, 2025

Guideline

Management of Suspected Heparin-Induced Thrombocytopenia (HIT)

Praxis Medical Insights: Practical Summaries of Clinical Guidelines, 2025

Guideline

Management of Heparin-Induced Thrombocytopenia (HIT)

Praxis Medical Insights: Practical Summaries of Clinical Guidelines, 2025

Research

Heparin-induced thrombocytopenia: when a low platelet count is a mandate for anticoagulation.

Hematology. American Society of Hematology. Education Program, 2009

Guideline

Management of Post-Operative DIC with CVA

Praxis Medical Insights: Practical Summaries of Clinical Guidelines, 2025

Professional Medical Disclaimer

This information is intended for healthcare professionals. Any medical decision-making should rely on clinical judgment and independently verified information. The content provided herein does not replace professional discretion and should be considered supplementary to established clinical guidelines. Healthcare providers should verify all information against primary literature and current practice standards before application in patient care. Dr.Oracle assumes no liability for clinical decisions based on this content.

Have a follow-up question?

Our Medical A.I. is used by practicing medical doctors at top research institutions around the world. Ask any follow up question and get world-class guideline-backed answers instantly.