What is the treatment for vulvitis?

Medical Advisory BoardAll articles are reviewed for accuracy by our Medical Advisory Board
Educational purpose only • Exercise caution as content is pending human review
Article Review Status
Submitted
Under Review
Approved

Last updated: December 2, 2025View editorial policy

Personalize

Help us tailor your experience

Which best describes you? Your choice helps us use language that's most understandable for you.

Pengobatan Vulvitis

Untuk vulvitis yang disebabkan oleh kandidiasis vulvovaginal (penyebab paling umum), pengobatan lini pertama adalah fluconazole 150 mg dosis tunggal oral ATAU terapi azole topikal jangka pendek (1-3 hari), yang sangat efektif dengan tingkat kesembuhan 80-90%. 1

Identifikasi Penyebab Vulvitis

Vulvitis dapat disebabkan oleh berbagai kondisi, dan pendekatan pengobatan bergantung pada etiologi spesifik:

Vulvovaginal Candidiasis (VVC) - Penyebab Paling Umum

  • Gejala khas: pruritus (gatal), eritema vulvovaginal, discharge putih, nyeri vulva, dyspareunia, dan disuria eksternal 2
  • Diagnosis: pH vagina normal (<4.5), wet preparation atau Gram stain menunjukkan ragi atau pseudohifa 1
  • Sekitar 75% wanita akan mengalami minimal satu episode VVC 2

Regimen Pengobatan Berdasarkan Klasifikasi

VVC Tidak Berkomplikasi (Uncomplicated)

Pilihan Oral:

  • Fluconazole 150 mg tablet oral, dosis tunggal - pilihan paling praktis 2, 1

Pilihan Topikal (semua efektif):

  • Clotrimazole 1% cream 5g intravaginal selama 7-14 hari 2
  • Clotrimazole 500 mg tablet vaginal, aplikasi tunggal 2
  • Miconazole 2% cream 5g intravaginal selama 7 hari 2
  • Terconazole 0.4% cream 5g intravaginal selama 7 hari 2
  • Butoconazole 2% cream 5g intravaginal selama 3 hari 1

Catatan Penting:

  • Krim dan suppositoria berbasis minyak dapat melemahkan kondom lateks dan diafragma 2, 1
  • Tingkat kesembuhan mencapai 80-90% dengan terapi yang tepat 2

VVC Berkomplikasi (Complicated)

VVC Berat (eritema vulva ekstensif, edema, ekskoriasi, fisura):

  • Terapi azole topikal selama 7-14 hari ATAU fluconazole 150 mg dua dosis berurutan (dosis kedua 72 jam setelah dosis pertama) 2

VVC Rekuren (≥4 episode per tahun):

  • Terapi inisial lebih lama: 7-14 hari terapi topikal ATAU fluconazole 150 mg diulang 3 hari kemudian untuk mencapai remisi mikologis 2, 1
  • Terapi pemeliharaan selama 6 bulan: 2
    • Clotrimazole 500 mg suppositoria vaginal seminggu sekali, ATAU
    • Fluconazole 100-150 mg seminggu sekali, ATAU
    • Ketoconazole 100 mg sekali sehari (monitor hepatotoksisitas), ATAU
    • Itraconazole 400 mg sebulan sekali atau 100 mg sekali sehari
  • Peringatan: 30-40% wanita akan mengalami kekambuhan setelah terapi pemeliharaan dihentikan 2
  • Kultur vagina harus dilakukan untuk mengidentifikasi spesies non-albicans 2

Non-albicans Candida (C. glabrata, dll - 10-20% kasus rekuren):

  • Terapi azole non-fluconazole durasi lebih lama (7-14 hari) sebagai terapi lini pertama 2
  • Boric acid 600 mg dalam kapsul gelatin intravaginal setiap hari selama 14 hari untuk infeksi yang resisten 1

Populasi Khusus

Kehamilan:

  • HANYA terapi azole topikal 7 hari yang direkomendasikan - TIDAK boleh menggunakan fluconazole oral 2, 1

Pasien HIV:

  • Regimen pengobatan sama dengan pasien non-HIV 2

Vulvitis Non-Kandida

Trikomoniasis (jika ada discharge kuning-kehijauan, malodorous, iritasi vulva)

  • Metronidazole oral (tingkat kesembuhan 90-95%) 2
  • Pasangan seksual harus diobati 2
  • Hindari hubungan seksual sampai pasien dan pasangan sembuh 2

Zoon's Vulvitis (kondisi kronik langka dengan lesi karakteristik)

  • Clobetasol propionate 0.05% topikal - resolusi lengkap dalam <1 minggu 3

Vulvitis Non-Spesifik (terutama pada anak prepubertal)

  • Perbaikan higiene anogenital 4, 5
  • Sitz bath dengan sabun non-iritatif 5
  • Kontrol berat badan dan pencegahan disfungsi berkemih jika diperlukan 6
  • Terapi antimikroba hanya jika ditemukan patogen spesifik 5

Tindak Lanjut dan Manajemen Pasangan

  • Follow-up hanya diperlukan jika gejala menetap atau kambuh dalam 2 bulan 2, 1
  • Pengobatan pasangan seksual TIDAK rutin direkomendasikan untuk VVC, tetapi dapat dipertimbangkan pada infeksi rekuren 2, 1
  • Pasangan pria dengan balanitis (eritema glans penis dengan pruritus) mendapat manfaat dari antifungal topikal 2, 1

Peringatan Penting

  • Sediaan OTC hanya untuk wanita yang sebelumnya telah didiagnosis VVC dan mengalami gejala yang sama 2, 1
  • Penggunaan OTC yang tidak tepat dapat menunda diagnosis etiologi lain dengan outcome klinis yang merugikan 2
  • Jika gejala menetap setelah pengobatan OTC atau kambuh dalam 2 bulan, pasien harus mencari perawatan medis 2
  • Agen oral dapat menyebabkan mual, nyeri abdomen, sakit kepala, dan jarang elevasi enzim hati 2
  • Interaksi obat penting dengan azole oral termasuk antikoagulan, calcium channel blockers, protease inhibitors, dan lainnya 2
  • Jika tidak respons terhadap pengobatan awal, pertimbangkan diagnosis alternatif seperti desquamative inflammatory vaginitis, genitourinary syndrome of menopause, atau vulvodynia 7

References

Guideline

Treatment Regimen for Fungal Vaginitis

Praxis Medical Insights: Practical Summaries of Clinical Guidelines, 2025

Guideline

Guideline Directed Topic Overview

Dr.Oracle Medical Advisory Board & Editors, 2025

Research

Successful treatment of Zoon's vulvitis with high potency topical steroid.

International urogynecology journal and pelvic floor dysfunction, 2006

Research

Clinical Recommendation: Vulvovaginitis.

Journal of pediatric and adolescent gynecology, 2016

Research

[Genital infections in prepubertal girls].

Therapeutische Umschau. Revue therapeutique, 2002

Research

Assessment and Treatment of Vaginitis.

Obstetrics and gynecology, 2024

Professional Medical Disclaimer

This information is intended for healthcare professionals. Any medical decision-making should rely on clinical judgment and independently verified information. The content provided herein does not replace professional discretion and should be considered supplementary to established clinical guidelines. Healthcare providers should verify all information against primary literature and current practice standards before application in patient care. Dr.Oracle assumes no liability for clinical decisions based on this content.

Have a follow-up question?

Our Medical A.I. is used by practicing medical doctors at top research institutions around the world. Ask any follow up question and get world-class guideline-backed answers instantly.