Pengobatan Vulvitis
Untuk vulvitis yang disebabkan oleh kandidiasis vulvovaginal (penyebab paling umum), pengobatan lini pertama adalah fluconazole 150 mg dosis tunggal oral ATAU terapi azole topikal jangka pendek (1-3 hari), yang sangat efektif dengan tingkat kesembuhan 80-90%. 1
Identifikasi Penyebab Vulvitis
Vulvitis dapat disebabkan oleh berbagai kondisi, dan pendekatan pengobatan bergantung pada etiologi spesifik:
Vulvovaginal Candidiasis (VVC) - Penyebab Paling Umum
- Gejala khas: pruritus (gatal), eritema vulvovaginal, discharge putih, nyeri vulva, dyspareunia, dan disuria eksternal 2
- Diagnosis: pH vagina normal (<4.5), wet preparation atau Gram stain menunjukkan ragi atau pseudohifa 1
- Sekitar 75% wanita akan mengalami minimal satu episode VVC 2
Regimen Pengobatan Berdasarkan Klasifikasi
VVC Tidak Berkomplikasi (Uncomplicated)
Pilihan Oral:
Pilihan Topikal (semua efektif):
- Clotrimazole 1% cream 5g intravaginal selama 7-14 hari 2
- Clotrimazole 500 mg tablet vaginal, aplikasi tunggal 2
- Miconazole 2% cream 5g intravaginal selama 7 hari 2
- Terconazole 0.4% cream 5g intravaginal selama 7 hari 2
- Butoconazole 2% cream 5g intravaginal selama 3 hari 1
Catatan Penting:
- Krim dan suppositoria berbasis minyak dapat melemahkan kondom lateks dan diafragma 2, 1
- Tingkat kesembuhan mencapai 80-90% dengan terapi yang tepat 2
VVC Berkomplikasi (Complicated)
VVC Berat (eritema vulva ekstensif, edema, ekskoriasi, fisura):
- Terapi azole topikal selama 7-14 hari ATAU fluconazole 150 mg dua dosis berurutan (dosis kedua 72 jam setelah dosis pertama) 2
VVC Rekuren (≥4 episode per tahun):
- Terapi inisial lebih lama: 7-14 hari terapi topikal ATAU fluconazole 150 mg diulang 3 hari kemudian untuk mencapai remisi mikologis 2, 1
- Terapi pemeliharaan selama 6 bulan: 2
- Clotrimazole 500 mg suppositoria vaginal seminggu sekali, ATAU
- Fluconazole 100-150 mg seminggu sekali, ATAU
- Ketoconazole 100 mg sekali sehari (monitor hepatotoksisitas), ATAU
- Itraconazole 400 mg sebulan sekali atau 100 mg sekali sehari
- Peringatan: 30-40% wanita akan mengalami kekambuhan setelah terapi pemeliharaan dihentikan 2
- Kultur vagina harus dilakukan untuk mengidentifikasi spesies non-albicans 2
Non-albicans Candida (C. glabrata, dll - 10-20% kasus rekuren):
- Terapi azole non-fluconazole durasi lebih lama (7-14 hari) sebagai terapi lini pertama 2
- Boric acid 600 mg dalam kapsul gelatin intravaginal setiap hari selama 14 hari untuk infeksi yang resisten 1
Populasi Khusus
Kehamilan:
- HANYA terapi azole topikal 7 hari yang direkomendasikan - TIDAK boleh menggunakan fluconazole oral 2, 1
Pasien HIV:
- Regimen pengobatan sama dengan pasien non-HIV 2
Vulvitis Non-Kandida
Trikomoniasis (jika ada discharge kuning-kehijauan, malodorous, iritasi vulva)
- Metronidazole oral (tingkat kesembuhan 90-95%) 2
- Pasangan seksual harus diobati 2
- Hindari hubungan seksual sampai pasien dan pasangan sembuh 2
Zoon's Vulvitis (kondisi kronik langka dengan lesi karakteristik)
- Clobetasol propionate 0.05% topikal - resolusi lengkap dalam <1 minggu 3
Vulvitis Non-Spesifik (terutama pada anak prepubertal)
- Perbaikan higiene anogenital 4, 5
- Sitz bath dengan sabun non-iritatif 5
- Kontrol berat badan dan pencegahan disfungsi berkemih jika diperlukan 6
- Terapi antimikroba hanya jika ditemukan patogen spesifik 5
Tindak Lanjut dan Manajemen Pasangan
- Follow-up hanya diperlukan jika gejala menetap atau kambuh dalam 2 bulan 2, 1
- Pengobatan pasangan seksual TIDAK rutin direkomendasikan untuk VVC, tetapi dapat dipertimbangkan pada infeksi rekuren 2, 1
- Pasangan pria dengan balanitis (eritema glans penis dengan pruritus) mendapat manfaat dari antifungal topikal 2, 1
Peringatan Penting
- Sediaan OTC hanya untuk wanita yang sebelumnya telah didiagnosis VVC dan mengalami gejala yang sama 2, 1
- Penggunaan OTC yang tidak tepat dapat menunda diagnosis etiologi lain dengan outcome klinis yang merugikan 2
- Jika gejala menetap setelah pengobatan OTC atau kambuh dalam 2 bulan, pasien harus mencari perawatan medis 2
- Agen oral dapat menyebabkan mual, nyeri abdomen, sakit kepala, dan jarang elevasi enzim hati 2
- Interaksi obat penting dengan azole oral termasuk antikoagulan, calcium channel blockers, protease inhibitors, dan lainnya 2
- Jika tidak respons terhadap pengobatan awal, pertimbangkan diagnosis alternatif seperti desquamative inflammatory vaginitis, genitourinary syndrome of menopause, atau vulvodynia 7