Klasifikasi Abses Perianal
Abses perianal diklasifikasikan berdasarkan lokasi anatomis terhadap kompleks sfingter dan otot levator ani, dengan empat kategori utama: perianal, intersphincteric, ischiorectal, dan supralevator.
Sistem Klasifikasi Anatomis
Klasifikasi abses perianal menggunakan hubungan anatomis dengan kompleks sfingter eksternal dan otot levator ani sebagai referensi utama 1:
Kategori Berdasarkan Lokasi
Abses Perianal (A): Lokasi paling superfisial, terletak di kulit perianal, merupakan tipe yang paling sering ditemukan (42.7% dari semua kasus) 2
Abses Intersphincteric (B): Terletak di antara sfingter internal dan eksternal, ditemukan pada 21.4% kasus dan memiliki insidensi tinggi untuk pembentukan fistula saat drainase 2, 3
Abses Ischiorectal/Ischioanal (C): Menembus melalui sfingter anal eksternal ke dalam ruang ischioanal, ditemukan pada 22.7% kasus 4, 2
Abses Supralevator/Suprasphincteric (D): Terletak superior terhadap bidang intersphincteric di ruang supralevator, di atas otot levator ani, merupakan tipe yang paling kompleks (7.33% kasus) 4, 2
Klasifikasi Tambahan untuk Ekstensi Sekunder
Selain lokasi primer, perlu dicatat ekstensi sekunder abses 1:
- Infralevator: Ekstensi di bawah levator plate
- Supralevator: Ekstensi di atas levator plate
- Horseshoe extension: Ekstensi horizontal yang meluas ke lateral
Pentingnya Klasifikasi yang Akurat
Implikasi Diagnostik
Pemeriksaan fisik: Massa yang dapat dipalpasi di atas garis dentate pada pemeriksaan rektal menunjukkan abses intermuskular tinggi atau supralevator 4
MRI sebagai gold standard: Akurasi 76-100% untuk visualisasi kompleks sfingter anal, otot dasar panggul, traktus fistula, dan abses, terutama penting untuk abses yang dalam 1
Examination under anaesthesia (EUA): Ahli bedah kolorektal berpengalaman memiliki akurasi hingga 90% dalam mendeteksi dan mengklasifikasikan fistula perianal, sinus, dan abses 1
Implikasi Terapeutik
Penentuan rute drainase: Lokasi anatomis terhadap levator ani menentukan apakah drainase dilakukan secara transrektal (internal) atau eksternal 5
Abses supralevator dan intersphincteric: Memiliki insidensi tinggi fistula yang teridentifikasi saat drainase (34.7% dari seluruh pasien memiliki opening fistula internal) 2
Timing intervensi: Jika abses perianal dicurigai, EUA dengan drainase adalah prosedur pilihan dan tidak boleh ditunda meskipun MRI tidak segera tersedia 1
Peringatan Klinis Penting
Risiko rekurensi: Pasien dengan demam, inflammatory bowel disease, diabetes mellitus, atau keganasan memiliki risiko lebih tinggi untuk abses rekuren atau fistula subsequent (31% angka re-presentasi) 6
Identifikasi fistula: Hingga dua-pertiga abses anorektal berhubungan dengan pembentukan fistula anorektal, sehingga evaluasi untuk traktus fistula sangat penting 3
Komplikasi dari klasifikasi yang tidak akurat: Operasi yang tidak tepat dapat menyebabkan hasil yang buruk, sehingga pengetahuan anatomis yang akurat sangat penting 5