Langkah Pertama dalam Menangani Pasien Trauma Maksilofasial dengan Cedera Kepala Berat
Pada pasien trauma maksilofasial dengan cedera kepala berat, langkah pertama yang harus dilakukan adalah primary survey untuk lifesaving dengan fokus pada "airway, breathing, and circulation" sebelum evaluasi atau intervensi definitif lainnya 1.
Rasionalisasi Pendekatan Primary Survey
Sebelum mengevaluasi trauma fasial, dokter emergensi atau trauma harus melakukan primary survey dengan memperhatikan "airway, breathing, and circulation" untuk stabilisasi pasien 1. Ini adalah prioritas mutlak karena:
Ancaman Jalan Napas yang Mengancam Jiwa
- Trauma maksilofasial dapat menyebabkan kompromi jalan napas sekunder akibat perdarahan, edema jaringan lunak, dan hilangnya arsitektur wajah dari fraktur 1
- Obstruksi jalan napas adalah komplikasi paling serius yang mengancam jiwa segera setelah trauma maksilofasial 2
- Onset obstruksi dapat terjadi mendadak, seperti aspirasi benda asing, atau berkembang kemudian akibat edema yang mengancam jalan napas 2
Cedera Penyerta yang Sering Terjadi
- Tergantung pada mekanisme cedera dan keparahan fraktur maksilofasial, cedera terkait pada otak, tulang belakang servikal, dan struktur serebrovaskular mungkin ada 1
- Studi pada 1,3 juta pasien trauma menunjukkan 68% pasien dengan fraktur wajah memiliki cedera kepala terkait 1
- Cedera intrakranial bersamaan tidak jarang pada pasien dengan cedera maksilofasial 1
Mengapa Bukan Pilihan Lain
Operasi Segera (Pilihan a)
- Operasi definitif ditunda sampai kondisi yang mengancam jiwa telah dikelola dengan sukses 1
- Pengobatan definitif dari sudut pandang kosmetik dan fungsional sering ditunda 3
- Hanya 7 dari 35 pasien (20%) memerlukan operasi darurat dalam satu studi trauma berat 4
Konservatif Saja (Pilihan b)
- Pendekatan konservatif tanpa primary survey dapat melewatkan kondisi yang mengancam jiwa seperti obstruksi jalan napas, perdarahan masif, atau cedera tulang belakang servikal yang tidak terdiagnosis 2
- Trauma maksilofasial jarang mengancam jiwa sendiri, tetapi dapat menyebabkan kondisi yang mengancam jiwa kecuali dikaitkan dengan kompromi jalan napas 2
Intubasi Segera (Pilihan d)
- Intubasi mungkin diperlukan tetapi bukan langkah pertama universal untuk semua pasien 1
- Keputusan untuk intubasi harus dibuat setelah penilaian primary survey, bukan secara otomatis 5
- Tidak semua pasien dengan trauma maksilofasial dan cedera kepala berat memerlukan intubasi segera jika jalan napas dapat dipertahankan dengan cara lain
Algoritma Manajemen Setelah Primary Survey
Setelah primary survey dan stabilisasi:
- Secondary survey wajah dilakukan, termasuk palpasi, inspeksi visual, evaluasi ketajaman visual lengkap, evaluasi saraf kranial, deteksi kebocoran cairan serebrospinal, dan penilaian oklusi gigi 1
- Pencitraan diagnostik sangat penting karena riwayat dan pemeriksaan fisik yang baik sering tidak cukup untuk mendiagnosis secara akurat tingkat penuh trauma wajah 1
- CT kepala dan maksilofasial biasanya diperlukan karena tingginya insiden cedera intrakranial bersamaan 1
Peringatan Penting
- Sistem ATLS (Advanced Trauma Life Support) dari American College of Surgeons umumnya diterima sebagai standar emas dalam perawatan trauma, tetapi memiliki potensi jebakan saat mengelola cedera maksilofasial yang harus dipahami 5
- Evaluasi harus sistematis dan berulang, dengan penetapan prioritas yang jelas dalam perawatan keseluruhan 5
- Perdarahan, syok, dan masalah jalan napas mengambil prioritas 3