Anestesi Intravena: Pendekatan yang Direkomendasikan
Berikan obat sedatif/analgesik intravena dalam dosis kecil dan bertahap, titrasi hingga mencapai efek yang diinginkan, dengan waktu tunggu yang cukup antara dosis untuk menilai efek puncak sebelum pemberian berikutnya. 1
Prinsip Fundamental Pemberian Intravena
Akses Vaskular dan Monitoring
- Pertahankan akses intravena sepanjang prosedur dan hingga pasien tidak lagi berisiko mengalami depresi kardiorespirasi 1
- Monitoring vital sign harus dilakukan secara kontinyu pada semua pasien yang menerima anestesi intravena 1, 2
- Peralatan darurat untuk manajemen jalan napas harus tersedia segera 1, 2
Teknik Titrasi yang Aman
- Berikan obat sedatif/analgesik intravena dalam dosis kecil dan inkremental, atau melalui infus, dengan titrasi hingga endpoint yang diinginkan 1
- Biarkan waktu yang cukup berlalu antara dosis agar efek puncak dari setiap dosis dapat dinilai sebelum pemberian obat berikutnya 1
- Untuk ketamin intravena, berikan secara perlahan (selama periode 60 detik) karena pemberian cepat dapat menyebabkan depresi respirasi dan respons vasopresor yang meningkat 2
Pilihan Obat dan Regimen Dosis
Propofol sebagai Agen Utama
- Propofol memberikan waktu sedasi dan pemulihan yang lebih singkat dibandingkan kombinasi benzodiazepin dengan opioid analgesik 1
- Untuk sedasi prosedural, propofol dapat diberikan melalui target-controlled infusion (TCI) dengan target konsentrasi effect-site 0.5-1 mcg/mL 3
- Propofol secara signifikan mengurangi mual muntah pascaoperasi (PONV) dibandingkan anestesi volatil 3
Kombinasi Sedatif dan Analgesik
- Kombinasi agen sedatif dan analgesik dapat diberikan sesuai dengan prosedur dan kondisi pasien, dengan pemberian setiap komponen secara individual untuk mencapai efek yang diinginkan 1
- Kombinasi propofol dengan opioid analgesik menghasilkan skor nyeri yang lebih rendah 1
- Kecenderungan kombinasi agen sedatif dan analgesik untuk menyebabkan depresi respirasi dan obstruksi jalan napas menekankan perlunya mengurangi dosis setiap komponen secara tepat 1
Opioid Kerja Singkat
- Gunakan opioid kerja singkat seperti fentanyl, alfentanil, atau remifentanil selama induksi dan pemeliharaan anestesi umum 4
- Untuk induksi neurosurgical, dosis tinggi fentanyl (3-5 μg/kg), alfentanil (10-20 μg/kg), atau remifentanil TCI dengan Cpt ≥ 3 ng/ml direkomendasikan 5
- Kombinasi propofol 25-50 mcg/kg/menit dengan alfentanil 0.2-0.4 mcg/kg/menit direkomendasikan untuk sedasi dan analgesia pada pasien rawat jalan yang telah diberi premedikasi midazolam 2 mg IV 6
Ketamin sebagai Adjuvan
- Untuk induksi anestesi intravena, dosis awal ketamin berkisar dari 1 mg/kg hingga 4.5 mg/kg, dengan dosis rata-rata 2 mg/kg menghasilkan anestesi bedah 5-10 menit dalam 30 detik setelah injeksi 2
- Ketamin dapat diberikan sebagai bolus 0.5 mg/kg diikuti infus 0.1-0.2 mg/kg/jam untuk prosedur berkepanjangan 3
- Berikan benzodiazepin untuk pencegahan manifestasi neuropsikologis selama emergence dari anestesi 2
Dexmedetomidine sebagai Alternatif
- Dexmedetomidine dapat diberikan sebagai alternatif sedatif benzodiazepin berdasarkan kasus per kasus 1
- Dexmedetomidine 0.5-1 mcg/kg bolus kemudian 0.2-0.7 mcg/kg/jam dapat digunakan untuk prosedur berkepanjangan 3
- Dexmedetomidine intravena menunjukkan waktu regresi dua segmen level spinal yang lebih lama (141.8±23.5 menit vs 94.33±13.6 menit dengan fentanyl) dan waktu hingga analgesia rescue yang lebih lama (6.9±1.5 jam vs 5.5±0.63 jam) 7
Monitoring Khusus
Untuk Obat yang Ditujukan untuk Anestesi Umum
- Ketika sedasi prosedural moderat dengan obat sedatif/analgesik yang ditujukan untuk anestesi umum direncanakan, berikan perawatan yang konsisten dengan yang diperlukan untuk anestesi umum 1
- Pastikan praktisi yang memberikan obat sedatif/analgesik yang ditujukan untuk anestesi umum mampu mengidentifikasi dan menyelamatkan pasien dari sedasi dalam atau anestesi umum yang tidak diinginkan 1
- Monitoring BIS (Bispectral Index) dengan target 40-60 direkomendasikan, menghindari nilai BIS di bawah 35 pada pasien di atas 60 tahun untuk mengurangi risiko delirium pascaoperasi 3, 4, 5
Monitoring Neuromuskular
- Monitoring neuromuskular kuantitatif wajib dilakukan ketika menggunakan pelemas otot, dengan dokumentasi train-of-four ratio ≥0.90 sebelum ekstubasi 3, 5
- Processed EEG monitoring (BIS) adalah wajib ketika menggunakan TIVA dengan blokade neuromuskular untuk mencegah awareness 5
Agen Reversal dan Manajemen Komplikasi
Ketersediaan Antagonis Spesifik
- Pastikan antagonis spesifik tersedia segera di ruang prosedur setiap kali opioid analgesik atau benzodiazepin diberikan untuk sedasi/analgesia, terlepas dari rute pemberian 1
- Nalokson atau flumazenil dapat diberikan untuk meningkatkan upaya ventilasi spontan pada pasien yang telah menerima opioid atau benzodiazepin 1
Manajemen Depresi Respirasi
- Jika pasien mengalami hipoksemia, hipoventilasi signifikan atau apnea selama sedasi/analgesia: (1) dorong atau stimulasi fisik pasien untuk bernapas dalam, (2) berikan oksigen suplementer, dan (3) berikan ventilasi tekanan positif jika ventilasi spontan tidak adekuat 1
- Gunakan agen reversal dalam kasus di mana kontrol jalan napas, ventilasi spontan, atau ventilasi tekanan positif sulit dilakukan 1
Peringatan Penting
Pengetahuan Farmakokinetik
- Pengetahuan tentang waktu onset, respons puncak, dan durasi kerja setiap obat adalah penting 1
- Titrasi obat hingga efek adalah konsep penting; seseorang harus mengetahui apakah dosis sebelumnya telah memberikan efek penuh sebelum memberikan obat tambahan 1
Kontraindikasi Relatif
- Ketamin tidak direkomendasikan untuk digunakan pada pasien yang tidak mengikuti pedoman nil per os karena potensi muntah dan aspirasi 2
- Berikan antisialagogue sebelum induksi anestesi karena potensi salivasi selama pemberian ketamin 2
- Jangan pernah menggunakan nitrous oxide karena meningkatkan PONV dan menunda fungsi usus 3
Pertimbangan Khusus Populasi
- Untuk pasien lanjut usia (>60 tahun), targetkan level anestesi yang lebih ringan dengan BIS sekitar 50 untuk mengurangi delirium pascaoperasi 4, 5
- Monitoring tekanan darah arteri invasif harus ditetapkan sebelum induksi bila memungkinkan, dengan vasopresor tersedia segera (efedrin atau metaraminol) 3, 5