Resep Latihan untuk Pasien dengan Stenosis Koroner Berat Multi-Pembuluh
Pasien dengan stenosis >70% di ostium RCA dan proksimal-mid LAD memerlukan evaluasi revaskularisasi TERLEBIH DAHULU sebelum memulai program latihan, karena ini merupakan penyakit dua pembuluh dengan keterlibatan LAD proksimal yang memiliki risiko mortalitas tinggi. 1
Prioritas Manajemen Awal
Pasien ini memenuhi kriteria CAD-RADS 4A (stenosis berat dua pembuluh) dan memerlukan angiografi koroner invasif dengan kemungkinan revaskularisasi sebelum program latihan dimulai. 1
Indikasi Revaskularisasi
- Stenosis LAD proksimal-mid dengan penyakit dua pembuluh merupakan indikasi Class IIa untuk CABG menurut ACC/AHA, terutama jika terdapat iskemia ekstensif atau fraksi ejeksi <50%. 1
- Keterlibatan RCA pada pasien dengan stenosis LAD proksimal dikaitkan dengan respons iskemik yang lebih besar, depresi ST-segmen yang lebih dalam (2.4±1.2 mm vs 1.3±1.4 mm), dan peningkatan mortalitas tahunan hingga 7.5% dibandingkan 1.0% tanpa keterlibatan RCA. 2
- Stenosis LAD proksimal ≥70% merupakan prediktor prognosis yang kuat dengan tingkat survival kumulatif 3 tahun hanya 82% pada terapi medis saja. 3
Program Latihan Pasca-Revaskularisasi
Setelah revaskularisasi berhasil (PCI atau CABG), program rehabilitasi jantung fase II harus dimulai dengan supervisi medis ketat.
Fase Awal (Minggu 1-4 Pasca-Revaskularisasi)
- Latihan aerobik intensitas rendah: Jalan kaki 10-15 menit, 2-3 kali sehari, dengan target heart rate 50-60% dari heart rate maksimal atau 20 beats di bawah ambang iskemia jika diketahui. 1, 4
- Frekuensi: 5-7 hari per minggu dengan supervisi awal. 4
- Monitoring: Pantau gejala angina, dispnea, pusing, atau aritmia selama dan setelah latihan. 4, 5
Fase Progresif (Minggu 5-12)
- Tingkatkan durasi secara bertahap: 20-30 menit per sesi, dengan intensitas 60-70% heart rate maksimal. 1, 4
- Tambahkan latihan resistensi ringan: Dimulai minggu ke-6, menggunakan beban ringan (1-2 kg) untuk ekstremitas atas dan bawah, 1-2 set dengan 10-15 repetisi. 4
- Latihan interval: Dapat dipertimbangkan jika toleransi baik, dengan periode intensitas sedang (3-5 menit) diselingi periode recovery (2-3 menit). 4
Fase Pemeliharaan (Bulan 4 dan Seterusnya)
- Target latihan aerobik: 30-45 menit, 5 hari per minggu, dengan intensitas 70-85% heart rate maksimal (jika tidak ada iskemia). 1, 4
- Latihan resistensi: 2-3 kali per minggu, dengan beban sedang (40-60% dari 1-RM). 4
- Aktivitas tambahan: Bersepeda, berenang, atau aktivitas rekreasional lainnya sesuai toleransi. 4
Kontraindikasi dan Peringatan Penting
JANGAN memulai program latihan sebelum revaskularisasi pada pasien ini karena:
- Risiko iskemia berat dan aritmia ventrikel yang mengancam jiwa selama aktivitas fisik pada stenosis multi-pembuluh yang melibatkan LAD proksimal. 1, 2, 3
- Stenosis LAD proksimal-mid >70% dikaitkan dengan area miokard yang luas berisiko iskemia. 1, 3
- Keterlibatan RCA meningkatkan risiko infark miokard dan mortalitas secara signifikan. 2
Tanda Harus Menghentikan Latihan
- Nyeri dada atau angina yang baru atau memburuk. 4, 5
- Dispnea berat yang tidak proporsional dengan intensitas latihan. 4, 5
- Pusing, presinkop, atau sinkop. 4, 5
- Palpitasi atau aritmia yang dirasakan. 4, 5
- Depresi ST-segmen ≥2 mm pada monitoring EKG (jika tersedia). 2
Terapi Medis Agresif Bersamaan
Optimalisasi terapi medis harus dilakukan bersamaan dengan program latihan:
- Statin intensitas tinggi untuk target LDL <70 mg/dL atau bahkan <55 mg/dL. 4
- Antiplatelet ganda (aspirin + P2Y12 inhibitor) pasca-PCI atau aspirin pasca-CABG. 4
- Beta-blocker untuk kontrol heart rate dan proteksi anti-iskemik. 4
- ACE inhibitor atau ARB jika ada disfungsi ventrikel kiri atau diabetes. 4
- Modifikasi faktor risiko agresif: kontrol tekanan darah, diabetes, berhenti merokok. 4, 5
Follow-up dan Monitoring
- Stress test fungsional: 6-12 bulan pasca-revaskularisasi untuk menilai kapasitas latihan dan deteksi iskemia residual atau rekuren. 4
- Monitoring gejala: Evaluasi berkala untuk angina rekuren, dispnea, atau penurunan toleransi latihan. 4, 5
- Risiko restenosis in-stent: Jika dilakukan PCI, monitoring ketat untuk gejala rekuren karena risiko restenosis. 4