Kapan Perlu Waspada Terhadap Hipertensi Walaupun Tidak Ada Gejala
Anda perlu waspada dan memeriksakan tekanan darah secara rutin mulai usia dewasa, terutama jika memiliki faktor risiko seperti riwayat keluarga hipertensi, obesitas, diabetes, atau penyakit jantung—karena hipertensi hampir selalu tanpa gejala namun meningkatkan risiko serangan jantung, stroke, dan kematian prematur. 1
Mengapa Hipertensi Berbahaya Meskipun Tanpa Gejala
- Pasien dengan hipertensi umumnya asimtomatik (tidak bergejala), namun kondisi ini tetap meningkatkan risiko penyakit kardiovaskular secara signifikan 1
- Hubungan antara tekanan darah dan risiko kardiovaskular bersifat kontinu dan bertingkat—artinya semakin tinggi tekanan darah, semakin besar risikonya, bahkan pada rentang prehipertensi (120-139/80-89 mmHg) 1
- Tidak ada ambang batas tekanan darah yang "aman"—risiko penyakit kardiovaskular meningkat progresif di seluruh rentang tekanan darah, termasuk pada level yang masih dianggap prehipertensi 1
- Hipertensi mempengaruhi setidaknya 65 juta orang di Amerika Serikat dan merupakan faktor risiko utama untuk infark serebral dan perdarahan intraserebral 1
Kapan Harus Mulai Skrining
Frekuensi pemeriksaan berdasarkan hasil pengukuran: 1
- Tekanan darah <120/80 mmHg: Periksa ulang setiap 2 tahun
- Tekanan darah 120-139/80-89 mmHg (prehipertensi): Periksa setiap tahun
- Tekanan darah 130-159/85-99 mmHg: Konfirmasi dengan pengukuran di luar klinik karena kemungkinan tinggi white coat atau masked hypertension 1
- Tekanan darah ≥160/100 mmHg: Konfirmasi dalam beberapa hari atau minggu 1
Kelompok yang Perlu Lebih Waspada
Faktor risiko yang meningkatkan kemungkinan hipertensi: 1
- Riwayat keluarga dengan hipertensi atau penyakit kardiovaskular prematur
- Obesitas atau peningkatan indeks massa tubuh
- Diabetes mellitus atau prediabetes
- Dislipidemia (kolesterol tinggi)
- Merokok
- Pola makan tidak sehat (tinggi natrium, rendah kalium)
- Kurang aktivitas fisik
- Konsumsi alkohol berlebihan
- Stres psikososial atau riwayat depresi
- Penyakit ginjal kronik
Populasi dengan risiko lebih tinggi: 1
- Individu dengan riwayat penyakit kardiovaskular (penyakit jantung koroner, gagal jantung, atau penyakit arteri perifer simtomatik) memiliki risiko stroke pertama 1,73 kali lebih tinggi pada pria dan 1,55 kali pada wanita
- Orang kulit hitam memiliki tekanan darah lebih tinggi dan risiko komplikasi terkait tekanan darah yang meningkat 1
- Individu berusia ≥50 tahun memiliki risiko seumur hidup mendekati 90% untuk mengalami hipertensi 1
Kondisi Khusus yang Perlu Diwaspadai
Masked Hypertension (Hipertensi Terselubung): 1
- Terjadi pada 10-15% pasien yang tekanan darahnya normal di klinik tetapi tinggi di luar klinik (di rumah atau ambulatori)
- Pasien ini memiliki risiko kejadian kardiovaskular yang sama dengan hipertensi persisten
- Memerlukan konfirmasi dengan pengukuran berulang di klinik dan di luar klinik
- Mungkin memerlukan terapi obat untuk menormalkan tekanan darah di luar klinik
White Coat Hypertension: 1
- Terjadi pada 10-30% pasien yang tekanan darahnya tinggi hanya di klinik tetapi normal di luar klinik
- Pasien ini berada pada risiko kardiovaskular menengah antara normotensif dan hipertensi persisten
- Jika risiko kardiovaskular total rendah dan tidak ada kerusakan organ target, terapi obat mungkin tidak diperlukan
- Harus diikuti dengan modifikasi gaya hidup karena dapat berkembang menjadi hipertensi persisten
Tanda Peringatan yang Memerlukan Evaluasi Segera
Gejala yang menunjukkan hipertensi sekunder atau komplikasi: 1
- Kelemahan otot, tetani, kram, atau aritmia (kemungkinan hipokalemia/aldosteronisme primer)
- Edema paru mendadak (kemungkinan stenosis arteri renal)
- Berkeringat, palpitasi, sakit kepala sering (kemungkinan feokromositoma)
- Mendengkur, kantuk di siang hari (kemungkinan sleep apnea obstruktif)
- Gejala penyakit tiroid
Situasi yang memerlukan skrining hipertensi sekunder: 1
- Hipertensi onset dini (<30 tahun) terutama tanpa faktor risiko obesitas, sindrom metabolik, atau riwayat keluarga
- Hipertensi resisten (tidak terkontrol dengan 3 obat optimal termasuk diuretik)
- Perburukan kontrol tekanan darah secara tiba-tiba
- Urgensi atau emergensi hipertensif
Pemeriksaan Awal yang Direkomendasikan
Evaluasi dasar saat diagnosis hipertensi: 1
- Tes darah: Natrium, kalium, kreatinin serum, dan estimasi laju filtrasi glomerulus (eGFR); jika tersedia, profil lipid dan glukosa puasa
- Tes urin: Dipstick urin
- EKG 12-lead: Deteksi fibrilasi atrium, hipertrofi ventrikel kiri
- Pemeriksaan fisik lengkap termasuk pengukuran BMI/lingkar pinggang
Strategi Pencegahan Tanpa Obat
Modifikasi gaya hidup yang terbukti menurunkan tekanan darah: 1, 2, 3
- Mempertahankan berat badan sehat (BMI <25 kg/m²)
- Mengurangi asupan natrium dan meningkatkan asupan kalium
- Pola makan sehat seperti diet DASH (kaya buah, sayuran, produk susu rendah lemak, biji-bijian utuh)
- Aktivitas fisik teratur minimal 30 menit pada minimal 3 hari per minggu 4
- Moderasi konsumsi alkohol (maksimal 14 minuman/minggu untuk pria, 9 minuman/minggu untuk wanita) 1
- Berhenti merokok
Manfaat penurunan tekanan darah: 2
- Penurunan tekanan darah sistolik 10 mmHg mengurangi risiko kejadian kardiovaskular sekitar 20-30%
- Penurunan 5 mmHg pada tekanan darah sistolik menurunkan mortalitas penyakit jantung koroner 9%, mortalitas stroke 14%, dan mortalitas semua penyebab 7% 4
Peringatan Penting
- Jangan menunggu munculnya gejala untuk memeriksakan tekanan darah—pada saat gejala muncul, kerusakan organ mungkin sudah terjadi 1, 5
- Pengukuran tekanan darah tunggal tidak cukup untuk diagnosis—diperlukan pengukuran berulang pada kunjungan berbeda 1
- Hanya 44% orang dewasa Amerika dengan hipertensi yang tekanan darahnya terkontrol <140/90 mmHg, menunjukkan pentingnya deteksi dan pengelolaan yang lebih baik 2
- Pengukuran di rumah atau ambulatori dapat membantu mengidentifikasi masked hypertension dan white coat hypertension yang tidak terdeteksi dengan pengukuran klinik saja 1