Indikasi Operasi pada Pasien TBC yang Belum Diobati
Operasi pada pasien TBC yang belum diobati umumnya dilakukan hanya untuk indikasi darurat yang mengancam nyawa atau untuk mendapatkan diagnosis pasti, bukan sebagai terapi definitif untuk TBC itu sendiri. 1
Indikasi Utama Operasi pada TBC yang Belum Diobati
1. Komplikasi yang Mengancam Nyawa
- Hemoptisis masif merupakan indikasi operasi darurat yang paling umum, dimana reseksi paru dapat menyelamatkan nyawa pada pasien dengan penyakit kavitas atau bronkiektasis 2, 3, 4
- Empiema yang tidak dapat diatasi dengan drainase pleura memerlukan intervensi bedah 5
- Fistula bronkopleural yang persisten dan tidak responsif terhadap drainase pleura 3, 4
2. Keperluan Diagnostik
- Massa atau nodul paru yang tidak teridentifikasi memerlukan pembedahan untuk menyingkirkan kemungkinan karsinoma bronkogenik, terutama bila pemeriksaan non-invasif tidak konklusif 3, 4
- Limfadenitis tuberkulosis mediastinal yang menyebabkan gejala kompresi dan komplikasi pulmonal, terutama pada anak-anak, memerlukan eksisi dan kuretase kelenjar getah bening 3
- Operasi dapat diperlukan untuk mendapatkan spesimen diagnosis pada kasus yang sulit didiagnosis 6, 7
3. Komplikasi Struktural Akut
- Perikarditis konstriktif dari perikarditis tuberkulosis memerlukan intervensi bedah 1
- Kompresi medula spinalis dari Pott's Disease (tuberkulosis tulang belakang) 1
Prinsip Penting dalam Manajemen Bedah
Timing Operasi yang Optimal
- Operasi elektif untuk TBC seharusnya TIDAK dilakukan sebelum pasien menerima beberapa bulan kemoterapi intensif 5
- Untuk kasus MDR-TB yang memerlukan reseksi paru, pembedahan harus dilakukan oleh ahli bedah berpengalaman dan hanya setelah pasien menerima beberapa bulan kemoterapi intensif 5
- Kemoterapi harus dilanjutkan selama 1-2 tahun pasca operasi untuk mencegah relaps 5
Kontraindikasi Relatif
- Pasien dengan TBC aktif yang belum diobati tidak boleh menjalani operasi elektif karena risiko tinggi penyebaran infeksi, komplikasi pasca operasi, dan kegagalan penyembuhan luka 1
- Operasi pada TBC yang tidak diobati meningkatkan risiko komplikasi infeksi tuberkulosis di rongga pleura atau bronkus 8
Peringatan Penting dan Kesalahan yang Harus Dihindari
Risiko Mortalitas
- Pneumonektomi memiliki angka kematian yang jauh lebih tinggi (8.5%) dibandingkan reseksi parsial (2.2%), meskipun tidak dapat dipastikan apakah kematian disebabkan oleh komplikasi bedah atau TBC itu sendiri 5
- Pada pasien dengan XDR-TB, keberhasilan pengobatan lebih rendah pada pasien yang menjalani operasi dibandingkan yang tidak (aOR 0.4; 95% CI 0.2-0.9) 5
Manajemen Perioperatif
- Terapi anti-tuberkulosis harus dimulai segera setelah diagnosis ditegakkan, bahkan jika operasi direncanakan 9, 1
- Untuk prosedur bedah yang memerlukan lapangan steril pada pasien dengan TBC infeksius, perlindungan respirasi yang digunakan tenaga kesehatan harus melindungi lapangan bedah dari sekresi respirasi tenaga kesehatan DAN melindungi tenaga kesehatan dari droplet nuclei yang dikeluarkan pasien 5
- Pasien dengan TBC yang dicurigai atau terkonfirmasi harus memakai masker bedah saat tidak berada di ruang isolasi TBC untuk mengurangi ekspulsi droplet nuclei ke udara 5
Prinsip Fundamental
- Tidak pernah menambahkan satu obat tunggal ke regimen yang gagal karena hal ini menyebabkan resistensi yang didapat terhadap obat baru 5, 10
- Untuk kasus MDR-TB (resisten terhadap setidaknya isoniazid dan rifampin), konsultasi dengan ahli tuberkulosis sangat direkomendasikan 1
Kesimpulan Praktis
Operasi pada TBC yang belum diobati harus dibatasi pada situasi darurat yang mengancam nyawa (hemoptisis masif, empiema berat) atau keperluan diagnostik mendesak (massa yang dicurigai keganasan). Untuk semua indikasi elektif lainnya, termasuk MDR-TB dengan kegagalan terapi obat atau penyakit kavitas terlokalisir, pasien harus menerima kemoterapi intensif selama beberapa bulan sebelum operasi dilakukan 5.