Tatalaksana Paparan Pestisida
Segera lakukan dekontaminasi kulit dengan air dalam jumlah besar, sabun, dan sampo, karena jalur dermal merupakan rute paparan paling penting (87-95% dari total paparan), dan berikan atropin serta pralidoxime untuk keracunan organofosfat yang simptomatik. 1, 2, 3
Dekontaminasi Segera (Prioritas Utama)
Dekontaminasi adalah intervensi paling penting karena sebagian besar keracunan pestisida tidak memiliki antidotum spesifik. 2
Dekontaminasi Kulit
- Lepaskan semua pakaian yang terkontaminasi segera 1
- Cuci rambut dan kulit secara menyeluruh dengan air dalam volume besar, sabun, dan sampo - ini sangat penting karena paparan dermal mencakup 87-95% dari total paparan pekerja 1, 3
- Dapat menggunakan natrium bikarbonat atau alkohol untuk pencucian 1
- Dekontaminasi kulit harus dilakukan sambil menentukan spesifik jenis keracunan 2
Dekontaminasi Mata
- Bilas mata dengan air bersih dalam jumlah besar jika terjadi paparan mata 2
Dekontaminasi Lambung (Jika Tertelan)
- Lavase lambung diindikasikan HANYA jika ingesti terjadi dalam 60 menit sejak presentasi pasien 2
- Arang aktif dikombinasi dengan katartik diindikasikan untuk sebagian besar keracunan yang datang dalam 60 menit setelah ingesti 2
- Sirup ipecac TIDAK lagi direkomendasikan untuk penggunaan rutin 2
- Pada ingesti volume besar, arang aktif dapat digunakan setelah 60 menit, namun data pendukung terbatas 2
Perawatan Suportif
Manajemen Jalan Napas dan Pernapasan
- Berikan perawatan suportif termasuk manajemen jalan napas, dukungan respirasi dan kardiovaskular 1
- Koreksi abnormalitas metabolik 1
- Kontrol kejang jika terjadi 1
Perlindungan Tenaga Kesehatan
- Perlindungan petugas kesehatan selama proses dekontaminasi sangat penting dan sering diabaikan 2
Tatalaksana Spesifik Berdasarkan Jenis Pestisida
Keracunan Organofosfat (OP) dan Karbamat
Sindrom kolinergik ("semua keran terbuka") mengkarakterisasi keracunan organofosfat dan karbamat. 2
Gejala yang Harus Dikenali:
Gejala RINGAN: 1
- Penglihatan kabur dan mata perih
- Mata berair
- Hidung berair
- Peningkatan salivasi (air liur tiba-tiba)
- Dada sesak atau kesulitan bernapas
- Tremor di seluruh tubuh atau kedutan otot
- Mual dan muntah
- Sekresi respirasi involunter
Gejala BERAT: 1
- Perilaku aneh atau bingung
- Kesulitan bernapas berat atau sekresi respirasi berat
- Kedutan otot berat dan kelemahan umum
- Buang air kecil dan besar involunter
- Kejang
- Tidak sadar
Pemberian Atropin:
Atropin harus diberikan sesegera mungkin SETELAH hipoksemia diperbaiki 1
- JANGAN berikan atropin pada hipoksia signifikan karena risiko fibrilasi ventrikel yang diinduksi atropin 1
- Dosis dewasa: 2-4 mg intravena, diulang setiap 5-10 menit sampai atropinisasi penuh (sekresi terhambat) atau tanda toksisitas atropin muncul (delirium, hipertermia, kedutan otot) 1
- Pertahankan tingkat atropinisasi minimal 48 jam, sampai aktivitas kolinesterase darah yang tertekan kembali normal 1
Pemberian Pralidoxime (PROTOPAM Chloride):
Setelah efek atropin tampak, pralidoxime dapat diberikan 1
Dosis Intravena Dewasa: 1
- Dosis awal: 1000-2000 mg pralidoxime, sebaiknya sebagai infus dalam 100 mL saline normal selama 15-30 menit
- Jika tidak praktis atau ada edema pulmonal: berikan perlahan (tidak kurang dari 5 menit) injeksi intravena sebagai larutan 50 mg/mL
- Dosis kedua 1000-2000 mg dapat diberikan setelah sekitar 1 jam jika kelemahan otot belum membaik
- Dosis tambahan dapat diberikan setiap 10-12 jam jika kelemahan otot menetap
- Laju infusi intermiten tidak boleh melebihi 200 mg/menit untuk menghindari perburukan sementara manifestasi kolinergik
Dosis Intramuskular Dewasa (jika IV tidak memungkinkan): 1
Untuk gejala RINGAN:
- 600 mg (2 mL) IM, tunggu 15 menit
- Jika gejala ringan menetap: dosis kedua 600 mg
- Jika masih menetap: dosis ketiga 600 mg (total kumulatif 1800 mg)
Untuk gejala BERAT:
- Tiga dosis 600 mg IM (total 1800 mg) dalam suksesi cepat
Pertimbangan Penting:
- Pengobatan paling efektif jika dimulai segera setelah keracunan 1
- Umumnya, sedikit yang dapat dicapai jika pralidoxime diberikan lebih dari 36 jam setelah terminasi paparan racun 1
- Pada ingesti, penting mempertimbangkan kemungkinan absorpsi berkelanjutan dari usus bawah - dosis tambahan mungkin diperlukan setiap 3-8 jam 1
- Pasien harus "dititrasi" dengan pralidoxime selama tanda keracunan berulang 1
- Pasien harus diobservasi minimal 48-72 jam 1
Obat yang Harus Dihindari:
- Hindari morfin, teofilin, aminofilin, reserpin, dan transquilizer tipe fenotiazin pada pasien dengan keracunan organofosfat 1
- Suksinilkolin harus digunakan dengan hati-hati karena paralisis berkepanjangan telah dilaporkan 1
Keracunan Organoklorin (Lindane)
- Dapat menyebabkan kejang dengan penggunaan berlebihan atau penggunaan pada area luas kulit yang tidak utuh 2
- Berikan benzodiazepin (midazolam atau diazepam) untuk mengelola kejang atau agitasi berat 4
Keracunan Piretroid
- Hubungi pusat kontrol racun segera untuk panduan protokol pengobatan spesifik 4
- Benzodiazepin (midazolam atau diazepam) dapat digunakan untuk mengelola kejang atau agitasi berat 4
- JANGAN induksi muntah dan JANGAN berikan arang aktif kecuali secara spesifik diindikasikan oleh pusat kontrol racun 4
- Gunakan vasopresor sesuai kebutuhan untuk hipotensi 4
Herbisida Non-Dipyridyl dan Biosida
- Jarang menghasilkan lebih dari iritasi kulit, mata, dan/atau gastrointestinal ringan pada paparan topikal atau ingesti 2
- Tatalaksana suportif dan simptomatik biasanya cukup 2
Peringatan Khusus
Faktor Risiko Outcome Lebih Berat:
Manifestasi Klinis Tersering:
- Muntah, mual, sialorrhea (air liur berlebih), sakit kepala, miosis, dan berkeringat 5
Kesalahan Umum yang Harus Dihindari:
- Lavase lambung sering dilakukan berlebihan (51.91% kasus) padahal hanya direkomendasikan pada 20.01% kasus - hanya lakukan jika ingesti dalam 60 menit 2, 5
- Mengabaikan dekontaminasi kulit yang merupakan prioritas utama 2, 3
- Memberikan atropin sebelum memperbaiki hipoksemia 1
- Memberikan pralidoxime terlalu cepat (>200 mg/menit IV) yang dapat menyebabkan perburukan 1