Does a seizure in a child always indicate epilepsy and what should be done if a child has a febrile seizure at home?

Medical Advisory BoardAll articles are reviewed for accuracy by our Medical Advisory Board
Educational purpose only • Exercise caution as content is pending human review
Article Review Status
Submitted
Under Review
Approved

Last updated: January 1, 2026View editorial policy

Personalize

Help us tailor your experience

Which best describes you? Your choice helps us use language that's most understandable for you.

Kejang pada Anak: Bukan Selalu Epilepsi

Perbedaan Kejang Demam dan Epilepsi

Kejang pada anak TIDAK selalu berarti epilepsi—kejang demam adalah kondisi jinak yang berbeda secara fundamental dari epilepsi dan memiliki prognosis sangat baik tanpa dampak jangka panjang. 1, 2

Definisi dan Klasifikasi

Kejang demam sederhana didefinisikan sebagai kejang yang terjadi pada anak berusia 6-60 bulan dengan demam (≥38°C), berlangsung <15 menit, bersifat umum (tidak fokal), dan terjadi sekali dalam 24 jam, tanpa infeksi intrakranial atau gangguan metabolik. 1, 2

Kejang demam kompleks memiliki karakteristik: durasi >15 menit, bersifat fokal, atau terjadi lebih dari sekali dalam 24 jam. 1

Epilepsi adalah kondisi berbeda yang didefinisikan sebagai kejang berulang tanpa provokasi (afebrile seizures), bukan kejang yang dipicu demam. 1, 3

Risiko Epilepsi Setelah Kejang Demam

Risiko berkembang menjadi epilepsi setelah kejang demam sederhana sangat rendah—hanya sekitar 1%, sama dengan populasi umum. 1, 2

Bahkan pada anak dengan faktor risiko tinggi (kejang demam multipel, usia <12 bulan saat kejang pertama, dan riwayat keluarga epilepsi), risiko epilepsi hanya 2,4% pada usia 25 tahun. 1, 2

Tidak ada bukti bahwa kejang demam sederhana menyebabkan kerusakan struktural otak—peningkatan risiko epilepsi kemungkinan besar akibat predisposisi genetik, bukan kerusakan dari kejang demam itu sendiri. 1, 2

Anak dengan kejang demam kompleks memiliki risiko epilepsi sedikit lebih tinggi, terutama yang mengalami kejang fokal (5 dari 17 anak atau 29% dalam satu studi), namun tetap merupakan kejadian yang jarang. 4

Penanganan Kejang Demam di Rumah

Tindakan Segera yang Harus Dilakukan

Posisikan anak miring ke samping untuk mencegah aspirasi, jauhkan benda-benda berbahaya dari sekitar anak, dan lindungi kepala dari cedera. 2

JANGAN pernah menahan gerakan anak atau memasukkan apapun ke dalam mulut selama kejang berlangsung. 2

Tetap tenang dan catat durasi kejang—informasi ini penting untuk evaluasi medis. 2

Kapan Harus ke Rumah Sakit

Bawa anak ke rumah sakit SEGERA jika:

  • Kejang berlangsung >5 menit 2
  • Anak tidak kembali ke kondisi normal setelah kejang 1
  • Terdapat defisit neurologis fokal setelah kejang 1
  • Kejang berulang dalam 24 jam 1
  • Usia <6 bulan atau >5 tahun (bukan kejang demam tipikal) 1
  • Dicurigai infeksi sistem saraf pusat (meningitis/ensefalitis) 1, 3

Pemeriksaan yang Diperlukan

Neuroimaging (CT/MRI) TIDAK direkomendasikan secara rutin untuk kejang demam sederhana, bahkan untuk kejang demam kompleks jika anak kembali ke kondisi normal tanpa defisit neurologis. 1, 2

Pemeriksaan pencitraan hanya diindikasikan jika:

  • Anak tidak kembali ke baseline neurologis 1
  • Terdapat defisit neurologis fokal persisten 1
  • Dicurigai trauma, meningitis, atau ensefalitis sebagai penyebab 1
  • Kejang demam status epileptikus (>30 menit) 1

MRI lebih disukai daripada CT untuk pasien stabil karena sensitivitas lebih tinggi dan tidak ada radiasi. 1

Prognosis dan Edukasi Orang Tua

Dampak Jangka Panjang

Kejang demam sederhana tidak menyebabkan penurunan IQ, prestasi akademik, fungsi neurokognitif, atau gangguan perilaku. 1, 2

Tidak ada bukti bahwa kejang demam sederhana menyebabkan kerusakan struktural otak. 1, 2

Risiko Rekurensi

Anak yang mengalami kejang demam pertama pada usia <12 bulan memiliki probabilitas rekurensi sekitar 50%, sedangkan yang berusia >12 bulan memiliki probabilitas sekitar 30%. 2

Dari anak yang mengalami kejang demam kedua, 50% akan mengalami setidaknya satu rekurensi tambahan. 2

Profilaksis TIDAK Direkomendasikan

Baik terapi antikonvulsan kontinyu maupun intermiten TIDAK direkomendasikan untuk anak dengan kejang demam sederhana, karena potensi toksisitas jelas melebihi risiko minimal dari kejang demam. 1, 2

Obat-obatan seperti fenobarbital, asam valproat, dan diazepam intermiten memang efektif mengurangi rekurensi, tetapi memiliki efek samping yang tidak dapat diterima:

  • Asam valproat: hepatotoksisitas fatal (jarang), trombositopenia, perubahan berat badan, gangguan gastrointestinal, pankreatitis (terutama pada anak <2 tahun) 2
  • Fenobarbital: hiperaktivitas, iritabilitas, letargi, gangguan tidur, reaksi hipersensitivitas 2
  • Diazepam: letargi, mengantuk, ataksia 2

Antipiretik (parasetamol/ibuprofen) tidak mencegah kejang demam atau mengurangi risiko rekurensi, meskipun dapat diberikan untuk kenyamanan anak. 1, 2

Pesan Kunci untuk Orang Tua

Kejang demam sederhana adalah kondisi jinak dengan prognosis sangat baik—tidak ada dampak jangka panjang pada perkembangan atau fungsi otak anak. 1, 2

Fokus pada manajemen demam yang tepat dan edukasi tentang tindakan keamanan selama kejang, bukan pada pencegahan kejang itu sendiri. 2

Risiko berkembang menjadi epilepsi sangat rendah dan tidak dapat dicegah dengan pengobatan profilaksis. 1, 2

References

Guideline

Guideline Directed Topic Overview

Dr.Oracle Medical Advisory Board & Editors, 2025

Guideline

Pediatric Seizure Management

Praxis Medical Insights: Practical Summaries of Clinical Guidelines, 2025

Guideline

Seizure Etiologies and Classifications

Praxis Medical Insights: Practical Summaries of Clinical Guidelines, 2025

Professional Medical Disclaimer

This information is intended for healthcare professionals. Any medical decision-making should rely on clinical judgment and independently verified information. The content provided herein does not replace professional discretion and should be considered supplementary to established clinical guidelines. Healthcare providers should verify all information against primary literature and current practice standards before application in patient care. Dr.Oracle assumes no liability for clinical decisions based on this content.

Have a follow-up question?

Our Medical A.I. is used by practicing medical doctors at top research institutions around the world. Ask any follow up question and get world-class guideline-backed answers instantly.