What is the pharmacological approach for treating cephalgia (headache)?

Medical Advisory BoardAll articles are reviewed for accuracy by our Medical Advisory Board
Educational purpose only • Exercise caution as content is pending human review
Article Review Status
Submitted
Under Review
Approved

Last updated: January 2, 2026View editorial policy

Personalize

Help us tailor your experience

Which best describes you? Your choice helps us use language that's most understandable for you.

Pendekatan Farmakologi untuk Cephalgia (Sakit Kepala)

Untuk migrain akut ringan hingga sedang, mulai dengan NSAID (ibuprofen 400-800 mg, naproxen 500-825 mg, atau aspirin 1000 mg) sebagai terapi lini pertama, dan untuk serangan sedang hingga berat atau ketika NSAID gagal, gunakan kombinasi triptan + NSAID yang terbukti superior dibanding monoterapi. 1, 2

Algoritma Terapi Akut Berdasarkan Tingkat Keparahan

Migrain Ringan hingga Sedang

  • NSAID sebagai lini pertama: Ibuprofen 400-800 mg setiap 6 jam, naproxen sodium 500-825 mg (dapat diulang setiap 2-6 jam, maksimal 1,5 g/hari), atau aspirin 1000 mg 1, 2, 3
  • Kombinasi analgesik: Aspirin + acetaminophen + kafein untuk pasien yang respon buruk terhadap NSAID monoterapi 2
  • Acetaminophen 1000 mg hanya untuk pasien yang tidak toleran NSAID, karena efikasi terbatas 1, 4

Migrain Sedang hingga Berat

  • Kombinasi triptan + NSAID adalah pilihan terkuat: Sumatriptan 50-100 mg PLUS naproxen sodium 500 mg memberikan 130 lebih banyak pasien per 1000 yang mencapai pain relief berkelanjutan pada 48 jam dibanding monoterapi 2, 5
  • Triptan monoterapi: Sumatriptan, rizatriptan, naratriptan, atau zolmitriptan untuk serangan sedang-berat 1, 2
  • Untuk onset cepat atau muntah berat: sumatriptan subkutan 6 mg (onset 15 menit, efikasi 59% pain-free pada 2 jam) 2, 3

Terapi Intravena untuk Migrain Berat/Intraktabel

  • Kombinasi IV lini pertama: Metoclopramide 10 mg IV + ketorolac 30 mg IV memberikan analgesia cepat dengan risiko rebound minimal 2, 6
  • Alternatif: Prochlorperazine 10 mg IV (efikasi setara metoclopramide) + ketorolac 30 mg IV 2, 6
  • Dihydroergotamine (DHE) intranasal atau IV sebagai monoterapi untuk kasus refrakter 1, 2

Terapi Antiemetik Adjuvan

  • Metoclopramide 10 mg atau prochlorperazine 25 mg diberikan 20-30 menit sebelum analgesik untuk analgesia sinergis, bukan hanya untuk mual 2, 3
  • Metoclopramide bekerja melalui antagonisme reseptor dopamin sentral, memberikan efek analgesik independen 2, 6

Agen Baru (Lini Kedua)

  • Gepants (antagonis CGRP): Rimegepant, ubrogepant, zavegepant untuk pasien dengan kontraindikasi vaskular terhadap triptan 1, 3
  • Ditan: Lasmiditan (agonis 5-HT1F selektif) tanpa kontraindikasi vaskular, tetapi dibatasi oleh efek samping sedasi 1, 3

Batasan Frekuensi Kritis untuk Mencegah Medication-Overuse Headache (MOH)

Batasi SEMUA obat migrain akut maksimal 2 hari per minggu untuk mencegah MOH, yang dapat menyebabkan sakit kepala harian. 1, 2, 4

  • Triptan: ≥10 hari/bulan memicu MOH 4
  • NSAID: ≥15 hari/bulan memicu MOH 4
  • Jika membutuhkan terapi akut >2 hari/minggu, segera inisiasi terapi preventif 2, 6, 4

Terapi Preventif (Profilaksis)

Indikasi untuk Terapi Preventif

  • ≥2 serangan per bulan dengan disabilitas ≥3 hari 1, 6, 4
  • Penggunaan obat abortif >2 kali per minggu 1, 6
  • Kegagalan atau kontraindikasi terapi akut 6, 4

Pilihan Lini Pertama

  • Beta-blocker: Propranolol 80-240 mg/hari atau timolol 20-30 mg/hari (bukti paling konsisten) 1, 6, 4, 7
  • Antikonvulsan: Topiramate 50-100 mg/hari (manfaat tambahan: penurunan berat badan) atau valproate 1, 4, 7
  • Antidepresan: Amitriptyline 30-150 mg/hari, terutama untuk pasien dengan komorbid depresi atau gangguan tidur 1, 4, 7
  • CGRP monoclonal antibodies: Eptinezumab, erenumab, fremanezumab, galcanezumab untuk kasus refrakter (evaluasi efikasi setelah 3-6 bulan) 1, 6

Obat yang Harus Dihindari

  • Opioid: Hanya untuk kasus dimana obat lain tidak dapat digunakan, risiko penyalahgunaan telah diatasi, dan efek sedasi bukan masalah - menyebabkan ketergantungan, rebound headache, dan kehilangan efikasi 1, 2, 6, 3
  • Butalbital: Menyebabkan MOH dan harus dihindari 6

Kontraindikasi Penting

  • Triptan dan DHE: Kontraindikasi pada penyakit arteri koroner, vasospasme koroner, hipertensi tidak terkontrol, penyakit vaskular perifer, Wolff-Parkinson-White syndrome 1, 5, 3
  • Ketorolac: Hati-hati pada gangguan ginjal, riwayat perdarahan GI, penyakit jantung 2
  • Metoclopramide: Kontraindikasi pada pheochromocytoma, gangguan kejang, perdarahan GI, obstruksi GI 2

Prinsip Timing dan Rute Pemberian

  • Berikan obat sedini mungkin saat serangan, idealnya saat nyeri masih ringan untuk efikasi maksimal 1, 4, 3
  • Pilih rute non-oral (subkutan, intranasal, IV) ketika mual atau muntah signifikan 2, 3
  • Obat rescue atau dosis kedua dapat diberikan 4-24 jam setelah dosis awal untuk nyeri rekuren 5

Pitfall yang Harus Dihindari

  • Jangan izinkan pasien meningkatkan frekuensi penggunaan obat akut sebagai respons terhadap kegagalan terapi - ini menciptakan siklus MOH 2, 6
  • Jangan menggunakan prednisone sebagai bagian dari "headache cocktail" di urgent care - bukti terbatas untuk migrain akut, lebih tepat untuk status migrainosus 2
  • Kegagalan satu triptan tidak memprediksi kegagalan triptan lain - coba triptan berbeda sebelum eskalasi ke agen lini ketiga 2

References

Guideline

Guideline Directed Topic Overview

Dr.Oracle Medical Advisory Board & Editors, 2025

Guideline

Acute Headache Treatment Guidelines

Praxis Medical Insights: Practical Summaries of Clinical Guidelines, 2025

Research

Acute Migraine Headache: Treatment Strategies.

American family physician, 2025

Guideline

Management Approach for Migraine Without Aura

Praxis Medical Insights: Practical Summaries of Clinical Guidelines, 2025

Guideline

Management of Acute Intractable Migraine

Praxis Medical Insights: Practical Summaries of Clinical Guidelines, 2025

Research

Prophylactic Treatment of Migraine.

Noro psikiyatri arsivi, 2013

Professional Medical Disclaimer

This information is intended for healthcare professionals. Any medical decision-making should rely on clinical judgment and independently verified information. The content provided herein does not replace professional discretion and should be considered supplementary to established clinical guidelines. Healthcare providers should verify all information against primary literature and current practice standards before application in patient care. Dr.Oracle assumes no liability for clinical decisions based on this content.

Have a follow-up question?

Our Medical A.I. is used by practicing medical doctors at top research institutions around the world. Ask any follow up question and get world-class guideline-backed answers instantly.