Fokus Pengkajian ABCDE pada Kasus Luka Bakar
Pada kasus luka bakar, pengkajian ABCDE harus fokus pada ancaman spesifik yang mengancam jiwa: cedera inhalasi pada Airway, gangguan ventilasi akibat eskar sirkumferensial pada Breathing, syok hipovolemik pada Circulation, penurunan kesadaran akibat hipoksia atau cedera kepala pada Disability, dan penilaian luas luka bakar serta hipotermia pada Exposure. 1
A - Airway (Jalan Napas)
Prioritas utama adalah identifikasi dini cedera inhalasi dan ancaman obstruksi jalan napas, yang merupakan faktor risiko mortalitas utama pada luka bakar. 2
Tanda-tanda yang Harus Dikaji:
- Luka bakar pada wajah, mulut, atau leher anterior - indikasi untuk intubasi dini 3
- Riwayat terjebak dalam ruang tertutup atau inhalasi asap - meningkatkan risiko mortalitas secara non-linear 2
- Bulu hidung yang gosong, jelaga di mulut/hidung, atau suara serak 1
- Stridor atau kesulitan bernapas - tanda obstruksi jalan napas yang mengancam 1
Tindakan Kritis:
- Pertimbangkan intubasi dini pada pasien dengan bukti luka bakar ekstensif terutama yang melibatkan wajah, mulut, atau leher anterior 3
- Jangan menunda intubasi karena edema jalan napas dapat berkembang cepat dalam beberapa jam pertama 1
B - Breathing (Pernapasan)
Fokus pada identifikasi gangguan ventilasi akibat eskar sirkumferensial toraks dan cedera inhalasi. 2
Komplikasi yang Harus Diidentifikasi:
- Sindrom kompartemen toraks akibat luka bakar sirkumferensial derajat tiga yang menyebabkan: 2
- Penurunan komplians paru
- Hipoksia dan hiperkapnia
- Penurunan cardiac output
Tindakan Esensial:
- Eskarotomi harus dilakukan jika luka bakar dalam menyebabkan sindrom kompartemen yang mengganggu jalan napas dan/atau ventilasi 2
- Idealnya eskarotomi dilakukan di pusat luka bakar oleh tenaga berpengalaman, namun jangan menunda jika terjadi gangguan ventilasi 2
- Satu-satunya indikasi eskarotomi segera adalah gangguan pergerakan jalan napas dan/atau ventilasi 2
C - Circulation (Sirkulasi)
Pengkajian sirkulasi berfokus pada deteksi syok hipovolemik dan sindrom kompartemen ekstremitas. 1
Penilaian Hemodinamik:
- Hitung Total Body Surface Area (TBSA) yang terbakar untuk menentukan kebutuhan resusitasi cairan 2
- Gunakan metode Lund-Browder (versi pediatrik untuk anak) sebagai metode referensi karena paling akurat 2, 4, 3
- Alternatif: metode telapak tangan terbuka (telapak dan jari) = 1% TBSA - praktis dan membatasi overestimasi 2, 3
- Aplikasi smartphone (misalnya E-Burn) dapat memfasilitasi penilaian 2, 3
Identifikasi Sindrom Kompartemen Ekstremitas:
- Luka bakar sirkumferensial derajat tiga dapat menyebabkan: 2
- Iskemia akut ekstremitas dengan gangguan neurologis dan nekrosis distal
- Gangguan perfusi yang ditandai ekstremitas biru, ungu, atau pucat 5
Tindakan Resusitasi:
- Mulai resusitasi cairan kristaloid isotonik (NaCl 0,9%) sebagai lini pertama pada pasien dengan tanda syok 3
- Hindari larutan hipotonik seperti Ringer Laktat yang dapat meningkatkan edema jaringan 3
- Berikan cairan dengan teknik fluid challenge, bolus 250-1000 ml dengan reevaluasi setelah setiap bolus 3
- Target: reduksi laktat 20% dalam jam pertama 3
D - Disability (Status Neurologis)
Kaji tingkat kesadaran untuk mengidentifikasi hipoksia, cedera kepala konkomitan, atau intoksikasi karbon monoksida. 1, 6
Penilaian yang Diperlukan:
- Evaluasi Glasgow Coma Scale (GCS) 1
- Identifikasi adanya trauma multipel konkomitan - terjadi pada sekitar 5% pasien luka bakar 6
- Pada luka bakar akibat ledakan, kecelakaan kendaraan, atau elektrokusi dengan jatuh - curigai cedera kepala 6
Pertimbangan Khusus:
- Pasien dengan luka bakar dan cedera kepala memerlukan pendekatan seimbang antara prioritas trauma dan luka bakar 6
- Resusitasi cairan harus disesuaikan untuk menghindari overload pada pasien cedera kepala 6
E - Exposure (Paparan dan Pemeriksaan Lengkap)
Buka seluruh pakaian untuk penilaian lengkap luas dan kedalaman luka bakar, sambil mencegah hipotermia. 1
Penilaian Luka Bakar:
- Dokumentasikan TBSA menggunakan metode Lund-Browder - paling akurat mencegah overtriage dan undertriage yang meningkatkan morbiditas dan mortalitas 2, 4, 3
- Penilaian harus diulang selama manajemen awal karena penampilan luka bakar dapat berevolusi 4
- Identifikasi lokasi luka bakar di area sensitif fungsi (wajah, tangan, kaki, perineum, lipatan kulit) - memerlukan konsultasi spesialis 2, 5
Pencegahan Hipotermia:
- Hipotermia adalah komplikasi mayor pada fase akut luka bakar 2
- Setelah pendinginan awal (5-20 menit dengan air mengalir bersih), tutup luka dengan dressing bersih non-adherent 5
- Monitor tanda hipotermia terutama pada anak dengan luka bakar luas 5
Kriteria Rujukan ke Pusat Luka Bakar
Konsultasi spesialis luka bakar harus segera diminta untuk menentukan apakah pasien perlu dirawat di pusat luka bakar. 2, 3
Dewasa - Rujuk jika ada salah satu kriteria: 2, 5
- TBSA > 20%
- Luka bakar dalam > 5%
- Inhalasi asap
- Luka bakar dalam di area sensitif fungsi (wajah, tangan, kaki, perineum)
- Luka bakar listrik tegangan tinggi
- Usia > 75 tahun dengan TBSA < 20%
- Komorbid berat
- TBSA > 10%
Anak - Rujuk jika ada salah satu kriteria: 2, 5
- TBSA > 10%
- Luka bakar dalam > 5%
- Bayi < 1 tahun
- Komorbid berat
- Cedera inhalasi asap
- Luka bakar dalam di area sensitif fungsi
- Luka bakar sirkumferensial
- Luka bakar listrik atau kimia apapun
Manfaat Rujukan Langsung:
- Rujukan langsung ke pusat luka bakar (bukan transfer bertahap) meningkatkan survival dan outcome fungsional 2, 3
- Mengurangi waktu hingga eksisi, durasi ventilasi mekanik, dan mortalitas 2
- Telemedicine harus digunakan jika spesialis tidak tersedia untuk meningkatkan penilaian awal dan mencegah transfer yang tidak tepat 2, 3
Peringatan Penting
- Jangan menunda rujukan untuk luka bakar partial-thickness atau full-thickness di tangan - menyebabkan disabilitas fungsional permanen 5
- Jangan meremehkan keparahan cedera listrik berdasarkan kerusakan kulit yang terlihat - kerusakan internal sering tidak berkorelasi dengan tampilan luar 3
- Jangan menunda eskarotomi jika ada gangguan ventilasi atau perfusi - eskarotomi yang terlambat meningkatkan morbiditas 2
- Undertriage meningkatkan morbiditas dan mortalitas - gunakan metode penilaian yang akurat 2