Patomekanisme Diabetes Melitus Menyebabkan Makrosomia
Diabetes melitus pada kehamilan menyebabkan makrosomia melalui mekanisme hiperinsulinemia janin yang dipicu oleh hiperglikemia maternal, di mana glukosa maternal yang berlebihan melewati plasenta dan merangsang pankreas janin untuk memproduksi insulin berlebih, yang kemudian bertindak sebagai hormon pertumbuhan utama janin. 1
Mekanisme Patofisiologi Utama
Transfer Glukosa Transplasental
- Glukosa maternal melewati plasenta secara bebas melalui difusi terfasilitasi, sementara insulin maternal tidak dapat melewati plasenta 2, 3
- Ketika ibu mengalami hiperglikemia (kadar glukosa tinggi), janin juga terpapar kadar glukosa yang tinggi secara proporsional 1
- Ambang batas glukosa untuk makrosomia dimulai pada kadar glukosa maternal rata-rata ≥130 mg/dL, dengan risiko makrosomia meningkat dua kali lipat pada kadar ini 4
Hiperinsulinemia Janin
- Pankreas janin merespons hiperglikemia dengan memproduksi insulin dalam jumlah berlebihan 5, 6
- Insulin janin bertindak sebagai hormon anabolik dan pertumbuhan utama, merangsang sintesis protein, lipogenesis, dan glikogenesis 5, 6
- Hiperinsulinemia janin ini menyebabkan deposisi lemak berlebihan dan pertumbuhan jaringan yang berlebihan, terutama pada bahu, tubuh, dan organ internal 5
Hubungan dengan Kontrol Glikemik Maternal
- Risiko makrosomia berkorelasi langsung dengan tingkat HbA1c maternal, dengan peningkatan risiko signifikan pada HbA1c ≥6.0% 7, 8
- Studi meta-analisis menunjukkan risiko relatif 1.70 untuk bayi besar masa kehamilan (LGA) pada wanita dengan HbA1c tinggi dibandingkan nilai normal 7
- Bahkan dengan kontrol glikemik yang baik (HbA1c <6.0%), prevalensi makrosomia tetap 14.9%, meningkat menjadi 28.1% pada HbA1c ≥6.0% 8
Faktor Kontributor Tambahan
Berat Badan Pra-Kehamilan
- Indeks massa tubuh (IMT) pra-kehamilan ≥25 kg/m² meningkatkan risiko makrosomia sekitar tiga kali lipat, independen dari kontrol glukosa 4, 8
- Wanita dengan overweight/obesitas memiliki tingkat makrosomia 24.6% dibandingkan 10.4% pada wanita dengan berat badan normal, meskipun kontrol HbA1c serupa 8
Dosis Insulin Maternal
- Dosis insulin >80 unit/hari dikaitkan dengan peningkatan risiko makrosomia 1.5 kali lipat 4
- Hal ini mencerminkan tingkat resistensi insulin maternal yang lebih berat dan kemungkinan hiperglikemia yang lebih sulit dikontrol 4
Hormon Laktogenik Plasenta
- Hormon plasenta seperti human placental lactogen (hPL) dapat berkontribusi pada fungsi sel beta janin yang berlebihan 6
- Kadar hPL yang sangat tinggi (19 μg/L) telah dikaitkan dengan makrosomia berat bahkan dengan kontrol glukosa yang adekuat 6
Konsekuensi Klinis
Komplikasi Neonatal
- Hipoglikemia neonatal akibat hiperinsulinemia janin yang persisten setelah lahir ketika suplai glukosa maternal terhenti 5, 6
- Hiperbilirubinemia neonatal, distres respiratorius, dan polisitemia 1, 5
- Risiko trauma lahir termasuk distosia bahu, terutama jika berat janin >4500 gram 3
Implikasi Jangka Panjang
- Peningkatan risiko obesitas dan diabetes melitus tipe 2 pada anak di kemudian hari 1
- Risiko hipertensi pada keturunan 1
Peringatan Penting
Kontrol glikemik yang ketat saja tidak cukup untuk mencegah makrosomia pada batas yang dapat diterima (<10% bayi baru lahir), terutama pada wanita dengan overweight/obesitas pra-kehamilan. 8
- Target HbA1c <6% selama kehamilan memberikan risiko terendah untuk makrosomia, persalinan prematur, dan preeklampsia 2
- Pemantauan glukosa postprandial lebih penting daripada HbA1c saja, karena hiperglikemia postprandial adalah pendorong utama makrosomia 2, 3
- Manajemen optimal memerlukan kombinasi kontrol glikemik ketat (glukosa puasa <95 mg/dL, 1 jam postprandial <140 mg/dL) dan optimalisasi berat badan pra-kehamilan 2, 3, 8