Dosis Kalsium Karbonat untuk Pasien dengan Kalsium Terionisasi 1.04 mmol/L
Untuk pasien dengan kalsium terionisasi 1.04 mmol/L (di bawah rentang normal 1.1-1.3 mmol/L), kalsium karbonat oral TIDAK direkomendasikan sebagai terapi lini pertama—pasien ini memerlukan infus kalsium glukonat intravena dengan dosis 1-2 mg kalsium elemental per kilogram berat badan per jam. 1
Mengapa Kalsium Karbonat Oral Tidak Tepat
- Kalsium terionisasi 1.04 mmol/L berada di bawah rentang normal (1.1-1.3 mmol/L) dan memerlukan penanganan segera, terutama jika pasien simptomatik atau dalam konteks transfusi masif atau pasca-paratiroidektomi 1, 2
- Hipokalsemia pada level ini memerlukan terapi intravena, bukan oral, karena kalsium terionisasi sangat penting untuk polimerisasi fibrin, fungsi platelet, kontraktilitas jantung, dan resistensi vaskular sistemik 2
Protokol Terapi Intravena yang Direkomendasikan
Dosis Awal Kalsium Glukonat
- Mulai infus kalsium glukonat 10% dengan kecepatan 1-2 mg kalsium elemental/kg/jam 1
- Untuk pasien 70 kg, ini setara dengan 70-140 mg kalsium elemental per jam 1
- Karena kalsium glukonat 10% mengandung 90 mg kalsium elemental per ampul 10 mL, dosis ini diterjemahkan menjadi sekitar 8-16 mL/jam larutan kalsium glukonat 10% 1
Alternatif: Kalsium Klorida untuk Situasi Kritis
- Kalsium klorida lebih disukai daripada kalsium glukonat dalam situasi kritis karena memberikan tiga kali lebih banyak kalsium elemental 3, 2
- Dosis kalsium klorida: 2000 mg (20 mL larutan 10%) untuk dewasa 3
- Infus pemeliharaan mungkin diperlukan dengan kecepatan 20-40 mg/kg/jam 3
- Berikan melalui jalur sentral, terutama pada anak-anak 3
Monitoring Ketat yang Diperlukan
- Ukur kalsium terionisasi setiap 4-6 jam selama infus 1
- Sesuaikan kecepatan infus untuk mempertahankan kalsium terionisasi dalam rentang normal (1.15-1.36 mmol/L) 1
- Pantau fungsi ginjal karena hipokalsemia dapat menyebabkan cedera ginjal akut 3
Transisi ke Terapi Oral (Kalsium Karbonat)
- Kalsium karbonat oral hanya digunakan SETELAH kalsium mencapai rentang normal dan stabil, serta ketika asupan oral memungkinkan 1
- Untuk kasus non-urgent atau pemeliharaan pasca-stabilisasi: kalsium karbonat 250-500 mg/hari ditambah vitamin D (kolekalsiferol atau kalsidiol) 3
- Dalam konteks pasca-paratiroidektomi dengan hungry bone disease, dosis kalsium karbonat oral 1500 mg/hari dapat mencukupi jika kadar 1,25(OH)2D serum sangat tinggi (>200 pmol/L) 4
- Kurangi infus secara bertahap ketika kalsium mencapai rentang normal dan tetap stabil, kemudian transisi ke kalsium karbonat oral dan kalsitriol 1
Pertimbangan Penting tentang pH
- Setiap peningkatan 0.1 unit pH menurunkan kalsium terionisasi sekitar 0.05 mmol/L 1, 3, 2
- Anda harus memperhitungkan perubahan pH saat menginterpretasi kadar kalsium terionisasi, karena alkalosis meningkatkan pengikatan kalsium pada albumin 2
- Jangan abaikan perubahan pH saat menginterpretasi kadar kalsium terionisasi 3
Peringatan Kritis
- Hipokalsemia berat sering tidak dapat diperbaiki dengan terapi kalsium saja dalam kondisi aliran rendah—mungkin diperlukan dukungan inotropik bersamaan (seperti isoproterenol) 5
- Kecepatan infus CaCl2 yang sangat tinggi mungkin diperlukan untuk mengembalikan kalsium terionisasi ke normal 5
- Jangan menunda pengobatan pada pasien simptomatik dengan hipokalsemia berat 3
- Pengukuran kalsium total tidak memberikan indikasi kadar fraksi yang aktif secara biologis—selalu ukur kalsium terionisasi 5