Tatalaksana Epistaksis Berulang pada Anak dengan Alergi
Untuk anak dengan epistaksis berulang akibat alergi, kombinasi antihistamin oral dan kortikosteroid intranasal memberikan hasil terbaik dengan 60% resolusi epistaksis, dibandingkan 40% dengan steroid nasal saja atau 20% dengan antihistamin saja. 1
Mekanisme Alergi Menyebabkan Epistaksis
Rinitis alergi menyebabkan epistaksis melalui beberapa mekanisme 1, 2:
- Inflamasi mukosa hidung yang membuat pembuluh darah menjadi rapuh dan hiperemis, mudah berdarah dengan trauma ringan 2
- Gatal dan rhinorrhea yang memicu perilaku menggaruk/mengorek hidung (90% anak dengan alergi melakukan ini) 1
- Trauma digital berulang dari menggaruk hidung akibat gatal adalah penyebab utama epistaksis pada anak dengan rinitis alergi 1
- Mukosa kering dan rapuh akibat perubahan suhu mendadak dan peradangan kronis 2
Algoritma Tatalaksana Epistaksis Akut
Langkah Pertama: Kompresi Nasal (5-15 menit)
- Posisikan anak duduk tegak dengan kepala sedikit condong ke depan untuk mencegah darah masuk ke saluran napas 3
- Lakukan kompresi kuat dan terus-menerus pada sepertiga bawah hidung selama minimal 5 menit, idealnya 10-15 menit tanpa memeriksa apakah perdarahan berhenti 3
- Instruksikan anak untuk bernapas melalui mulut dan meludahkan darah daripada menelannya 3, 4
- Teknik kompresi ini menghentikan perdarahan pada mayoritas kasus pediatrik 3
Langkah Kedua: Vasokonstriktor Topikal (jika perdarahan berlanjut)
- Aplikasikan oxymetazoline atau phenylephrine (2 semprotan pada lubang hidung yang berdarah) setelah membersihkan bekuan darah 3
- Vasokonstriktor menghentikan 65-75% epistaksis yang tidak berhenti dengan kompresi saja 3, 5
Langkah Ketiga: Kauterisasi (jika masih berdarah)
- Lakukan kauterisasi bipolar elektrokauter jika sumber perdarahan terlihat jelas pada rinoskopi anterior 3
- Elektrokauter lebih efektif dan kurang nyeri dibanding kauterisasi kimiawi (silver nitrate), dengan angka rekurensi lebih rendah (14.5% vs 35.1%) 6, 5
Tatalaksana Definitif untuk Epistaksis Berulang Akibat Alergi
Terapi Farmakologis Rinitis Alergi
Regimen Optimal (Terapi Kombinasi): 1
- Kortikosteroid intranasal (fluticasone, mometasone, atau triamcinolone) PLUS antihistamin oral
- Kombinasi ini mencapai resolusi epistaksis pada 60% pasien dalam 1 bulan 1
Kortikosteroid Intranasal Saja: 1
- Mencapai resolusi epistaksis pada 40% pasien 1
- Lebih superior dibanding antihistamin karena mengurangi inflamasi mukosa dan gatal/rhinorrhea yang memicu menggaruk hidung 1
- Efek samping epistaksis dari steroid nasal terjadi pada 4-8% kasus jangka pendek, hingga 20% penggunaan >1 tahun 7
- Minimalisir epistaksis dengan mengarahkan semprotan menjauhi septum 7
Antihistamin Oral Saja: 1
- Hanya mencapai resolusi epistaksis pada 20% pasien 1
- Kurang efektif karena tidak mengatasi inflamasi mukosa secara langsung 1
Pilihan Kortikosteroid Intranasal untuk Anak
Berdasarkan usia dan ketersediaan 7:
- Usia ≥2 tahun: Triamcinolone acetonide (OTC), mometasone furoate, atau fluticasone furoate - 1-2 semprotan per lubang hidung setiap hari 7
- Usia ≥4 tahun: Fluticasone propionate - 1 semprotan per lubang hidung setiap hari 7
- Usia ≥6 tahun: Budesonide atau ciclesonide - 2 semprotan per lubang hidung setiap hari 7
Catatan Penting: Tidak ada bukti atrofi mukosa atau supresi aksis hipotalamus-pituitari-adrenal pada penggunaan jangka panjang (1-5 tahun) pada dosis yang direkomendasikan 7
Pencegahan Rekurensi
Perawatan Mukosa Nasal
- Aplikasikan petroleum jelly (Vaseline) pada septum anterior untuk mencegah kekeringan 3, 4
- Gunakan saline nasal spray secara teratur untuk menjaga kelembaban mukosa 3, 4
- Humidifier di ruangan untuk mencegah mukosa kering 4
Modifikasi Perilaku
- Edukasi tentang bahaya menggaruk/mengorek hidung, terutama karena 90% anak dengan alergi melakukan ini 1
- Potong kuku anak untuk mengurangi trauma jika menggaruk 8
- Kontrol gatal dengan terapi alergi yang adekuat untuk mengurangi perilaku menggaruk 1
Indikasi Rujuk ke Spesialis
Segera cari pertolongan medis jika 3, 4:
- Perdarahan tidak berhenti setelah 15 menit kompresi kontinyu 3, 4
- Anak mengalami pusing, lemas, atau kepala ringan yang menunjukkan kehilangan darah signifikan 3, 4
- Perdarahan unilateral persisten berulang yang mungkin mengindikasikan patologi tersembunyi 4
- Durasi perdarahan >30 menit dalam periode 24 jam 4
- Riwayat gangguan koagulasi pribadi atau keluarga 7, 4
Evaluasi Lanjutan
Pertimbangkan nasal endoskopi untuk 7:
- Epistaksis yang sulit dikontrol atau berulang meskipun terapi alergi optimal 7
- Menyingkirkan benda asing (7% kasus epistaksis pediatrik) 7
- Menyingkirkan massa nasal atau patologi lain 7
Peringatan Penting
- Hanya 6.9% anak dengan epistaksis memerlukan prosedur di luar kompresi sederhana dan agen topikal 3, 9
- Jangan menggunakan kauterisasi bilateral pada septum karena risiko perforasi septum 7
- Steroid intranasal aman untuk penggunaan jangka panjang pada anak dengan dosis yang tepat, tidak menyebabkan gangguan pertumbuhan signifikan 7
- Epistaksis posterior sangat jarang pada anak (hanya 5-10% kasus) dan lebih sering pada lansia 7, 9