What is the treatment approach for a child experiencing frequent epistaxis (nosebleeds) potentially due to allergies?

Medical Advisory BoardAll articles are reviewed for accuracy by our Medical Advisory Board
Educational purpose only • Exercise caution as content is pending human review
Article Review Status
Submitted
Under Review
Approved

Last updated: January 7, 2026View editorial policy

Personalize

Help us tailor your experience

Which best describes you? Your choice helps us use language that's most understandable for you.

Tatalaksana Epistaksis Berulang pada Anak dengan Alergi

Untuk anak dengan epistaksis berulang akibat alergi, kombinasi antihistamin oral dan kortikosteroid intranasal memberikan hasil terbaik dengan 60% resolusi epistaksis, dibandingkan 40% dengan steroid nasal saja atau 20% dengan antihistamin saja. 1

Mekanisme Alergi Menyebabkan Epistaksis

Rinitis alergi menyebabkan epistaksis melalui beberapa mekanisme 1, 2:

  • Inflamasi mukosa hidung yang membuat pembuluh darah menjadi rapuh dan hiperemis, mudah berdarah dengan trauma ringan 2
  • Gatal dan rhinorrhea yang memicu perilaku menggaruk/mengorek hidung (90% anak dengan alergi melakukan ini) 1
  • Trauma digital berulang dari menggaruk hidung akibat gatal adalah penyebab utama epistaksis pada anak dengan rinitis alergi 1
  • Mukosa kering dan rapuh akibat perubahan suhu mendadak dan peradangan kronis 2

Algoritma Tatalaksana Epistaksis Akut

Langkah Pertama: Kompresi Nasal (5-15 menit)

  • Posisikan anak duduk tegak dengan kepala sedikit condong ke depan untuk mencegah darah masuk ke saluran napas 3
  • Lakukan kompresi kuat dan terus-menerus pada sepertiga bawah hidung selama minimal 5 menit, idealnya 10-15 menit tanpa memeriksa apakah perdarahan berhenti 3
  • Instruksikan anak untuk bernapas melalui mulut dan meludahkan darah daripada menelannya 3, 4
  • Teknik kompresi ini menghentikan perdarahan pada mayoritas kasus pediatrik 3

Langkah Kedua: Vasokonstriktor Topikal (jika perdarahan berlanjut)

  • Aplikasikan oxymetazoline atau phenylephrine (2 semprotan pada lubang hidung yang berdarah) setelah membersihkan bekuan darah 3
  • Vasokonstriktor menghentikan 65-75% epistaksis yang tidak berhenti dengan kompresi saja 3, 5

Langkah Ketiga: Kauterisasi (jika masih berdarah)

  • Lakukan kauterisasi bipolar elektrokauter jika sumber perdarahan terlihat jelas pada rinoskopi anterior 3
  • Elektrokauter lebih efektif dan kurang nyeri dibanding kauterisasi kimiawi (silver nitrate), dengan angka rekurensi lebih rendah (14.5% vs 35.1%) 6, 5

Tatalaksana Definitif untuk Epistaksis Berulang Akibat Alergi

Terapi Farmakologis Rinitis Alergi

Regimen Optimal (Terapi Kombinasi): 1

  • Kortikosteroid intranasal (fluticasone, mometasone, atau triamcinolone) PLUS antihistamin oral
  • Kombinasi ini mencapai resolusi epistaksis pada 60% pasien dalam 1 bulan 1

Kortikosteroid Intranasal Saja: 1

  • Mencapai resolusi epistaksis pada 40% pasien 1
  • Lebih superior dibanding antihistamin karena mengurangi inflamasi mukosa dan gatal/rhinorrhea yang memicu menggaruk hidung 1
  • Efek samping epistaksis dari steroid nasal terjadi pada 4-8% kasus jangka pendek, hingga 20% penggunaan >1 tahun 7
  • Minimalisir epistaksis dengan mengarahkan semprotan menjauhi septum 7

Antihistamin Oral Saja: 1

  • Hanya mencapai resolusi epistaksis pada 20% pasien 1
  • Kurang efektif karena tidak mengatasi inflamasi mukosa secara langsung 1

Pilihan Kortikosteroid Intranasal untuk Anak

Berdasarkan usia dan ketersediaan 7:

  • Usia ≥2 tahun: Triamcinolone acetonide (OTC), mometasone furoate, atau fluticasone furoate - 1-2 semprotan per lubang hidung setiap hari 7
  • Usia ≥4 tahun: Fluticasone propionate - 1 semprotan per lubang hidung setiap hari 7
  • Usia ≥6 tahun: Budesonide atau ciclesonide - 2 semprotan per lubang hidung setiap hari 7

Catatan Penting: Tidak ada bukti atrofi mukosa atau supresi aksis hipotalamus-pituitari-adrenal pada penggunaan jangka panjang (1-5 tahun) pada dosis yang direkomendasikan 7

Pencegahan Rekurensi

Perawatan Mukosa Nasal

  • Aplikasikan petroleum jelly (Vaseline) pada septum anterior untuk mencegah kekeringan 3, 4
  • Gunakan saline nasal spray secara teratur untuk menjaga kelembaban mukosa 3, 4
  • Humidifier di ruangan untuk mencegah mukosa kering 4

Modifikasi Perilaku

  • Edukasi tentang bahaya menggaruk/mengorek hidung, terutama karena 90% anak dengan alergi melakukan ini 1
  • Potong kuku anak untuk mengurangi trauma jika menggaruk 8
  • Kontrol gatal dengan terapi alergi yang adekuat untuk mengurangi perilaku menggaruk 1

Indikasi Rujuk ke Spesialis

Segera cari pertolongan medis jika 3, 4:

  • Perdarahan tidak berhenti setelah 15 menit kompresi kontinyu 3, 4
  • Anak mengalami pusing, lemas, atau kepala ringan yang menunjukkan kehilangan darah signifikan 3, 4
  • Perdarahan unilateral persisten berulang yang mungkin mengindikasikan patologi tersembunyi 4
  • Durasi perdarahan >30 menit dalam periode 24 jam 4
  • Riwayat gangguan koagulasi pribadi atau keluarga 7, 4

Evaluasi Lanjutan

Pertimbangkan nasal endoskopi untuk 7:

  • Epistaksis yang sulit dikontrol atau berulang meskipun terapi alergi optimal 7
  • Menyingkirkan benda asing (7% kasus epistaksis pediatrik) 7
  • Menyingkirkan massa nasal atau patologi lain 7

Peringatan Penting

  • Hanya 6.9% anak dengan epistaksis memerlukan prosedur di luar kompresi sederhana dan agen topikal 3, 9
  • Jangan menggunakan kauterisasi bilateral pada septum karena risiko perforasi septum 7
  • Steroid intranasal aman untuk penggunaan jangka panjang pada anak dengan dosis yang tepat, tidak menyebabkan gangguan pertumbuhan signifikan 7
  • Epistaksis posterior sangat jarang pada anak (hanya 5-10% kasus) dan lebih sering pada lansia 7, 9

References

Research

Management of anterior and posterior epistaxis.

American family physician, 1991

Guideline

Treatment for Pediatric Nosebleed (Epistaxis)

Praxis Medical Insights: Practical Summaries of Clinical Guidelines, 2025

Guideline

Management of Frequent Nosebleeds in Children

Praxis Medical Insights: Practical Summaries of Clinical Guidelines, 2025

Research

Epistaxis Treatment Options: Literature Review.

Indian journal of otolaryngology and head and neck surgery : official publication of the Association of Otolaryngologists of India, 2023

Guideline

Guideline Directed Topic Overview

Dr.Oracle Medical Advisory Board & Editors, 2025

Research

Epistaxis in children: causes, diagnosis, and treatment.

Ear, nose, & throat journal, 1989

Guideline

Epistaxis Management and Intervention Rates

Praxis Medical Insights: Practical Summaries of Clinical Guidelines, 2025

Professional Medical Disclaimer

This information is intended for healthcare professionals. Any medical decision-making should rely on clinical judgment and independently verified information. The content provided herein does not replace professional discretion and should be considered supplementary to established clinical guidelines. Healthcare providers should verify all information against primary literature and current practice standards before application in patient care. Dr.Oracle assumes no liability for clinical decisions based on this content.

Have a follow-up question?

Our Medical A.I. is used by practicing medical doctors at top research institutions around the world. Ask any follow up question and get world-class guideline-backed answers instantly.