How is the severity of transverse myelitis evaluated and what is the scoring system used?

Medical Advisory BoardAll articles are reviewed for accuracy by our Medical Advisory Board
Educational purpose only • Exercise caution as content is pending human review
Article Review Status
Submitted
Under Review
Approved

Last updated: January 8, 2026View editorial policy

Personalize

Help us tailor your experience

Which best describes you? Your choice helps us use language that's most understandable for you.

Penilaian Keparahan Myelitis Transverse

Tidak ada sistem skoring yang tervalidasi secara khusus untuk menilai keparahan myelitis transverse, namun penilaian klinis menggunakan "deficit score" yang mencakup evaluasi fungsi motorik, sensorik, dan otonom pada saat defisit maksimal (biasanya dalam 10 hari onset) merupakan pendekatan yang paling praktis dan prediktif terhadap outcome. 1, 2, 3

Parameter Penilaian Keparahan

Komponen Utama Evaluasi Klinis

Penilaian keparahan myelitis transverse harus mencakup tiga domain utama:

  • Fungsi motorik: Evaluasi kekuatan otot bilateral, dengan perhatian khusus pada ada tidaknya paraplegia komplet (tidak ada gerakan volunter pada tungkai) yang terjadi pada 50% pasien pada defisit puncak 2, 3

  • Fungsi sensorik: Penilaian gangguan sensorik, parestesia, atau disestesia seperti pita yang terjadi pada 80-94% pasien 2

  • Fungsi otonom: Evaluasi disfungsi kandung kemih dan konstipasi, yang terjadi pada hampir semua pasien 1, 4, 2

Deficit Score pada Onset

"Deficit score" yang tinggi pada saat onset merupakan salah satu dari tiga variabel yang secara signifikan berhubungan dengan outcome yang lebih buruk. 3 Meskipun tidak ada skala numerik yang terstandarisasi, penilaian ini mencakup:

  • Tingkat keparahan kelemahan bilateral 4, 3
  • Luasnya gangguan sensorik 2, 3
  • Derajat disfungsi sfingter 1, 3

Faktor Prognostik yang Menentukan Keparahan

Temuan MRI Spinal

Abnormalitas pada pencitraan MRI spinal merupakan prediktor independen untuk outcome yang lebih buruk: 3

  • Longitudinally extensive transverse myelitis (LETM): Lesi yang melibatkan ≥3 segmen vertebra menunjukkan keparahan yang lebih tinggi dan harus meningkatkan kecurigaan terhadap neuromyelitis optica spectrum disorder (NMOSD) 1, 4, 5

  • Lesi T2-weighted hyperintense yang tampak berbentuk baji pada potongan aksial dan berbentuk cerutu pada potongan sagital 4, 5, 6

Temuan Elektrofisiologi

Somatosensory evoked potentials (SSEP) yang abnormal merupakan prediktor kuat untuk outcome yang memburuk. 3 SSEP abnormal ditemukan pada 61% pasien dan merupakan salah satu dari tiga variabel yang secara signifikan mempengaruhi prognosis 3

Biomarker Cairan Serebrospinal

Kadar interleukin-6 (IL-6) dalam cairan serebrospinal berkorelasi kuat dengan derajat disabilitas dan sangat prediktif terhadap outcome. 2 Pemeriksaan CSF juga menunjukkan abnormalitas pada 94% pasien dengan pleositosis, peningkatan protein, atau keduanya 3

Stratifikasi Outcome Berdasarkan Keparahan

Kategori Outcome Jangka Panjang

Berdasarkan serial kasus longitudinal, pasien myelitis transverse terbagi dalam tiga kategori outcome yang relatif sama: 2

  • Sepertiga pasien: Pemulihan dengan sedikit atau tanpa gejala sisa
  • Sepertiga pasien: Disabilitas permanen derajat sedang
  • Sepertiga pasien: Disabilitas berat

Faktor yang Memperburuk Prognosis

Tiga faktor utama yang berhubungan dengan outcome yang lebih buruk: 1, 3

  • Lesi MRI spinal yang ekstensif (terutama LETM ≥3 segmen vertebra) 1
  • Kekuatan otot yang berkurang atau disfungsi sfingter pada saat presentasi 1
  • Keterlambatan (>2 minggu) dalam memulai terapi 1

Pendekatan Praktis Penilaian Keparahan

Algoritma Evaluasi

Pada saat presentasi awal:

  1. Dokumentasikan deficit score dengan menilai secara sistematis fungsi motorik bilateral, sensorik, dan otonom 3

  2. Lakukan MRI spinal segera dengan potongan aksial tipis untuk mendeteksi lesi dan menghitung jumlah segmen vertebra yang terlibat 1, 5, 6

  3. Pertimbangkan pemeriksaan SSEP untuk stratifikasi risiko prognostik 3

  4. Periksa CSF untuk IL-6 jika tersedia, karena sangat prediktif terhadap disabilitas 2

Peringatan Klinis Penting

Perhatikan tanda-tanda keparahan tinggi yang memerlukan terapi agresif segera:

  • Paraplegia komplet pada presentasi 2
  • LETM pada MRI (≥3 segmen) 1, 4
  • Disfungsi otonom berat dengan retensi urin 1, 4
  • Onset gejala yang sangat cepat (dalam hitungan jam) 2, 7

Hindari kesalahan umum: Jangan menunda terapi sambil menunggu diagnosis etiologi definitif, karena keterlambatan >2 minggu berhubungan dengan prognosis yang lebih buruk 1

References

Guideline

Treatment for Transverse Myelitis

Praxis Medical Insights: Practical Summaries of Clinical Guidelines, 2025

Research

Demyelinating disorders: update on transverse myelitis.

Current neurology and neuroscience reports, 2006

Guideline

Transverse Myelitis Clinical Presentation and Management

Praxis Medical Insights: Practical Summaries of Clinical Guidelines, 2025

Guideline

Diagnostic Approach to Transverse Myelitis

Praxis Medical Insights: Practical Summaries of Clinical Guidelines, 2025

Research

MRI in transverse myelitis.

Journal of magnetic resonance imaging : JMRI, 2014

Professional Medical Disclaimer

This information is intended for healthcare professionals. Any medical decision-making should rely on clinical judgment and independently verified information. The content provided herein does not replace professional discretion and should be considered supplementary to established clinical guidelines. Healthcare providers should verify all information against primary literature and current practice standards before application in patient care. Dr.Oracle assumes no liability for clinical decisions based on this content.

Have a follow-up question?

Our Medical A.I. is used by practicing medical doctors at top research institutions around the world. Ask any follow up question and get world-class guideline-backed answers instantly.