Kondisi yang Memerlukan Terapi Toxoplasmosis pada Pasien Retinitis
Semua pasien dengan retinitis toxoplasma yang imunokompromais (termasuk HIV/AIDS, terapi imunosupresan) harus mendapat terapi antiparasit segera, sedangkan pasien imunokompeten memerlukan terapi jika lesi mengancam penglihatan atau menimbulkan gejala aktif. 1
Pasien Imunokompromais
Indikasi Mutlak untuk Terapi
Semua pasien HIV/AIDS dengan retinitis toxoplasma harus diobati tanpa memandang lokasi lesi, karena risiko destruksi jaringan luas dan lesi multifokal sangat tinggi 1, 2
Pasien dengan imunodefisiensi tidak mengalami penyembuhan spontan seperti pada pasien imunokompeten, sehingga terapi seumur hidup diperlukan 3
Retinitis toxoplasma pada pasien imunokompromais jarang terjadi sebagai infeksi mata terisolasi—biasanya disertai infeksi SSP, sehingga pemeriksaan neurologis dan pencitraan otak wajib dilakukan 1, 4
Karakteristik Klinis yang Memerlukan Perhatian
Lesi bilateral dan multifokal sering ditemukan pada pasien AIDS, berbeda dengan pasien imunokompeten 5
Mayoritas lesi tidak muncul dari tepi jaringan parut lama, menunjukkan infeksi baru atau diseminasi dari tempat lain 2, 5
Reaksi vitritis minimal secara klinis, namun nekrosis retina dapat sangat luas 2, 5
Pasien Imunokompeten
Indikasi untuk Terapi
Terapi direkomendasikan untuk lesi aktif yang berlangsung 4-6 minggu, dilanjutkan minimal 1-2 minggu setelah resolusi klinis korioretinitis akut 1, 6
Lesi di area yang mengancam penglihatan (dekat makula atau nervus optikus) memerlukan terapi segera 6
Kortikosteroid sistemik hanya ditambahkan setelah 72 jam terapi antimikroba untuk menghindari proliferasi parasit 1
Alternatif untuk Lesi Non-Mengancam
Untuk lesi yang tidak di area mengancam penglihatan, kombinasi alternatif seperti pyrimethamine plus clindamycin atau azithromycin dapat dipertimbangkan 1, 6
Namun, tidak ada pengalaman sistematis yang dipublikasikan untuk opsi alternatif ini pada anak 6
Regimen Terapi Standar
Terapi Lini Pertama
Pyrimethamine (2 mg/kg/hari selama 3 hari, kemudian 1 mg/kg/hari) plus sulfadiazine (25-50 mg/kg/dosis empat kali sehari) plus leucovorin (10-25 mg/hari) adalah regimen pilihan 7, 8
Leucovorin (asam folinat) harus selalu diberikan bersamaan dengan pyrimethamine untuk mencegah supresi sumsum tulang 7, 8, 9
Jangan gunakan asam folat sebagai pengganti leucovorin 6
Durasi Terapi
Terapi akut dilanjutkan selama 4-6 minggu total, minimal 1-2 minggu setelah resolusi tanda klinis (penajaman batas lesi dan/atau pembentukan jaringan parut) 1, 6
Follow-up oftalmologi setiap 2-3 minggu wajib dilakukan selama terapi aktif untuk menentukan durasi optimal 1, 6
Pada pasien imunokompromais, terapi pemeliharaan seumur hidup diperlukan karena reaktivasi terjadi saat terapi dihentikan 5, 10
Pencegahan Rekurensi
Trimethoprim-sulfamethoxazole tiga kali seminggu selama 20 bulan mengurangi risiko rekurensi sebesar 75% (HR 0.25; 95% CI 0.08-0.75) 1
Azithromycin telah digunakan sebagai terapi supresi pada remaja dengan penyakit rekuren 1
Peringatan Penting
Kortikosteroid tidak boleh digunakan pada pasien imunokompromais karena dapat memicu perkembangan retinitis CMV 4
Pemeriksaan darah lengkap harus dilakukan minimal mingguan saat terapi pyrimethamine harian, dan minimal bulanan saat dosis kurang sering 8
Tes HIV direkomendasikan mengingat asosiasi dengan toxoplasmosis dan presentasi uveitis atipikal 1