Pendekatan Terbaik untuk Dukungan Inotropik dan Lusitropik pada Gagal Jantung
Untuk pasien gagal jantung yang memerlukan dukungan inotropik dan lusitropik, gunakan dobutamine (2-20 mcg/kg/menit) atau milrinone (0.375-0.75 mcg/kg/menit) hanya pada pasien dengan hipotensi simptomatik, hipoperfusi organ (kulit dingin, penurunan output urin, gangguan mental), atau syok kardiogenik dengan disfungsi sistolik berat yang terdokumentasi. 1
Indikasi Ketat untuk Terapi Inotropik
Inotropik harus diberikan HANYA pada kondisi berikut:
- Tekanan darah sistolik rendah (<90 mmHg) DENGAN tanda hipoperfusi organ (kulit dingin dan lembab, penurunan output urin, gangguan fungsi ginjal atau hati, perubahan status mental) 1
- Syok kardiogenik dengan kolaps hemodinamik progresif 1
- Kongesti atau edema paru yang refrakter terhadap diuretik dan vasodilator dosis optimal 1
- Terapi harus dikhususkan untuk pasien dengan ventrikel yang dilatasi dan hipokinetik 1
Peringatan Penting: Jangan gunakan inotropik berdasarkan angka tekanan darah saja—harus ada bukti output jantung rendah dengan hipoperfusi organ. 1
Pilihan Agen Inotropik Spesifik
Dobutamine (Pilihan Pertama untuk Kebanyakan Kasus)
- Mulai dengan 2-3 mcg/kg/menit tanpa bolus loading 1
- Titrasi bertahap berdasarkan respons klinis, dapat ditingkatkan hingga 15-20 mcg/kg/menit 1, 2
- Pada pasien yang menggunakan beta-blocker, dosis mungkin perlu ditingkatkan hingga 20 mcg/kg/menit untuk mengatasi blokade reseptor 1
- Bekerja melalui stimulasi reseptor β1 untuk meningkatkan kontraktilitas dan efek kronotropik 1
Milrinone (Alternatif dengan Efek Lusitropik Lebih Kuat)
- Bolus loading: 25-75 mcg/kg selama 10-20 menit (opsional, hindari pada pasien hipotensi) 1
- Infus maintenance: 0.375-0.75 mcg/kg/menit 1, 3
- Keunggulan lusitropik: Milrinone adalah inhibitor phosphodiesterase III yang meningkatkan relaksasi diastolik ventrikel kiri selain efek inotropik 3
- Tidak memerlukan reseptor β-adrenergik, sehingga efektif pada pasien dengan beta-blocker 1, 3
- Memiliki efek vasodilatasi arterial dan pulmonal 3
- Perhatian: Sesuaikan dosis pada gangguan fungsi ginjal, monitor fungsi hati 1, 3
Dopamine (Cadangan untuk Hipotensi Berat)
- Dosis rendah (2-3 mcg/kg/menit): Efek dopaminergik pada ginjal, tetapi data menunjukkan efek diuretik terbatas 1
- Dosis sedang (3-5 mcg/kg/menit): Efek inotropik melalui stimulasi β-adrenergik 1
- Dosis tinggi (>5 mcg/kg/menit): Efek vasopressor α-adrenergik, dapat meningkatkan afterload dan tekanan arteri pulmonal—berpotensi merugikan pada gagal jantung 1
Algoritma Penggunaan Berdasarkan Presentasi Klinis
Pasien dengan Kongesti + Output Rendah:
- Mulai dengan diuretik IV dan vasodilator (nitrogliserin 10-20 mcg/menit) 1
- Jika tetap ada tanda hipoperfusi meskipun terapi optimal → tambahkan dobutamine 2-3 mcg/kg/menit 1
- Jika pasien menggunakan beta-blocker kronis → pertimbangkan milrinone sebagai pilihan pertama 1, 3
Pasien dengan Syok Kardiogenik (TDS <90 mmHg + Hipoperfusi):
- Mulai dobutamine 2-3 mcg/kg/menit ATAU milrinone 0.375 mcg/kg/menit 1
- Jika hipotensi persisten → tambahkan dopamine dosis tinggi atau norepinephrine untuk support vasopressor 1
- Monitor invasif (kateter arteri) direkomendasikan untuk titrasi pada kasus berat 1
Monitoring Wajib Selama Terapi Inotropik
- Monitoring EKG kontinyu dan telemetri untuk deteksi aritmia (atrial dan ventrikel) 1
- Tekanan darah (invasif atau non-invasif) setiap 15-30 menit selama titrasi 1
- Pada pasien dengan atrial fibrilasi: dobutamine/dopamine dapat mempercepat konduksi AV dan menyebabkan takikardia 1
- Fungsi ginjal dan elektrolit harian 4
- Tanda-tanda perfusi organ (output urin, status mental, suhu ekstremitas) 1
Strategi Weaning dan Transisi ke Terapi Oral
Setelah stabilisasi klinis (biasanya 48-72 jam):
- Tapering bertahap dobutamine dengan penurunan 2 mcg/kg/menit setiap beberapa jam 1
- Optimalisasi terapi oral secara simultan (ACE inhibitor, beta-blocker, diuretik) 1
- Hati-hati dengan beta-blocker: Jangan inisiasi beta-blocker pada pasien yang masih memerlukan inotropik; tunggu hingga stabil minimal 4 hari setelah episode akut 1
- Observasi di rumah sakit minimal 48 jam setelah penghentian infus untuk memastikan stabilitas 1
Peringatan Kritis dan Jebakan Umum
BAHAYA—Hindari Kesalahan Ini:
- JANGAN berikan cairan IV pada pasien gagal jantung akut dengan hipotensi—hipotensi biasanya mencerminkan output jantung rendah, bukan hipovolemia 4
- JANGAN gunakan inotropik pada pasien tanpa disfungsi sistolik terdokumentasi atau tanpa tanda hipoperfusi—ini berpotensi membahayakan (Class III: Harm) 1
- JANGAN gunakan inotropik jangka panjang intermiten atau kontinyu di luar indikasi spesifik—meningkatkan risiko kematian 1, 2
Risiko Inotropik yang Harus Dipahami:
- Semua inotropik meningkatkan konsumsi oksigen miokard dan loading kalsium, berpotensi menyebabkan iskemia dan aritmia 1
- Agen yang bekerja melalui stimulasi reseptor β1-adrenergik (dobutamine, dopamine) memiliki risiko tertinggi 1
- Meskipun memperbaiki hemodinamik akut, inotropik tidak terbukti meningkatkan survival jangka panjang 1, 5
- Prognosis pasien yang memerlukan inotropik sangat buruk—diskusikan terapi lanjutan (transplantasi, mechanical circulatory support) atau perawatan paliatif 1
Indikasi Terbatas untuk Terapi Inotropik Jangka Panjang
Inotropik kontinyu jangka panjang HANYA dibenarkan untuk:
- Bridge therapy menuju transplantasi jantung atau mechanical circulatory support (MCS) 1
- Terapi paliatif untuk kontrol gejala pada pasien stage D yang tidak eligible untuk transplantasi atau MCS 1
- Bukan untuk: Terapi intermiten rawat jalan untuk mencegah rehospitalisasi—terbukti tidak efektif dan meningkatkan mortalitas 1, 2