What causes excessive daytime sleepiness in patients with a history of stroke?

Medical Advisory BoardAll articles are reviewed for accuracy by our Medical Advisory Board
Educational purpose only • Exercise caution as content is pending human review
Article Review Status
Submitted
Under Review
Approved

Last updated: January 11, 2026View editorial policy

Personalize

Help us tailor your experience

Which best describes you? Your choice helps us use language that's most understandable for you.

Mengapa Pasien Post-Stroke Selalu Mengantuk Sepanjang Hari?

Kantuk berlebihan di siang hari pada pasien post-stroke disebabkan oleh kombinasi multifaktorial yang meliputi gangguan tidur (terutama sleep apnea), fatigue post-stroke, depresi, kerusakan jaringan otak langsung, dan efek samping obat-obatan. 1

Mekanisme Utama Kantuk Post-Stroke

1. Gangguan Tidur (Sleep Disorders)

  • Sleep apnea adalah penyebab paling umum dan dapat diobati dari kantuk berlebihan pada pasien stroke, ditemukan pada lebih dari 50% pasien stroke 2, 3
  • Tiga gangguan tidur utama pada survivor stroke adalah sleep apnea, gangguan tidur malam hari, dan kantuk berlebihan di siang hari, dengan prevalensi 13.2% hingga 94.0% 1
  • Mekanisme penyebabnya bersifat multifaktorial dan dapat berbeda tergantung pada fase stroke 1
  • Sleep apnea obstruktif harus disingkirkan terlebih dahulu sebelum mendiagnosis gangguan hipersomnia primer 4

2. Fatigue Post-Stroke

  • Setidaknya separuh dari survivor stroke mengalami fatigue post-stroke, yang merupakan sekuel yang umum dan melemahkan 1
  • Pada fase awal pemulihan stroke, keparahan stroke dan disabilitas neurologis menyebabkan fatigue eksersional 1
  • Pada fase jangka panjang, depresi memainkan peran yang lebih penting dalam fatigue post-stroke 1
  • Fatigue post-stroke berdampak negatif pada aktivitas harian seperti penurunan partisipasi dalam aktivitas fisik dan rehabilitasi 1

3. Depresi Post-Stroke

  • Depresi umum terjadi setelah stroke dan berkontribusi pada kantuk berlebihan 1
  • Mekanisme yang diusulkan meliputi faktor psikososial (respons terhadap disabilitas baru dan isolasi sosial), gangguan tidur, dan faktor biologis (gangguan jaringan neural dan perubahan jalur serotonergik, noradrenergik, dan dopamin) 1
  • Hubungan antara fatigue post-stroke dan depresi sulit dievaluasi karena banyak alat penilaian depresi juga mengandung item tentang fatigue 1

4. Kerusakan Otak Langsung

  • Kerusakan otak per se, sering di tingkat talamus atau batang otak, dapat menjadi penyebab gangguan tidur-bangun yang persisten 2
  • Kondisi neurologis seperti stroke dapat menyebabkan hipersomnia sekunder yang berlangsung hampir setiap hari selama minimal 3 bulan 1
  • Kantuk pada pasien stroke berkorelasi positif dengan denyut jantung rata-rata dan durasi REM sleep, bukan dengan keparahan sleep apnea 5

5. Efek Obat-Obatan

  • Hipersomnia yang diinduksi obat adalah penyebab umum yang sering diabaikan, terutama pada pasien usia lanjut 4, 6
  • Obat-obatan yang harus diperiksa meliputi benzodiazepin, opioid, antihistamin, antidepresan tertentu, dan semua depresan SSP 4
  • Keluhan kantuk dapat berlangsung kurang dari 3 bulan dalam kasus hipersomnia akibat obat atau zat 1

Dampak Klinis

  • Fatigue post-stroke dilaporkan menyebabkan pemulihan neurologis yang buruk, penurunan kualitas hidup, dan peningkatan mortalitas 1
  • Gangguan tidur dikaitkan dengan outcome jangka panjang yang lebih buruk dan peningkatan mortalitas stroke jangka panjang 2
  • Kantuk berlebihan mengurangi kualitas hidup, fungsi kognitif, dan performa fungsional di siang hari pada survivor stroke 7

Pendekatan Evaluasi

Penilaian Awal

  • Lakukan pemeriksaan neurologis menyeluruh dan penilaian kognitif, karena hipersomnia dapat merepresentasikan penyakit neurodegeneratif dini 6
  • Gunakan Epworth Sleepiness Scale (ESS) untuk mengukur kantuk subjektif, dengan skor >9 menunjukkan kantuk berlebihan 3
  • Penting: ESS mungkin tidak seefektif sebagai penanda keberadaan atau keparahan sleep apnea pada pasien post-stroke dibandingkan populasi umum 5

Pemeriksaan Penunjang

  • Polisomnografi semalam wajib dilakukan untuk menyingkirkan sleep apnea dan kondisi pengganggu tidur lainnya 4
  • Pesan tes laboratorium dasar termasuk TSH, tes fungsi hati, hitung darah lengkap, dan kimia serum untuk mengidentifikasi penyebab sekunder yang dapat diobati 6
  • Pertimbangkan MRI otak untuk mengidentifikasi penyebab struktural, terutama lesi di talamus atau batang otak 6, 2

Algoritma Diagnostik

  1. Singkirkan sleep apnea terlebih dahulu - lakukan polisomnografi 4, 2, 3
  2. Tinjau semua obat-obatan - identifikasi dan kurangi agen penyedat jika memungkinkan 4, 6
  3. Optimalkan kondisi medis, neurologis, atau psikiatrik yang mendasari sebelum mengobati hipersomnia secara langsung 6
  4. Evaluasi untuk depresi - gunakan alat skrining yang sesuai 1
  5. Jika semua penyebab sekunder telah disingkirkan, pertimbangkan gangguan hipersomnia sentral primer 4

Pendekatan Terapi

Modifikasi Perilaku (Untuk Semua Pasien)

  • Pertahankan jadwal tidur-bangun yang teratur dengan waktu tidur nokturnal yang adekuat 6
  • Jadwalkan dua tidur siang singkat 15-20 menit, satu sekitar tengah hari dan lainnya sekitar pukul 16:00-17:00 1, 6
  • Hindari makanan berat sepanjang hari dan penggunaan alkohol 1, 6
  • Hindari pekerjaan shift, jadwal on-call, atau pekerjaan yang memerlukan perhatian terus-menerus untuk waktu lama 1, 6

Terapi Spesifik Berdasarkan Penyebab

Untuk Sleep Apnea:

  • Continuous positive airway pressure (CPAP) adalah terapi pilihan untuk sleep apnea obstruktif 2
  • Oksigen dan bentuk ventilasi lain dapat membantu pada bentuk sleep apnea sentral 2

Untuk Depresi:

  • Tangani depresi terlebih dahulu sebelum mengobati kantuk 2
  • Pertimbangkan antidepresan yang sesuai dengan profil efek samping yang minimal terhadap kantuk 1

Untuk Hipersomnia Persisten:

  • Modafinil adalah terapi lini pertama untuk kantuk berlebihan di siang hari 1, 6, 2
  • Dosis awal 100 mg sekali saat bangun di pagi hari, dapat ditingkatkan dengan interval mingguan sesuai kebutuhan 1, 6
  • Dosis tipikal berkisar 200-400 mg per hari 1
  • Reaksi merugikan paling umum adalah mual, sakit kepala, dan nervousness 1
  • Stimulan tradisional (amfetamin, metilfenidat) dapat dipertimbangkan sebagai alternatif 1, 2

Peringatan Penting

  • Jangan mengabaikan sleep apnea - ini adalah penyebab paling umum dan dapat diobati, tetapi sering terlewatkan 4, 2, 3
  • Tinjau obat-obatan dengan cermat - hipersomnia yang diinduksi obat sangat umum pada pasien stroke yang sering mengonsumsi banyak obat 4, 6
  • Kombinasi penggunaan metode penilaian subjektif dan objektif dapat meningkatkan deteksi gangguan tidur post-stroke dan terapi dini 1
  • Sleep apnea dapat membaik secara spontan setelah stroke, sehingga evaluasi ulang mungkin diperlukan 2
  • Fatigue dan kantuk adalah konstruk yang berbeda - fatigue tidak selalu berarti kantuk yang sebenarnya (propensitas tidur meningkat) 1

References

Guideline

Guideline Directed Topic Overview

Dr.Oracle Medical Advisory Board & Editors, 2025

Research

Sleep and stroke.

Seminars in neurology, 2005

Research

Causes of Excessive Daytime Sleepiness in Patients with Acute Stroke--A Polysomnographic Study.

Journal of stroke and cerebrovascular diseases : the official journal of National Stroke Association, 2016

Guideline

Excessive Daytime Sleepiness Despite Adequate Nocturnal Sleep

Praxis Medical Insights: Practical Summaries of Clinical Guidelines, 2025

Guideline

Evaluation and Treatment of Hypersomnia in Adults

Praxis Medical Insights: Practical Summaries of Clinical Guidelines, 2026

Professional Medical Disclaimer

This information is intended for healthcare professionals. Any medical decision-making should rely on clinical judgment and independently verified information. The content provided herein does not replace professional discretion and should be considered supplementary to established clinical guidelines. Healthcare providers should verify all information against primary literature and current practice standards before application in patient care. Dr.Oracle assumes no liability for clinical decisions based on this content.

Have a follow-up question?

Our Medical A.I. is used by practicing medical doctors at top research institutions around the world. Ask any follow up question and get world-class guideline-backed answers instantly.