Konsiderasi Anestesi pada Pasien dengan Systemic Lupus Erythematosus (SLE)
Pasien SLE memerlukan evaluasi pra-operatif menyeluruh terhadap keterlibatan organ multipel dan manajemen perioperatif yang hati-hati karena risiko komplikasi ginjal dan mortalitas yang meningkat secara signifikan. 1, 2
Evaluasi Pra-Operatif
Penilaian Keterlibatan Organ Spesifik
- Sistem kardiovaskular: Evaluasi untuk perikarditis, hipertensi, dan penyakit jantung koroner yang dipercepat, karena komplikasi kardiovaskular merupakan penyebab utama morbiditas 1, 3
- Sistem respirasi: Periksa adanya pneumonitis, efusi pleura, dan hipertensi pulmonal yang dapat mempengaruhi manajemen ventilasi 1
- Sistem ginjal: Fungsi ginjal harus dievaluasi secara menyeluruh karena SLE berhubungan dengan peningkatan risiko komplikasi ginjal pasca-operatif (odds ratio 1.33) 2
- Sistem hematologi: Periksa anemia, trombositopenia, dan kelainan koagulasi yang sering terjadi; evaluasi antibodi antifosfolipid untuk risiko trombosis 4, 1, 5
- Sistem saraf: Identifikasi riwayat meningitis aseptik, kejang, atau manifestasi neuropsikiatrik lainnya 4, 5
Pemeriksaan Laboratorium Baseline
- Hitung darah lengkap untuk mendeteksi anemia, trombositopenia, dan neutropenia 4, 1
- Fungsi ginjal (kreatinin, urinalisis) karena nefritis lupus meningkatkan risiko perioperatif 4, 2
- Profil koagulasi lengkap, terutama pada pasien dengan antibodi antifosfolipid 4
- Komplemen (C3, C4) dan autoantibodi (anti-dsDNA) untuk menilai aktivitas penyakit 4
- Skrining infeksi (HIV, HBV, HCV, tuberkulosis) sesuai faktor risiko, terutama sebelum pemberian imunosupresan 4
Evaluasi Terapi yang Sedang Berjalan
- Kortikosteroid: Pasien dengan terapi steroid jangka panjang memerlukan suplementasi steroid perioperatif untuk mencegah insufisiensi adrenal 4, 1
- Imunosupresan: Dokumentasi penggunaan azathioprine, mycophenolate mofetil, atau cyclophosphamide karena meningkatkan risiko infeksi 4, 3
- Antikoagulan: Pada pasien dengan sindrom antifosfolipid, rencanakan manajemen antikoagulasi perioperatif 4
Manajemen Intra-Operatif
Pemilihan Teknik Anestesi
- Baik anestesi umum maupun regional dapat digunakan dengan aman, pilihan bergantung pada jenis pembedahan dan kondisi pasien spesifik 1
- Anestesi regional harus dihindari pada pasien dengan trombositopenia berat (<80,000/mm³) atau koagulopati aktif 1, 5
- Pada pasien dengan riwayat meningitis aseptik atau manifestasi neurologis, pertimbangkan risiko-manfaat anestesi neuraksial dengan hati-hati 5
Agen Anestesi dan Obat Perioperatif
- Induksi: Propofol dapat digunakan dengan aman untuk induksi 1
- Pelumpuh otot: Rocuronium dan vecuronium lebih aman; hindari atracurium dan mivacurium karena pelepasan histamin 4
- Analgesik: Fentanyl atau remifentanil dapat digunakan; berhati-hati dengan morfin karena potensi pelepasan histamin 4, 1
- Anestesi lokal: Lidocaine dan bupivacaine aman digunakan 4
Monitoring Intra-Operatif
- Monitoring standar: tekanan darah, irama jantung, saturasi oksigen harus ketat untuk menghindari hipoksia 4
- Pertimbangkan monitoring tekanan vena sentral dan cardiac output untuk pembedahan mayor 4
- Ukur kehilangan darah secara akurat; ambang transfusi >15% kehilangan darah 4
- Monitor suhu tubuh secara ketat; hindari hipotermia yang dapat memicu komplikasi 4
Manajemen Cairan dan Hemodinamik
- Hindari hipotensi yang dapat memperburuk perfusi ginjal pada pasien dengan nefritis lupus 2
- Manajemen cairan yang cermat dengan pengukuran dan penggantian kehilangan cairan yang akurat 4
- Pertimbangkan monitoring output urin untuk pembedahan mayor 4
Manajemen Pasca-Operatif
Monitoring Pasca-Operatif
- Pasien dengan komorbiditas signifikan atau pembedahan berisiko tinggi memerlukan monitoring di unit perawatan intensif atau high-dependency unit 4
- Monitor saturasi oksigen secara kontinyu; berikan oksigen untuk mempertahankan SpO2 di atas baseline atau 96% (mana yang lebih tinggi) selama 24 jam 4
- Monitor suhu secara teratur karena demam dapat menjadi tanda awal infeksi atau aktivitas penyakit 4
Manajemen Nyeri
- Gunakan skala penilaian nyeri yang tervalidasi dan evaluasi ulang secara teratur 4
- Analgesik multimodal dengan kombinasi opioid dan non-opioid sesuai kebutuhan 4
- Jangan menahan analgesik karena nyeri dapat menjadi pemicu aktivasi penyakit 4
Pencegahan Komplikasi
- Tromboprofilaksis: Wajib untuk semua pasien pasca-pubertas karena peningkatan risiko trombosis vena dalam, terutama pada pasien dengan antibodi antifosfolipid 4
- Pencegahan infeksi: Ambil kultur darah jika suhu ≥38.0°C dan mulai antibiotik jika ada tanda sepsis 4
- Hidrasi: Lanjutkan cairan intravena sampai pasien dapat mentoleransi asupan oral yang adekuat; monitor keseimbangan cairan 4
- Mobilisasi dini: Dorong mobilisasi, fisioterapi, dan spirometri insentif setiap 2 jam setelah pembedahan sedang atau mayor 4
Peringatan Khusus dan Pitfall yang Harus Dihindari
- Risiko ginjal: SLE meningkatkan risiko komplikasi ginjal pasca-operatif secara signifikan; tindakan agresif untuk mencegah cedera ginjal perioperatif sangat penting 2
- Mortalitas: SLE berhubungan dengan peningkatan mortalitas in-hospital (odds ratio 1.27); pertahankan indeks kecurigaan tinggi untuk komplikasi 2
- Krisis adrenal: Jangan lupa suplementasi steroid pada pasien dengan terapi kortikosteroid kronis 1
- Aktivasi penyakit: Stres pembedahan dapat memicu flare lupus; pertimbangkan konsultasi dengan rheumatologist untuk optimalisasi terapi perioperatif 4, 3
- Interaksi obat: Waspadai interaksi antara obat anestesi dan imunosupresan yang sedang digunakan pasien 3