Faktor Presipitasi Ensefalopati Hepatikum pada Sirosis: Urutan Berdasarkan Frekuensi
Berdasarkan studi PREDICT yang merupakan penelitian prospektif terbesar, infeksi bakteri dan hepatitis alkoholik berat adalah dua faktor presipitasi tunggal tersering pada ensefalopati hepatikum, sementara di populasi Asia (khususnya China) flare hepatitis B menempati urutan teratas bersama infeksi bakteri. 1
Urutan Faktor Presipitasi Berdasarkan Frekuensi dari Penelitian
1. Infeksi Bakteri (34-64%)
- Studi PREDICT mengidentifikasi infeksi bakteri terbukti sebagai presipitan tunggal tersering pada populasi Barat 1
- Penelitian di ICU menunjukkan infeksi ditemukan pada 64% pasien 2
- Studi kohort lain melaporkan infeksi sebagai faktor presipitasi pada 49.2% kasus 3
- Spontaneous bacterial peritonitis adalah jenis infeksi paling sering pada ensefalopati akut, sedangkan infeksi saluran kemih lebih sering pada ensefalopati kronik 4
- Infeksi bakteri ditemukan pada 34.8% kasus ensefalopati kronik dan 34.7% kasus ensefalopati akut 4
2. Gangguan Elektrolit (41-63%)
- Acute kidney injury ditemukan pada 63% pasien di ICU 2
- Ketidakseimbangan elektrolit (termasuk hipokalemia) terjadi pada 41% kasus 3
- Hiponatremia ditemukan pada 22% pasien 2
- Hiponatremia dengan cut-off <130 mmol/L merupakan faktor risiko independen untuk ensefalopati hepatikum 1
3. Hepatitis Alkoholik Berat
- Studi PREDICT mengidentifikasi hepatitis alkoholik berat sebagai salah satu dari dua presipitan tunggal tersering (bersama infeksi bakteri) 1
- Kombinasi tersering adalah hepatitis alkoholik berat yang terjadi bersamaan dengan infeksi bakteri terbukti 1
4. Obat-obatan (41%)
- Obat-obatan yang menyebabkan ensefalopati akut ditemukan pada 41% pasien 2
- Obat penyebab ensefalopati tidak pernah ditemukan sebagai presipitan tunggal, selalu dikombinasi dengan presipitan lain 1
- Obat-obatan spesifik yang dapat menyebabkan ensefalopati: proton pump inhibitor, antibiotik (piperacillin/tazobactam, meropenem, ciprofloxacin, norfloxacin, metronidazole), antijamur (fluconazole), dan sedatif (opioid, benzodiazepin) 1
5. Perdarahan Gastrointestinal (16-36%)
- Perdarahan gastrointestinal ditemukan pada 36% pasien di ICU 2
- Penelitian lain melaporkan perdarahan GI pada 16% kasus 3
- Studi PREDICT menemukan perdarahan gastrointestinal dengan syok hanya pada 2% (6 dari 273 pasien) sebagai presipitan tunggal 1
- Meskipun frekuensinya bervariasi, perdarahan GI tetap merupakan faktor presipitasi mayor yang harus dicari 1, 5
6. Konstipasi (33%)
- Konstipasi dilaporkan pada 33.33% kasus dalam satu studi 3
- Konstipasi sangat jarang ditemukan (hanya 1%) dalam studi ICU 2
- Pedoman Korea dan Prancis mencantumkan konstipasi sebagai faktor presipitasi penting 1, 5
7. TIPS (12%)
- TIPS ditemukan sebagai faktor presipitasi pada 12% pasien 2
8. Flare Hepatitis B Virus
- Di China, flare infeksi HBV merupakan presipitan utama ACLF bersama infeksi bakteri 1
- Kriteria diagnostik untuk flare HBV telah ditetapkan dalam pedoman EASL 1
9. Hepatitis E Virus
- Infeksi hepatitis E virus diidentifikasi sebagai presipitan yang harus dicari secara sistematis 1
Temuan Penting tentang Kombinasi Faktor Presipitasi
82% pasien memiliki multiple faktor presipitasi yang terjadi bersamaan, dan jumlah presipitan memiliki nilai prognostik mayor. 2
- Pasien dengan dua atau lebih presipitan memiliki risiko kematian 90 hari lebih tinggi dibanding pasien dengan satu presipitan atau tanpa presipitan yang teridentifikasi 1
- Kombinasi tersering adalah hepatitis alkoholik berat dengan infeksi bakteri terbukti 1
- Faktor presipitasi dapat diidentifikasi pada 75.4% kasus ensefalopati kronik dan 97.3% episode ensefalopati akut 4
Perbedaan Regional yang Penting
- Populasi Barat: Infeksi bakteri dan hepatitis alkoholik berat adalah presipitan tersering 1
- Populasi Asia (China): Flare HBV dan infeksi bakteri adalah presipitan utama 1
- Korea: Perdarahan gastrointestinal, infeksi, dehidrasi akibat parasentesis, dan konstipasi adalah faktor presipitasi mayor 1
Implikasi Klinis
Systematic workup untuk mengidentifikasi faktor presipitasi harus dilakukan pada setiap pasien dengan ensefalopati hepatikum, karena kontrol faktor presipitasi menghasilkan perbaikan gejala pada sekitar 90% kasus. 1, 5