What is the recommended regimen for using dexmedetomidine and lidocaine in an otherwise healthy adult female patient undergoing a total hysterectomy as part of a general anesthesia regimen?

Medical Advisory BoardAll articles are reviewed for accuracy by our Medical Advisory Board
Educational purpose only • Exercise caution as content is pending human review
Article Review Status
Submitted
Under Review
Approved

Last updated: January 14, 2026View editorial policy

Personalize

Help us tailor your experience

Which best describes you? Your choice helps us use language that's most understandable for you.

Regimen Deksmedetomidine dan Lidokain untuk Anestesi Umum pada Histerektomi Total

Untuk pasien wanita dewasa sehat yang menjalani histerektomi total dengan anestesi umum, lidokain intravena (bolus 1,5 mg/kg selama 10 menit diikuti infus 1,5 mg/kg/jam) dikombinasikan dengan deksmedetomidine (bolus 0,5 µg/kg selama 10 menit diikuti infus 0,4 µg/kg/jam) memberikan kontrol nyeri pascaoperasi superior dan mengurangi konsumsi opioid, meskipun kombinasi ini meningkatkan risiko hipotensi, bradikardia, dan sedasi berlebihan yang memerlukan monitoring ketat. 1, 2

Regimen yang Direkomendasikan

Protokol Kombinasi Lidokain-Deksmedetomidine

Dosis Lidokain:

  • Bolus loading: 1,5 mg/kg diberikan selama 10 menit sebelum induksi anestesi 1, 2
  • Infus maintenance: 1,5 mg/kg/jam hingga jahitan terakhir 3, 1

Dosis Deksmedetomidine:

  • Bolus loading: 0,5 µg/kg diberikan selama 10 menit sebelum induksi anestesi 1, 2
  • Infus maintenance: 0,4 µg/kg/jam hingga akhir prosedur 1, 2

Bukti Keunggulan Kombinasi

Kombinasi lidokain-deksmedetomidine menunjukkan hasil superior dibandingkan penggunaan tunggal atau kontrol:

  • Skor nyeri VAS: Secara signifikan lebih rendah pada 1,4,8,12, dan 24 jam pascaoperasi dibandingkan kelompok lain 1
  • Konsumsi fentanyl pascaoperasi: Berkurang signifikan pada 1,4,8,12,24, dan 48 jam pascaoperasi 1
  • Pemulihan fungsi usus: Waktu bising usus dan flatus pertama lebih cepat 1
  • PONV (mual-muntah): Insiden nausea dan PONV pada 0-2 jam pascaoperasi lebih rendah (5,0% dan 8,3%) dibandingkan kontrol (21,7% dan 28,3%) 2

Pertimbangan Keamanan dan Efek Samping

Efek Kardiovaskular yang Harus Diwaspadai

Kombinasi lidokain-deksmedetomidine meningkatkan risiko:

  • Bradikardia: Terjadi pada 30% pasien dengan kombinasi vs 1,7% pada kontrol 2
  • Hipotensi: Memerlukan vasopresor lebih sering, terutama dengan deksmedetomidine 3
  • Mulut kering: 28,3% pada kombinasi vs 1,7% pada kontrol 2
  • Sedasi berlebihan: 35% pada kombinasi vs 3% pada kontrol selama periode PACU 2

Monitoring yang Diperlukan

  • Tekanan darah non-invasif setiap 15 menit selama pemberian 4
  • Heart rate kontinyu untuk deteksi bradikardia 4, 5
  • Akses vaskular harus dipertahankan selama prosedur dan hingga pasien tidak berisiko depresi kardiorespirasi 4
  • Siapkan atropin untuk manajemen bradikardia 6
  • Siapkan vasopresor untuk manajemen hipotensi 3

Kontraindikasi dan Peringatan

Gunakan dengan sangat hati-hati atau hindari pada:

  • Penyakit jantung berat, gangguan konduksi, atau abnormalitas irama 4, 5
  • Pasien dengan kecenderungan bradikardia atau hipotensi 5
  • Blok AV atau sinus arrest yang sudah ada 5

Manajemen Anestesi Lengkap

Komponen Anestesi Umum

Deksmedetomidine TIDAK boleh digunakan sebagai agen tunggal untuk induksi atau intubasi karena tidak memberikan amnesia yang diperlukan dan harus dikombinasikan dengan agonis GABA seperti propofol atau benzodiazepin 4

Regimen induksi yang tepat:

  • Fentanyl atau remifentanil untuk analgesia 4
  • Propofol untuk induksi dan amnesia 4
  • Lidokain dan deksmedetomidine sebagai adjuvan dimulai sebelum induksi 1, 2

Reduksi Kebutuhan Anestesi Intraoperatif

Kombinasi lidokain-deksmedetomidine mengurangi:

  • Konsumsi propofol intraoperatif 1
  • Konsumsi remifentanil intraoperatif secara signifikan 1, 2
  • Kebutuhan sevoflurane hingga 30% 7

Manajemen Nyeri Pascaoperasi

Analgesia Dasar (Wajib)

Meskipun menggunakan lidokain-deksmedetomidine, tetap berikan analgesia dasar:

  • Parasetamol: 1000 mg setiap 6 jam (oral atau IV) minimal 48 jam 8, 9
  • NSAID: Ibuprofen 400-600 mg setiap 6-8 jam atau diklofenak 50-75 mg setiap 8-12 jam 8, 9
  • Deksametason IV: 8 mg dosis tunggal setelah delivery untuk efek analgesik dan antiemetik tambahan 8, 9

Opioid Rescue

  • Oksikodon 5-10 mg oral setiap 4-6 jam PRN untuk nyeri breakthrough (VAS >4/10) 9
  • Morfin PCA sebagai cadangan 3

Keuntungan Tambahan Kombinasi

Selain analgesia, kombinasi ini memberikan:

  • Pencegahan menggigil pascaanestesi (terjadi pada 15,6% dengan deksmedetomidine vs 46,7% tanpa deksmedetomidine) 6
  • Reduksi agitasi saat emergence 8
  • Penurunan insiden PONV total 24 jam (33,3% vs 60% pada kontrol) 2
  • Efek opioid-sparing yang signifikan 3, 1

Peringatan Penting untuk Praktik Klinis

Jangan gunakan deksmedetomidine pascaoperasi IV karena bukti yang bertentangan dan potensi komplikasi serius tanpa monitoring yang tepat 5

Titrasi individual diperlukan: Meskipun dosis standar efektif, setiap komponen harus dititrasi untuk mencapai efek yang diinginkan sambil meminimalkan efek samping kardiovaskular 4

Persiapan emergensi: Selalu siapkan atropin untuk bradikardia dan vasopresor untuk hipotensi sebelum memulai infus 3, 6

Professional Medical Disclaimer

This information is intended for healthcare professionals. Any medical decision-making should rely on clinical judgment and independently verified information. The content provided herein does not replace professional discretion and should be considered supplementary to established clinical guidelines. Healthcare providers should verify all information against primary literature and current practice standards before application in patient care. Dr.Oracle assumes no liability for clinical decisions based on this content.

Have a follow-up question?

Our Medical A.I. is used by practicing medical doctors at top research institutions around the world. Ask any follow up question and get world-class guideline-backed answers instantly.