CT Scan Tanpa Kontras untuk Follow-Up Pankreatitis Autoimun
CT scan tanpa kontras TIDAK cukup untuk follow-up pankreatitis autoimun, terutama pada pasien dengan riwayat keterlibatan saluran empedu atau yang mendapat terapi imunosupresan jangka panjang seperti azathioprine atau mycophenolate mofetil.
Mengapa Kontras Diperlukan untuk Follow-Up
Deteksi perubahan parenkim pankreas memerlukan kontras. Studi retrospektif menunjukkan bahwa CT dengan kontras mendeteksi keterlibatan parenkim pada 62,5% pasien, sedangkan CT tanpa kontras hanya mendeteksi 1,4% kasus 1. Perbedaan sensitivitas yang sangat besar ini (hampir 45 kali lipat) membuat CT tanpa kontras tidak dapat diandalkan untuk menilai aktivitas penyakit.
Komplikasi serius dapat terlewatkan tanpa kontras. Penelitian menunjukkan 4,6% pasien memiliki abses renal yang terlewatkan pada CT tanpa kontras dan hanya terdeteksi dengan CT kontras 1. Selain itu, kondisi ekstrarenal akut seperti kolesistitis, abses hati, dan apendisitis juga terlewatkan pada pemeriksaan tanpa kontras 1.
Protokol Imaging yang Direkomendasikan
MRI dengan kontras dan MRCP adalah modalitas pilihan untuk follow-up pankreatitis autoimun. ACR Appropriateness Criteria menyatakan bahwa MRI abdomen dengan dan tanpa kontras IV dengan MRCP adalah pemeriksaan yang paling sesuai untuk evaluasi dan follow-up lesi pankreas 1. MRI lebih sensitif daripada CT untuk mendeteksi metastasis hati kecil (10-23% kasus yang tidak terlihat pada CT) dan memberikan informasi morfologi superior 1.
Jika MRI tidak tersedia atau kontraindikasi, gunakan CT dual-phase dengan kontras. Protokol CT pankreas harus mencakup fase arterial lambat dan fase portal venous 1. Gradien atenuasi antara tumor dan parenkim pankreas sekitarnya lebih besar pada fase pankreatik, dan fase ini paling baik untuk deteksi lesi 1.
Pertimbangan Khusus untuk Gangguan Fungsi Ginjal
Pada pasien dengan gangguan fungsi ginjal, MRI tanpa kontras dengan MRCP lebih disukai daripada CT tanpa kontras. ACR menyatakan bahwa MRI lebih disukai pada pasien dengan alergi kontras iodinasi, gangguan ginjal, atau pasien muda/hamil 2. MRI tanpa kontras masih dapat memberikan informasi anatomi duktus pankreatikus melalui sekuens MRCP 1.
Kontroversi penggunaan kontras pada MRI follow-up. Beberapa sumber menyebutkan bahwa MRI tanpa kontras memiliki perbedaan kecil dalam kemampuan mendeteksi perubahan displastik dibandingkan dengan studi kontras 1. Namun, penggunaan kontras IV memungkinkan deteksi stigmata risiko tinggi seperti nodul mural yang mengalami enhancement 1.
Monitoring Khusus untuk Pankreatitis Autoimun dengan Keterlibatan Bilier
Pasien dengan keterlibatan saluran empedu memerlukan surveillance ketat karena risiko relaps tinggi. Pasien dengan alterasi duktus empedu ekstrahepatik proksimal dan intrahepatik memiliki tingkat relaps yang jauh lebih tinggi setelah penghentian terapi 3. Tingkat relaps mencapai 57% pada pasien dengan pankreatitis autoimun/kolangitis terkait IgG4, dibandingkan 0% pada pankreatitis autoimun terisolasi 4.
Imaging (MRCP atau CT) harus dilakukan setiap tahun atau jika gejala berulang untuk menilai progresivitas striktur bilier. Society of Abdominal Radiology merekomendasikan monitoring rutin dengan imaging untuk mendeteksi perubahan pada saluran empedu 3. MRI menunjukkan sensitivitas 93% untuk mendeteksi keterlibatan saluran empedu pada diagnosis awal 5.
Peringatan Penting
Jangan mengandalkan CT tanpa kontras untuk menilai respons terapi atau deteksi relaps. Akurasi fase nefrografik untuk diagnosis pankreatitis autoimun adalah 90-92%, tetapi ini memerlukan kontras 1. Tanpa kontras, perubahan parenkim yang halus yang mengindikasikan aktivitas penyakit atau relaps tidak akan terdeteksi.
Risiko contrast-induced nephropathy mungkin lebih rendah dari yang diperkirakan sebelumnya. Bukti terkini menunjukkan bahwa risiko ini mungkin telah dilebih-lebihkan 2. Namun, pada pasien dengan gangguan ginjal berat, pertimbangkan MRI tanpa kontras dengan MRCP sebagai alternatif yang lebih baik daripada CT tanpa kontras.
Hindari CT scan berulang yang terlalu sering. CT scan berulang meningkatkan paparan radiasi dan sering memiliki efek terbatas pada pengambilan keputusan selanjutnya 2. Interval follow-up umumnya berkisar 6 bulan hingga setiap 2 tahun untuk minimal 5-10 tahun, tergantung pada faktor risiko pasien 1.