Alternatif NSAID untuk Selulitis Selain Ibuprofen
Untuk pasien dengan selulitis yang memerlukan manajemen nyeri sebagai tambahan antibiotik, naproxen 500 mg dua kali sehari atau diklofenak 50 mg tiga kali sehari dapat dipertimbangkan sebagai alternatif ibuprofen, meskipun bukti untuk penggunaan NSAID sebagai terapi adjuvan pada selulitis masih terbatas dan kontroversial.
Bukti Penggunaan NSAID pada Selulitis
Efektivitas NSAID sebagai Terapi Adjuvan
Meta-analisis terbaru menunjukkan bahwa NSAID oral sebagai terapi adjuvan dapat mempercepat respons klinis awal pada hari ke-3 (risk ratio 1.81,95%CI 1.42-2.31), namun manfaat ini tidak bertahan melampaui 4-5 hari 1
Studi pilot tahun 2005 menunjukkan bahwa ibuprofen 400 mg setiap 6 jam selama 5 hari mempercepat regresi inflamasi (82.8% vs 9.1% dalam 1-2 hari) dan resolusi lengkap selulitis (semua pasien dalam 4-5 hari vs 30.3% memerlukan ≥6 hari) 2
Namun, uji klinis acak terkontrol double-blind yang lebih besar (2017) tidak menemukan perbedaan signifikan antara ibuprofen 400 mg tiga kali sehari versus plasebo pada regresi inflamasi 48 jam (80% vs 65%, p >0.05) 3
Heterogenitas Data dan Interpretasi
Terdapat heterogenitas tinggi (I² = 96%) pada data hari ke-5, menunjukkan inkonsistensi hasil antar studi 1
Tidak ada perbedaan dalam kesembuhan klinis (clinical cure) pada semua titik waktu hingga 22 hari antara kelompok NSAID dan kontrol 1
Efek samping dilaporkan jarang terjadi, dengan tidak ada pasien yang mengalami gangguan ginjal atau fasciitis nekrotikans dalam studi ibuprofen 3
Alternatif NSAID yang Dapat Dipertimbangkan
Pilihan NSAID Lain
Meskipun literatur spesifik tentang selulitis terbatas pada ibuprofen, NSAID lain dengan profil anti-inflamasi serupa dapat dipertimbangkan untuk manajemen nyeri:
Naproxen: 500 mg dua kali sehari - memiliki durasi kerja lebih panjang dibanding ibuprofen, memungkinkan frekuensi pemberian lebih jarang
Diklofenak: 50 mg tiga kali sehari - NSAID non-selektif dengan efek anti-inflamasi kuat
Celecoxib: 200 mg dua kali sehari - COX-2 selektif dengan profil gastrointestinal lebih baik untuk pasien dengan risiko tinggi
Pertimbangan Klinis Penting
Pedoman IDSA menyebutkan kortikosteroid sistemik (prednison 40 mg sehari selama 7 hari) dapat dipertimbangkan pada pasien dewasa non-diabetes, meskipun buktinya terbatas 4
Jangan gunakan kortikosteroid pada pasien diabetes karena dapat memperburuk kontrol glikemik 4, 5
NSAID harus digunakan dengan hati-hati pada pasien dengan penyakit ginjal kronis, riwayat ulkus peptikum, atau yang menggunakan antikoagulan
Fokus Utama Tetap pada Terapi Antibiotik
Terapi Antibiotik Lini Pertama
Beta-laktam monoterapi adalah standar perawatan untuk selulitis tipikal tanpa komplikasi, dengan tingkat keberhasilan 96% 4, 6
Pilihan oral meliputi: sefaleksin 500 mg setiap 6 jam, dikloksasilin 250-500 mg setiap 6 jam, atau amoksisilin 4, 5
Durasi pengobatan adalah 5 hari jika terjadi perbaikan klinis, perpanjangan hanya jika gejala tidak membaik 4, 5
Kapan Menambahkan Cakupan MRSA
Cakupan MRSA TIDAK diperlukan secara rutin untuk selulitis tipikal non-purulen 4, 6
Tambahkan cakupan MRSA hanya jika ada: trauma penetrasi, drainase purulen, penggunaan obat intravena, atau kolonisasi MRSA yang diketahui 4, 5
Pilihan untuk cakupan MRSA: klindamisin 300-450 mg setiap 6 jam (monoterapi), atau kombinasi trimetoprim-sulfametoksazol/doksisiklin plus beta-laktam 4, 5
Tindakan Adjuvan Penting
Elevasi ekstremitas yang terkena untuk mempromosikan drainase gravitasi edema - sering diabaikan namun sangat penting 4, 5
Obati kondisi predisposisi seperti tinea pedis, insufisiensi vena, limfedema, dan obesitas 4, 5
Periksa ruang interdigital kaki untuk tinea pedis, fisura, atau maserasi 4, 5
Kesimpulan Praktis
Untuk manajemen nyeri pada selulitis, fokus utama harus pada antibiotik yang tepat dan elevasi ekstremitas. Jika NSAID diperlukan untuk nyeri, naproxen atau diklofenak dapat digunakan sebagai alternatif ibuprofen, namun dengan pemahaman bahwa bukti manfaat NSAID sebagai terapi adjuvan masih kontroversial dan efeknya mungkin minimal setelah beberapa hari pertama 3, 1. Hindari penggunaan kortikosteroid pada pasien diabetes 4, 5.