What is the relationship between depression and motor symptom severity in patients with early Parkinson's disease?

Medical Advisory BoardAll articles are reviewed for accuracy by our Medical Advisory Board
Educational purpose only • Exercise caution as content is pending human review
Article Review Status
Submitted
Under Review
Approved

Last updated: January 21, 2026View editorial policy

Personalize

Help us tailor your experience

Which best describes you? Your choice helps us use language that's most understandable for you.

Hubungan Depresi dengan Keparahan Motorik pada Parkinson Dini

Depresi pada penyakit Parkinson dini memiliki hubungan yang signifikan dengan keparahan gejala motorik yang lebih buruk, dengan setiap peningkatan keparahan depresi berkorelasi dengan skor UPDRS yang lebih tinggi, fungsi motorik yang lebih lemah, dan penurunan kemampuan aktivitas sehari-hari. 1, 2, 3

Bukti Hubungan Langsung

Penelitian terbaru menunjukkan bahwa depresi secara independen memprediksi keparahan motorik pada pasien Parkinson:

  • Keparahan gejala motorik (skor MDS UPDRS Part III) merupakan faktor independen yang berhubungan dengan depresi dengan odds ratio 2.69 (p=0.004), menunjukkan bahwa pasien dengan gejala motorik lebih berat memiliki risiko 2.69 kali lebih tinggi mengalami depresi 2

  • Setiap peningkatan tingkat depresi berkorelasi dengan memburuknya skor UPDRS, staging Hoehn & Yahr, dan fungsi aktivitas sehari-hari (semua p<0.001), menunjukkan hubungan linear antara keparahan depresi dan disfungsi motorik 1

  • Pasien Parkinson dengan depresi mayor menunjukkan peningkatan keparahan penyakit, fungsi motorik yang lebih buruk, dan performa aktivitas sehari-hari yang lebih lemah dibandingkan pasien tanpa depresi yang dicocokkan berdasarkan usia onset dan durasi penyakit 3

Gejala Motorik Spesifik yang Terdampak

Depresi tidak mempengaruhi semua gejala motorik secara merata:

  • Bradikinesia dan rigiditas aksial memiliki asosiasi khusus dengan depresi, dengan rigiditas berkontribusi paling besar terhadap penurunan kualitas hidup 3, 4

  • Gejala motorik selain tremor berkorelasi signifikan dengan skor kualitas hidup yang lebih rendah pada pasien dengan depresi 4

  • Tremor tidak menunjukkan korelasi signifikan dengan tingkat depresi, berbeda dengan gejala motorik kardinal lainnya 4

Mekanisme Patofisiologi pada Fase Dini

Perubahan sirkuit neural terjadi bahkan sebelum onset gejala motorik:

  • Pada fase pre-klinis dan pre-motorik, sudah terdapat perubahan struktural dan fungsional di substantia nigra, ganglia basalis, dan struktur limbik yang terkait dengan proses patologis yang sama antara Parkinson dan depresi 5

  • Sirkuit limbik ganglia basalis dan habenula lateral berperan kunci dalam genesis dini depresi pada Parkinson, dengan kerusakan sistem monoaminergik yang berkorelasi dengan munculnya gangguan emosional 5

  • Depresi dapat muncul bahkan satu dekade sebelum onset gejala motorik, menunjukkan bahwa perubahan neurodegenatif yang mendasari depresi dimulai sangat dini dalam perjalanan penyakit 5

Dampak terhadap Kualitas Hidup dan Fungsi

Depresi memiliki dampak yang lebih besar terhadap kualitas hidup dibandingkan gejala motorik:

  • Keparahan gejala depresi total (skor QIDS-C16) berkontribusi paling besar terhadap skor kualitas hidup, bahkan melebihi kontribusi gejala motorik 4

  • Anhedonia merupakan gejala depresi spesifik yang paling berkontribusi terhadap penurunan kualitas hidup, diikuti oleh rigiditas sebagai gejala motorik 4

  • Status nutrisi berkorelasi terbalik dengan kualitas hidup, terutama pada domain mobilitas dan kesejahteraan emosional, dengan depresi sebagai prediktor malnutrisi 6, 7

  • Depresi mengurangi kemampuan pasien untuk berpartisipasi aktif dalam terapi rehabilitasi, memperpanjang pemulihan, dan memprediksi pasien yang tidak menunjukkan perbaikan status fungsional 6, 8

Implikasi Klinis Penting

Skrining dan Deteksi Dini

  • Prevalensi depresi pada Parkinson mencapai 31.8% (95% CI: 4.36-5.40), namun hanya setengah dari pasien dengan depresi ringan hingga sedang-berat yang menerima antidepresan, menunjukkan underdiagnosis dan undertreatment yang signifikan 1, 2

  • Risiko depresi meningkat 16% untuk setiap peningkatan 1 poin pada skor NMSS dan 5% untuk setiap peningkatan 1 poin pada skor PDQ-39, memberikan parameter kuantitatif untuk identifikasi risiko 1

  • Pasien harus diskrining secara rutin dan hati-hati untuk depresi, terutama mereka yang menunjukkan perubahan pada gejala motorik atau non-motorik 1, 2

Pertimbangan Terapi

  • Jika terdapat kekhawatiran signifikan tentang risiko depresi pada pasien yang menjalani DBS, stimulasi GPi harus dipertimbangkan daripada stimulasi STN, karena bukti Class I menunjukkan GPi DBS memiliki risiko depresi lebih rendah 7, 6, 8

  • Monitoring nutrisi penting karena status nutrisi berkorelasi terbalik dengan kualitas hidup dan mobilitas, dengan penilaian nutrisi dan vitamin harus dilakukan minimal tahunan 7, 8

Peringatan Klinis

  • Jangan mengabaikan gejala depresi ringan pada Parkinson dini, karena dapat memprediksi progresivitas gejala motorik dan penurunan fungsi yang lebih cepat 1, 2, 3

  • Perempuan memiliki risiko independen lebih tinggi untuk depresi (OR=1.830, p=0.05), sehingga memerlukan perhatian khusus dalam skrining 2

  • Depresi dapat mendahului gejala motorik hingga 10 tahun, sehingga gejala depresi pada individu berisiko harus dievaluasi sebagai kemungkinan manifestasi pre-motorik Parkinson 5

Professional Medical Disclaimer

This information is intended for healthcare professionals. Any medical decision-making should rely on clinical judgment and independently verified information. The content provided herein does not replace professional discretion and should be considered supplementary to established clinical guidelines. Healthcare providers should verify all information against primary literature and current practice standards before application in patient care. Dr.Oracle assumes no liability for clinical decisions based on this content.

Have a follow-up question?

Our Medical A.I. is used by practicing medical doctors at top research institutions around the world. Ask any follow up question and get world-class guideline-backed answers instantly.