Mengapa LDH dan Bilirubin Diperiksa pada Anemia dengan Retikulosit Rendah?
LDH dan bilirubin adalah penanda hemolisis yang esensial untuk membedakan anemia akibat destruksi sel darah merah (hemolisis) dari anemia akibat gangguan produksi sumsum tulang, terutama ketika jumlah retikulosit tidak sesuai dengan derajat anemia. 1, 2
Patofisiologi dan Patogenesis
Mekanisme Peningkatan LDH
- LDH meningkat karena pelepasan enzim intraseluler saat sel darah merah mengalami destruksi (hemolisis), baik intravaskular maupun ekstravaskular 2, 3
- LDH adalah enzim yang terdapat dalam konsentrasi tinggi di eritrosit, sehingga hemolisis menyebabkan peningkatan kadar serum 3
- Namun perlu diingat, 25% kasus anemia hemolitik autoimun dapat memiliki kadar LDH normal, sehingga LDH normal tidak menyingkirkan hemolisis 4
Mekanisme Peningkatan Bilirubin
- Bilirubin tidak terkonjugasi (indirek) meningkat akibat degradasi hemoglobin dari eritrosit yang dihancurkan 5, 2, 3
- Pada defisiensi piruvat kinase, bilirubin tidak terkonjugasi biasanya meningkat tetapi jarang melebihi 5 mg/dL 5
- Peningkatan bilirubin indirek mencerminkan beban katabolisme heme yang meningkat 3
Kegunaan Diagnostik
Dalam Konteks Retikulosit Rendah/Normal
- Kombinasi anemia dengan retikulosit rendah/normal PLUS LDH dan bilirubin tinggi menunjukkan hemolisis dengan respons sumsum tulang yang inadekuat 1, 2
- Ini mengarahkan pada kemungkinan:
Dalam Konteks Retikulosit Tinggi
- Retikulosit tinggi dengan LDH dan bilirubin meningkat mengkonfirmasi hemolisis aktif dengan respons sumsum tulang yang adekuat 2, 6, 3
- Ini menyingkirkan defisiensi nutrisi sebagai penyebab primer 1, 2
Diagnosis yang Dapat Ditegakkan
Dengan Penanda Hemolisis Positif (LDH↑, Bilirubin↑)
- Anemia hemolitik autoimun - ditambah dengan Direct Coombs test positif 2, 4, 7
- Defisiensi enzim eritrosit (piruvat kinase, G6PD) - memerlukan pemeriksaan aktivitas enzim 5
- Membranopati herediter (sferositosis herediter) - memerlukan tes EMA binding 3
- Hemoglobinopati (penyakit sel sabit, thalassemia, Hb H) - memerlukan elektroforesis hemoglobin 6, 3
- Hemolisis mekanik - pada pasien dengan katup jantung prostetik 3
- Paroxysmal nocturnal hemoglobinuria (PNH) - memerlukan flow cytometry 3
Dengan Penanda Hemolisis Negatif (LDH Normal, Bilirubin Normal)
- Anemia defisiensi besi - ferritin rendah, saturasi transferin rendah 5, 2
- Anemia defisiensi B12/folat - MCV tinggi 5
- Anemia penyakit kronik/inflamasi - ferritin normal/tinggi, CRP tinggi 1, 2
- Anemia pada penyakit ginjal kronik - defisiensi eritropoietin 5
- Kegagalan sumsum tulang primer - memerlukan pemeriksaan sumsum tulang 5, 1
Algoritma Pemeriksaan Penunjang Tambahan
Jika LDH dan Bilirubin Meningkat
- Periksa haptoglobin (paling sensitif untuk hemolisis) - akan menurun 2, 3
- Apusan darah tepi untuk morfologi eritrosit 5, 2, 3
- Direct Coombs test untuk menyingkirkan hemolisis autoimun 2, 3
- Status besi (feritin, saturasi transferin) untuk menyingkirkan defisiensi besi yang menyertai 5, 2
Jika LDH dan Bilirubin Normal
- Feritin serum dan saturasi transferin untuk evaluasi status besi 5, 1
- CRP untuk menilai inflamasi 1, 2
- Fungsi ginjal (kreatinin, eGFR) 2
- Vitamin B12 dan folat jika MCV tinggi 5
Peringatan Klinis Penting
- Jangan mengabaikan kemungkinan hemolisis hanya karena LDH normal - 25% kasus AIHA memiliki LDH normal 4
- Retikulosit "normal" mungkin tidak adekuat pada pasien anemia - hitung reticulocyte index untuk koreksi terhadap derajat anemia 1, 2
- Transfusi darah baru-baru ini dapat mengaburkan hasil pemeriksaan enzim eritrosit - tunggu minimal 50 hari setelah transfusi 5
- Kombinasi etiologi sering terjadi - anemia dan kelainan elektrolit mungkin tidak berhubungan 2
- Pemeriksaan harus komprehensif - LDH dan bilirubin harus diinterpretasikan bersama dengan hitung darah lengkap, retikulosit, dan parameter besi 5, 1, 2