What is the mechanism of levofloxacin (a fluoroquinolone antibiotic) in causing insomnia?

Medical Advisory BoardAll articles are reviewed for accuracy by our Medical Advisory Board
Educational purpose only • Exercise caution as content is pending human review
Article Review Status
Submitted
Under Review
Approved

Last updated: January 27, 2026View editorial policy

Personalize

Help us tailor your experience

Which best describes you? Your choice helps us use language that's most understandable for you.

Mekanisme Levofloksasin Menyebabkan Insomnia

Levofloksasin menyebabkan insomnia melalui efek toksisitas langsung pada sistem saraf pusat (SSP), yang terjadi pada sekitar 0,5% pasien, dengan mekanisme yang melibatkan gangguan neurotransmitter dan peningkatan arousal SSP. 1

Mekanisme Neurologi yang Mendasari

Fluorokuinolon, termasuk levofloksasin, memiliki kemampuan untuk menembus sawar darah-otak dan menyebabkan berbagai efek SSP 2. Mekanisme spesifik meliputi:

  • Gangguan reseptor GABA: Fluorokuinolon dapat menghambat reseptor GABA (gamma-aminobutyric acid) di SSP, yang merupakan neurotransmitter inhibitori utama. Penghambatan ini menyebabkan peningkatan eksitabilitas neuronal dan gangguan tidur 3

  • Stimulasi SSP langsung: Levofloksasin dapat menyebabkan berbagai manifestasi neuropsikiatrik termasuk insomnia, pusing, tremor, dan sakit kepala melalui stimulasi langsung sistem saraf pusat 1, 2

Profil Efek Samping Neurologis

Levofloksasin memiliki spektrum efek samping SSP yang relatif rendah dibandingkan fluorokuinolon lain, namun tetap signifikan secara klinis:

  • Insiden insomnia: Terjadi pada 0,5% pasien yang menerima levofloksasin 1

  • Efek SSP lainnya: Termasuk pusing, tremor, sakit kepala, dan dalam kasus yang jarang terjadi, dapat menyebabkan halusinasi, psikosis, dan reaksi ansietas akut 3, 4

  • Perbandingan dengan fluorokuinolon lain: Levofloksasin, ofloksasin, dan moksifloksasin dilaporkan memiliki potensi terendah untuk menyebabkan efek samping SSP di antara fluorokuinolon yang tersedia 2

Faktor Risiko yang Meningkatkan Toksisitas SSP

Beberapa kondisi meningkatkan risiko insomnia dan efek SSP lainnya:

  • Disfungsi ginjal: Pasien dengan klirens kreatinin <50 mL/menit berisiko lebih tinggi karena 80% levofloksasin dieliminasi melalui ginjal tanpa perubahan 1, 5

  • Akumulasi obat: Tanpa penyesuaian dosis pada gangguan ginjal, kadar plasma meningkat dan memperpanjang waktu paruh eliminasi (normalnya 6-8 jam), meningkatkan paparan SSP 5

  • Interaksi obat: Simetidin dan probenesid menurunkan klirens renal levofloksasin dan meningkatkan waktu paruh, yang dapat memperburuk efek SSP 5

Pertimbangan Klinis Penting

  • Onset cepat: Efek SSP dapat terjadi segera setelah pemberian, dengan konsentrasi puncak plasma dicapai dalam 1-2 jam setelah pemberian oral 5

  • Penetrasi SSP: Meskipun penetrasi ke cairan serebrospinal relatif rendah (sekitar 16% dari nilai plasma simultan), levofloksasin tetap dapat menyebabkan efek SSP yang signifikan 5

  • Reversibilitas: Insomnia dan efek SSP lainnya umumnya reversibel setelah penghentian obat 6, 3

Peringatan untuk Praktik Klinis

Hindari kesalahan umum berikut:

  • Jangan abaikan keluhan insomnia: Meskipun insidennya rendah (0,5%), efek ini nyata dan dapat memerlukan penghentian obat 1

  • Monitor pasien dengan gangguan ginjal: Sesuaikan dosis menjadi 750-1000 mg tiga kali seminggu jika klirens kreatinin <50 mL/menit untuk mengurangi risiko toksisitas SSP 1, 7

  • Pertimbangkan alternatif: Pada pasien dengan riwayat gangguan tidur atau kondisi neuropsikiatrik, pertimbangkan antibiotik alternatif jika memungkinkan secara klinis 6

References

Guideline

Adverse Effects of Levofloxacin

Praxis Medical Insights: Practical Summaries of Clinical Guidelines, 2026

Research

The clinical pharmacokinetics of levofloxacin.

Clinical pharmacokinetics, 1997

Guideline

Guideline Directed Topic Overview

Dr.Oracle Medical Advisory Board & Editors, 2025

Guideline

Contraindications and Precautions for Levofloxacin Use

Praxis Medical Insights: Practical Summaries of Clinical Guidelines, 2025

Professional Medical Disclaimer

This information is intended for healthcare professionals. Any medical decision-making should rely on clinical judgment and independently verified information. The content provided herein does not replace professional discretion and should be considered supplementary to established clinical guidelines. Healthcare providers should verify all information against primary literature and current practice standards before application in patient care. Dr.Oracle assumes no liability for clinical decisions based on this content.

Have a follow-up question?

Our Medical A.I. is used by practicing medical doctors at top research institutions around the world. Ask any follow up question and get world-class guideline-backed answers instantly.