Rangkuman Tatalaksana Hiperglikemia pada Pasien 65 Tahun
Untuk pasien 65 tahun dengan hiperglikemia tanpa data HbA1c, mulai terapi kombinasi metformin plus agonis reseptor GLP-1 atau inhibitor SGLT2, dengan target glukosa yang lebih longgar (HbA1c 7,5-8,0%) untuk menghindari hipoglikemia. 1, 2
Target Glikemik untuk Pasien Lansia
- Target HbA1c 7,5-8,0% direkomendasikan untuk sebagian besar pasien lansia dengan diabetes, karena kontrol intensif (<7,0%) meningkatkan risiko hipoglikemia dan mortalitas pada populasi ini 3, 2
- Untuk pasien lansia yang sehat dengan status fungsional baik dan komorbiditas minimal, target HbA1c 7,0-7,5% dapat dipertimbangkan 2
- Hindari target HbA1c <6,5% pada lansia karena bahaya terapi intensif melebihi manfaatnya, terutama pada mereka dengan harapan hidup terbatas 3, 2
Strategi Terapi Awal
Terapi Lini Pertama: Metformin
- Metformin harus menjadi fondasi terapi kecuali kontraindikasi (eGFR <30 mL/menit), dengan dosis dimulai 500 mg sekali atau dua kali sehari, ditingkatkan bertahap hingga 2000-2550 mg/hari 1, 4
- Metformin menurunkan HbA1c sebesar 1,12% sebagai monoterapi dan memiliki profil keamanan terbaik dengan risiko hipoglikemia minimal 4
- Gunakan formulasi extended-release jika terjadi efek samping gastrointestinal atau untuk meningkatkan kepatuhan dengan dosis sekali sehari 5
Penambahan Agen Kedua
Pilih berdasarkan komorbiditas:
- Jika ada penyakit kardiovaskular aterosklerotik atau risiko tinggi: tambahkan agonis reseptor GLP-1 (liraglutide, semaglutide, dulaglutide) yang terbukti memberikan manfaat kardiovaskular 1, 6
- Jika ada gagal jantung atau penyakit ginjal kronik: tambahkan inhibitor SGLT2 (empagliflozin, dapagliflozin, canagliflozin) yang mengurangi hospitalisasi gagal jantung dan memperlambat progresivitas penyakit ginjal 3, 6
- Agonis GLP-1 menurunkan HbA1c sebesar 2,5-3,1% dan menyebabkan penurunan berat badan, keuntungan penting pada pasien lansia 1
- Inhibitor SGLT2 menurunkan HbA1c sekitar 2% dan memberikan manfaat kardiorenal independen dari kontrol glikemik 2, 6
Pertimbangan Sulfonilurea
- Hindari atau kurangi sulfonilurea (glimepiride, glyburide) pada lansia karena merupakan penyebab keempat terbanyak kunjungan ruang gawat darurat akibat efek samping obat pada pasien >65 tahun, terutama hipoglikemia 1
- Jika biaya menjadi pertimbangan utama dan sulfonilurea sudah digunakan, pilih glipizide dengan dosis konservatif (2,5 mg/hari) karena metabolisme hepatik mengurangi risiko dibanding glyburide 3
- Pertimbangkan menghentikan sulfonilurea setelah agonis GLP-1 atau inhibitor SGLT2 dititrasi, karena kontribusi minimalnya dengan risiko hipoglikemia substansial 1
Monitoring dan Penyesuaian
Pemantauan Glukosa
- Lakukan pemeriksaan glukosa kapiler sebelum makan dan sebelum tidur untuk mendeteksi hipoglikemia asimtomatik dan nokturnal, terutama pada pasien dengan penurunan fungsi kognitif 3
- Periksa HbA1c setiap 3 bulan sampai target tercapai, kemudian setiap 6 bulan 3
- Pada pasien dengan eGFR <30 mL/menit, HbA1c menjadi kurang akurat, pertimbangkan monitoring glukosa yang lebih sering 3, 2
Penyesuaian Dosis Insulin (jika diperlukan)
- Jika terapi oral gagal mencapai target, mulai insulin basal (glargine, detemir, degludec) dengan dosis awal 10 unit atau 0,1-0,2 unit/kg sebelum tidur 3
- Pada pasien lansia dengan CKD stadium 3, kurangi dosis insulin basal 25-30% untuk mencegah hipoglikemia 3
- Untuk pasien dengan CKD stadium 5, kurangi total dosis harian insulin 35-50% karena penurunan klirens renal dan glukoneogenesis 3
Peringatan Khusus untuk Lansia
Pencegahan Hipoglikemia
- Faktor risiko hipoglikemia pada lansia yang dirawat: gagal ginjal, sepsis, malnutrisi, albumin rendah, dan demensia 3
- Pasien lansia mengalami kegagalan mekanisme regulasi, terutama penurunan pelepasan glukagon dan epinefrin sebagai respons terhadap hipoglikemia 3
- Hipoglikemia dapat menyebabkan jatuh, fraktur, dan kejadian kardiak pada lansia dengan status jantung yang rapuh 3
Penyesuaian Fungsi Ginjal
- Periksa fungsi ginjal sebelum memulai inhibitor SGLT2 (hindari jika eGFR <30 mL/menit) atau menyesuaikan metformin 1
- Metformin: jangan mulai jika eGFR 30-45 mL/menit, hentikan jika eGFR <30 mL/menit 3
- Inhibitor DPP-4 memerlukan penyesuaian dosis berdasarkan fungsi ginjal: sitagliptin 25 mg/hari jika eGFR <30, saxagliptin 2,5 mg/hari jika eGFR ≤45, linagliptin tidak perlu penyesuaian 3
Algoritma Keputusan Klinis
Langkah 1: Mulai metformin 500 mg sekali atau dua kali sehari dengan makanan, tingkatkan bertahap setiap 1-2 minggu hingga 2000 mg/hari atau dosis maksimal yang ditoleransi 4
Langkah 2: Evaluasi komorbiditas dalam 2-4 minggu:
- Penyakit kardiovaskular/risiko tinggi → tambahkan agonis GLP-1 1, 6
- Gagal jantung/CKD → tambahkan inhibitor SGLT2 2, 6
- Tidak ada komorbiditas mayor + keterbatasan biaya → pertimbangkan sulfonilurea dosis rendah 3
Langkah 3: Periksa HbA1c setelah 3 bulan:
- Jika HbA1c masih >8,0% → tambahkan agen ketiga atau mulai insulin basal 3, 6
- Jika HbA1c 7,5-8,0% → pertahankan terapi saat ini 2
- Jika HbA1c <7,0% dengan hipoglikemia → kurangi atau hentikan sulfonilurea, pertimbangkan deintensifikasi 3
Langkah 4: Monitor berkelanjutan: