Tatalaksana Kaki Kaku Bekas Stroke Infark
Rekomendasi Utama
Untuk spastisitas tungkai bawah pasca stroke infark, injeksi toksin botulinum yang ditargetkan ke otot-otot tungkai bawah merupakan terapi lini pertama yang direkomendasikan untuk mengurangi spastisitas yang mengganggu fungsi berjalan. 1
Algoritma Tatalaksana Bertahap
Langkah 1: Terapi Non-Farmakologis (Wajib untuk Semua Pasien)
Sebelum memulai terapi farmakologis, lakukan pendekatan non-farmakologis sebagai dasar terapi: 2
- Positioning antispastik - posisikan tungkai untuk mencegah kontraktur 2
- Latihan rentang gerak (range of motion) - lakukan secara rutin untuk mempertahankan fleksibilitas 2
- Stretching teratur - regangkan otot-otot spastik 2
- Splinting atau serial casting - untuk mempertahankan posisi fungsional 2
Langkah 2: Terapi Farmakologis Lini Pertama
Toksin Botulinum (Injeksi Lokal):
- Indikasi: Spastisitas fokal pada tungkai bawah yang mengganggu pola berjalan 1
- Keunggulan: Lebih efektif dan lebih ditoleransi dibanding baclofen oral untuk spastisitas fokal 2
- Bukti: Penelitian menunjukkan toksin botulinum meningkatkan fungsi pada pasien yang dipilih dengan tepat 3
- Kombinasi dengan terapi: Harus dikombinasikan dengan terapi rehabilitasi untuk hasil optimal 4
Langkah 3: Terapi Farmakologis Lini Kedua (Jika Spastisitas Generalisata)
Jika spastisitas melibatkan banyak kelompok otot atau generalisata, pertimbangkan agen oral: 1, 2
Baclofen Oral:
- Dosis awal: 5-10 mg/hari, titrasi perlahan 2, 5
- Dosis target: 30-80 mg/hari dibagi 3-4 dosis 2
- Peringatan: Dapat menyebabkan sedasi yang membatasi dosis 1
- Kontraindikasi relatif: Gangguan fungsi ginjal (mulai dengan dosis terendah 5 mg/hari) 2
- Jangan hentikan mendadak: Risiko sindrom putus obat yang mengancam jiwa termasuk kejang, halusinasi, delirium 2
Tizanidine (Alternatif):
- Dosis awal: 2 mg hingga 3 kali sehari 5
- Keunggulan: Tolerabilitas lebih baik, terutama kelemahan otot lebih sedikit dibanding baclofen 2
- Durasi kerja: Obat kerja pendek, cocok untuk aktivitas spesifik yang memerlukan pengurangan spastisitas 6
Dantrolene:
- Mekanisme: Bekerja langsung pada otot skeletal 5
- Peringatan Penting: Black box warning untuk hepatotoksisitas fatal (0,1-0,2% pasien) 5
- Monitoring: Diperlukan pemantauan fungsi hati 7
Langkah 4: Terapi untuk Spastisitas Berat Refrakter
Baclofen Intratekal:
- Indikasi: Spastisitas berat yang tidak responsif terhadap dosis maksimal baclofen oral 2
- Waktu: Dapat dipertimbangkan sejak 3-6 bulan pasca stroke untuk pasien refrakter 1
- Efektivitas: >80% pasien mengalami perbaikan tonus otot, >65% mengalami perbaikan spasme 2
- Dosis: Hanya 10% dari dosis sistemik yang diperlukan untuk efek ekuianalgesik 2
- Risiko Kritis: Penghentian mendadak dapat menyebabkan sindrom putus obat yang mengancam jiwa dengan demam tinggi, perubahan status mental, spastisitas rebound 2
Langkah 5: Opsi Bedah (Pilihan Terakhir)
Untuk kasus yang sangat refrakter, prosedur neurosurgical seperti selective dorsal rhizotomy atau dorsal root entry zone lesion dapat dipertimbangkan 2
Peringatan Penting dan Jebakan Klinis
Yang Harus Dihindari:
- Benzodiazepine (diazepam): TIDAK direkomendasikan selama periode pemulihan stroke karena efek merugikan pada pemulihan 1, 2
- Splint dan taping: TIDAK direkomendasikan untuk pencegahan spastisitas pergelangan tangan dan jari pasca stroke 1
Pertimbangan Khusus:
- Spastisitas dapat bermanfaat: Pada beberapa pasien hemiplegik, spastisitas otot ekstensor membantu menopang tungkai bawah seperti pilar kaku, memungkinkan berjalan meskipun ada kelemahan otot berat 8
- Faktor yang memperburuk: Selalu cari dan obati faktor pemicu seperti luka tekan, impaksi feses, infeksi saluran kemih, batu kandung kemih 8
- Evaluasi komponen neural vs non-neural: Dalam 3-4 minggu, perubahan struktural dan mekanik otot berkontribusi pada hipertonia, mempengaruhi pilihan terapi 8
Monitoring dan Follow-up
- Evaluasi fungsi: Gunakan skala seperti Modified Ashworth Scale untuk spastisitas, goniometri untuk rentang gerak 3
- Waktu evaluasi: Beri waktu 4-8 minggu pada dosis maksimal yang ditoleransi sebelum menyatakan kegagalan terapi 2
- Kombinasi modalitas: Hasil terbaik dicapai ketika terapi farmakologis dikombinasikan dengan rehabilitasi fisik 8, 9