Tatalaksana Nefrolitiasis Ginjal Kanan 0,3 cm
Untuk batu ginjal berukuran 3 mm yang asimtomatik, observasi aktif dengan pemantauan berkala merupakan pilihan tatalaksana yang paling tepat, sementara untuk batu yang simtomatik, terapi medis ekspulsif (MET) atau intervensi bedah dapat dipertimbangkan berdasarkan gejala klinis. 1
Algoritma Tatalaksana Berdasarkan Status Klinis
Jika Pasien Asimtomatik dan Tidak Ada Obstruksi
- Observasi aktif dengan pemantauan imaging berkala adalah pendekatan yang direkomendasikan untuk batu ginjal asimtomatik dan tidak obstruktif hingga ukuran 15 mm 1
- Pemantauan ulang dapat menggunakan foto polos KUB, ultrasonografi ginjal/kandung kemih, atau CT scan dengan pendekatan yang disesuaikan untuk membatasi paparan radiasi 2
- Batu berukuran 3 mm memiliki kemungkinan tinggi untuk keluar secara spontan tanpa intervensi 3
Jika Pasien Simtomatik (Nyeri, Hematuria, atau Gejala Lain)
- Terapi medis ekspulsif (MET) dengan alpha-blocker merupakan terapi lini pertama untuk batu ureter distal ≤10 mm yang tidak terkomplikasi 3
- NSAID adalah pilihan pertama untuk manajemen nyeri 3
- Jika observasi dengan atau tanpa MET tidak berhasil setelah 4-6 minggu, atau jika pasien/klinisi memutuskan untuk intervensi lebih awal berdasarkan keputusan bersama, terapi definitif harus ditawarkan 2
Pilihan Intervensi Bedah (Jika Diperlukan)
Untuk batu ginjal simtomatik dengan beban batu total ≤20 mm:
- Shock Wave Lithotripsy (SWL) atau Ureteroscopy (URS) dapat ditawarkan sebagai terapi lini pertama 2
- SWL memiliki morbiditas paling rendah dan tingkat komplikasi terendah, namun URS memiliki stone-free rate yang lebih tinggi dalam satu prosedur (90% untuk URS versus 72% untuk SWL) 2
- Pasien harus diberitahu bahwa SWL adalah prosedur dengan morbiditas paling rendah, tetapi URS memiliki tingkat bebas batu yang lebih tinggi dalam satu prosedur 2
Indikasi Intervensi Mendesak (Harus Dikenali)
Drainase sistem koleksi secara mendesak dengan stent atau nefrostomi WAJIB dilakukan pada kondisi berikut:
- Batu obstruktif dengan kecurigaan infeksi atau sepsis 2, 1, 4
- Obstruksi pada ginjal tunggal atau obstruksi bilateral 4
- Nyeri yang tidak terkontrol meskipun sudah diberikan analgesik adekuat 1
Tunda terapi batu definitif hingga infeksi terkontrol dengan antibiotik yang sesuai 1, 4
Pencegahan Rekurensi
Modifikasi Gaya Hidup dan Diet
- Asupan cairan yang tinggi (2,5-3,0 L/hari) dengan target diuresis >2,0-2,5 L/hari adalah strategi pencegahan paling penting untuk semua jenis batu 5
- Konsumsi kalsium yang cukup (1000-1200 mg/hari) dari makanan, terutama saat makan untuk mengikat oksalat di saluran cerna 2
- Batasi asupan natrium hingga 2-3 gram NaCl per hari (100 mEq atau 2.300 mg natrium) 2, 5
- Batasi protein hewani hingga 0,8-1,0 g/kg berat badan/hari 2, 5
- Untuk batu kalsium oksalat dengan hiperoksaluria, batasi makanan kaya oksalat sambil mempertahankan konsumsi kalsium normal 2
Terapi Farmakologis (Jika Ada Indikasi)
- Diuretik thiazide (hydrochlorothiazide 25 mg oral 2x/hari atau 50 mg 1x/hari) direkomendasikan untuk pasien dengan hiperkalsiuria dan batu kalsium rekuren 2
- Suplementasi kalium (kalium sitrat atau klorida) mungkin diperlukan saat terapi thiazide digunakan 2
Peringatan Penting dan Pitfall yang Harus Dihindari
- Jangan menunda rujukan urologi lebih dari 4-6 minggu jika manajemen konservatif gagal, karena obstruksi komplit di luar jangka waktu ini berisiko menyebabkan cedera ginjal ireversibel 2, 4
- Jangan mengabaikan tanda-tanda infeksi pada batu obstruktif—ini merupakan kedaruratan urologis 2, 1, 4
- Suplementasi kalsium (berbeda dengan kalsium dari makanan) dapat meningkatkan risiko pembentukan batu dan sebaiknya dihindari kecuali ada indikasi khusus 2
- Analisis komposisi batu adalah wajib untuk memandu strategi pencegahan 1
Pemantauan dan Follow-up
- Imaging ulang diperlukan untuk memantau pertumbuhan atau pergerakan batu, terutama jika pasase batu dicurigai 2
- Evaluasi metabolik direkomendasikan pada pasien berisiko tinggi (riwayat keluarga batu, ginjal tunggal, malabsorpsi atau penyakit intestinal) 3
- Tingkat rekurensi batu mencapai 50% dalam 5 tahun pertama setelah episode batu awal, sehingga pencegahan jangka panjang sangat penting 6